Hanya bisa Aslama/berserah diri pada Allah saja …..mimpiku terwujud atau tidak !??…..walau aku sangat berharap pada Allah = mimpiku akan NYATA terjadi -----(karena mimpiku adalah hidupku sekarang ini, mimpiku adalah BAHAGIAku sekarang ini,…mimpiku yang bisa membuatku merasakan apa itu NIKMAT hidup, senangnya hidup, bersyukur dg Allah diberi penglihatan MASA DEPANku setelah mati = NIKMAT dari ALLAH terbesar yg kurasakan selama aku hidup di dunia ini)---------- hidup di jannah dg wajah super sempurna tampan, ganteng dan tubuh sangat sempurna (menurutku) ------ diberi bidadari yang sangat cantik sekali dan tubuh sangat sempurna menurutku… (di dunia saja Risalah hatiku/bidadariku sudah sangat CANTIK BANGET .. apalagi di jannah !!)… aku hanya berusaha berSYUKUR pada Allah, dg RAHMAT-Nya yang jarang sekali diberikan pada manusia lain ….. diberi DREAM sangat baik sekali ….. sesuai KEINGINANku …wallahua’lam ...... ==== <<>>> ====

Hanya bisa Aslama/berserah diri pada Allah saja …..mimpiku terwujud atau tidak !??…..walau aku sangat berharap pada Allah = mimpiku akan NYATA terjadi -----(karena mimpiku adalah hidupku sekarang ini, mimpiku adalah BAHAGIAku sekarang ini,…mimpiku yang bisa membuatku merasakan apa itu NIKMAT hidup, senangnya hidup, bersyukur dg Allah diberi penglihatan MASA DEPANku setelah mati = NIKMAT dari ALLAH terbesar yg kurasakan selama aku hidup di dunia ini)---------- hidup di jannah dg wajah super sempurna tampan, ganteng dan tubuh sangat sempurna (menurutku) ------ diberi bidadari yang sangat cantik sekali dan tubuh sangat sempurna menurutku… (di dunia saja Risalah hatiku/bidadariku sudah sangat CANTIK BANGET .. apalagi di jannah !!)… aku hanya berusaha berSYUKUR pada Allah, dg RAHMAT-Nya yang jarang sekali diberikan pada manusia lain ….. diberi DREAM sangat baik sekali ….. sesuai KEINGINANku …wallahua’lam

dikira hidup setelah mati itu,.. MUDAH ....; dikira  hidup setelah mati,.. ENAK ... ke surga .. dapat bidadari/bidadara .... rumah/istana surga ..... GAK ngapa-ngapain dalam menolong Allah ... lalu dg MUDAH dapat surga !!!?? ....... full stupid !

============ wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong anakku/bayiku”= Risalah hatiku/Ten The Lightku ========

..............“wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong anakku/bayiku”….. wanita yang sangat kuCINTAi di dunia ini,(aku tidak tahu mengapa aku sangat cinta sekali padanya, hanya KEHENDAK ALLAH saja, yg kupahami)

 profil wajah FBku pertama umur sebelum 30 tahun..tampak samping kiri ..... wallahua'lam

......... “wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong bayiku/anakku” = bidadariku dunia akhirat

............. “wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong bayiku/anakku” = belahan hatiku, jantung hatiku

wajah di my dream jannah, umur lebih 30 tahun ... tampak dari depan .... wallahua'lam

............. wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong bayiku/anakku” = wanita/gadis/perempuan yang selalu ada di mimpiku ...... mimpi jannahku ...wallahua'lam

E-Gojira tampak dari samping kanan ... +/- 30 tahun ..wallahua'lam

------ Dari dulu bertahun-tahun lalu ……. ------------ Aku hanya merasakan/membayangkan/penggambaran cinta seorang wanita yg bersamaku selamanya…… yang sangat CINTA sekali padaku dan akupun sangat cinta sekali padanya ……. --------------------Di mulai dari menikah di dekat telaga …… hidup selalu berdua kemanapun…….. BAHAGIA sekali ….. -----------------------------setelah waktu yang lama di karunia seorang anak laki-laki yg kupanggil dg panggilan ANAK KECIL (karena lahir dg cepat lalu menjadi anak-anak seumur anak SD (belum baligh), …… dan anak itu memanggilku Papa, dan aku selalu mengantarnya kemanapun yang dia inginkan dan sering bertiga dg Risalah hati-ku/ten the light-ku (dg kecepatan kilat) ……. Anak itu sering sekali dipeluk dan dicium oleh Risalah hati-ku ……. -----------------Aku yg selalu mengantarnya jika dia BELAJAR ke suatu tempat …. Sambil berkata “sampai sini saja Pa, aku bisa jalan sendiri kok” …… jika sudah waktunya pulang, anakku berkata”jemput aku pa” (telepati connection menurut pemahamanku) …… secepat kilat aku menjemputnya dan beberapa detik sudah sampai di rumahku {future house/istana) …… lalu anak laki-laki disambut ibunya (Risalah Hati-ku/ten the light-ku) dg dipeluk dan diciuminya berkali-kali …..-------------------------------- luapan cinta seorang ibu (bidadariku, risalah hatiku) pada anaknya (anak kecil) <<<< ----itulah mengapa aku sangat BAHAGIA sekali, ketika dia/Risalah hatiku/ten the lightku “menggendong anakku” = seperti  dream/kasyaf yg diperlihatkan padaku di masa depan ….. = aku dan risalah hatiku mempunyai ANAK di masa depan (jannah) …….----- >>>>  Sampai aku terbangun, lalu kucari mengapa di jannah bisa punya anak? Dan mengapa anak yg belum baligh masih harus belajar? ….. baru aku paham peristiwa itu sudah dijelaskan di hadits nabi. …….  WALLAHUA’LAM.

=============================

aku sangat BAHAGIA sekali, ketika dia/Risalah hatiku/ten the lightku “menggendong anakku” = seperti  dream/kasyaf yg diperlihatkan padaku di masa depan ….. = aku dan risalah hatiku mempunyai ANAK di masa depan (jannah)...wallahua'lam

======================================

Di mulai dari menikah di dekat telaga …… hidup selalu berdua kemanapun…….. BAHAGIA sekali ….. -----------------------------setelah waktu yang lama di karunia seorang anak laki-laki yg kupanggil dg panggilan ANAK KECIL (karena lahir dg cepat lalu menjadi anak-anak seumur anak SD (belum baligh), …… dan anak itu memanggilku Papa, dan aku selalu mengantarnya kemanapun yang dia inginkan dan sering bertiga dg Risalah hati-ku/ten the light-ku (dg kecepatan kilat)

aku dan Risalah hatiku dikaruniai Allah  anak laki-laki di jannah...wallahua'lam

diberi DREAM sangat baik sekali ….. sesuai KEINGINANku ..... Bersama kemanapun .. dimanapun … tanpa pernah BOSAN, tetap selalu DEKAT dan selalu merasakan BAHAGIA jika dekat.-

aku hanya berusaha berSYUKUR pada Allah, dg RAHMAT-Nya yang jarang sekali diberikan pada manusia lain ...

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahuanhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda,
 
الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ ، كَمَا يَشْتَهِي
 
“Seorang mukmin itu bila sangat menginginkan anak (namun tidak mendapatkannya), di surga ia akan mengandungnya, menyusuinya dan tumbuh besar dalam sekejap, sebagaimana ia menginginkannya.” (HR. Tirmidzi, no. 2563; Ibnu Majah, no. 4338. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
 
 
seseorang akan mendapatkan apa yang ia inginkan termasuk kerinduan mendapatkan anak. Dalam ayat disebutkan,
 
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
 
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)
 
bagaimana seandainya penghuni surga menginginkan seorang anak. Apakah keinginan itu mungkin terwujud? Jika ia, apakah proses untuk memiliki seroang anak sama seperti ketika di dunia? Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mari kita telaah hadist dari sahabat Abi Sa’id Al-Khudri di bawah ini.
 
الْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ حَمْلُهُ وَوَضْعُهُ وَسِنُّهُ فِي سَاعَةٍ كَمَا يَشْتَهِي
 
“Seorang mukmin jika menginginkan anak di surga, maka kehamilannya, kelahirannya dan pertumbuhannya dalam sesaat sebagaimana yang ia inginkan” (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah)
 
Kebolehan memiliki anak ketika penghuni surga menginginkannya adalah hak penghuni surga yang sudah dijamin oleh Allah lewat firman-Nya dalam surat az-zukhruf ayat 71 diatas. Pertanyaannya kemudian, apakah penghuni surga menginginkan seorang anak di surga? Imam Al-Qurtubi dalam mukhtashor tazkirotul qurtubi (201), cet. Hakikat Kitabevi, berkata :
 
وقد اختلف العلماء في هذا فقال بعضهم ان في الجنة جماعا ولا يكون منه ولد وبه قال مجاهد وطاوس وابراهم النخعي
 
“Dan sungguh ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Maka sebagian dari mereka berkata ‘Sesungguhnya di dalam surga ada jima’ (hubungan suami istri) tetapi tidak ada anak (yang terlahir) dari jima’ tersebut’ pendapat ini dikemukakan oleh Mujahid, Thowus, dan Ibrahim An-Nakho’i”
 
Kenapa dari jima’ yang dilakukan oleh penghuni surga tidak melahirkan anak? Imam Al-Qurtubi menjelaskan hal tersebut dengan mengutip komentar Imam Ishaq Bin Ibrahim terhadap hadist diatas,
 
وقال اسحاق بن ابراهيم وغيره كما في الحديث (ان المؤمن إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ كَانَ فِي سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا يَشْتَهِي ) وَلَكِنْ لَا يَشْتَهِي
 
Imam Ishaq Bin Ibrahim dan yang lain berkata mengomentari hadis (Sesungguhnya seorang mukmin ketika mereka menginginkan anak di surga maka keinginan tersebut terwujud dalam satu saat saja seperti yang diinginkan) “Tetapi mereka tidak menginginkan (anak)”.
 
Jadi, meskipun jika penghuni surga ingin memiliki anak akan terwujud sesuai yang mereka inginkan. Akan tetapi, mereka tidak menginginkannya sehingga mereka pun tidak memiliki anak di surga. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh hadis berikut,
 
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان أهل الجنة لا يكون لهم فيها ولد
 
Rasulullah Saw bersabdaSesungguhnya penghuni surga mereka tidak memiliki anak di suga” (HR. Abu Rozin Al-‘Aqili).
-------------------------
Anak yang masih kecil, yang dilahirkan di jannah = akan BELAJAR / diasuh  Nabi Ibrahim ... millah Ibrahim ...wallahua'lam
---------------------------
 
أطفال المؤمنين يكفله إبراهيم
 
“Anak-anak orang mukmin ditanggung Nabi Ibrahim di surga.
(HR. Ibnu Hibban 1826, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jâmi’ 3/155)
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda, “Sungguh anak keturunan dari kaum Muslimin masuk surga, Ibrahim Alaihissallam akan mengasuh mereka,” (HR. Ahmad, No.8.324, al-Hakim, No. 3.399 dan Ibnu Hibban No. 7.446. Dishahihka oleh adz-Dzahabi dan al-Albani).
 
REZEKI BESAR yang diberikan oleh ALLAH SWT padaku, agar aku bersyukur…… mensyukuri yang diberikan oleh Allah, yg JARANG sekali diberikan pada orang lain !! , BUKAN untuk menyombongkan diri …… agar aku LEBIH bersyukur pada ALLAH dg apa yg telah diberikan-Nya padaku --------- lalu aku TUNDUK melihat ke BAWAH pada dunia -------- apalagi melihat yg diberikan pada orang lain, aku TIDAK boleh IRI atau hasad, ,,,,,,, aku harus MELIHAT BETAPA BANYAK yg diberikan Allah padaku … REZEKI-ku yg sangat BESAR …….---------------------------- future viewing …… kasyaf … dream ……….
 

Jika aku ke SURGA (setelah mati), maka aku PASTI akan bersama selamanya dg “wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong anakku/bayiku”….. wanita yang sangat kuCINTAi di dunia ini,(aku tidak tahu mengapa aku sangat cinta sekali padanya, hanya KEHENDAK ALLAH saja, yg kupahami) ….bahkan mungkin di alam BARZAKH aku sudah bersama “wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong bayiku/anakku” …sesuai yang diperlihatkan Allah padaku………...{ berbaik sangka pada Allah SWT, berhusnudzon pada Allah = wajib menurutku} ........ wallahua’lam……… <<<<>>> ……….. wallahua’lam ………………. Wajah dan tubuhku, tidak seperti di dunia lagi, sudah menjadi e-Gojira/Shower Stone, dengan diberikan POWER malaikat, bisa kemanapun dalam kecepatan KILAT, ke dunia manapun hanya dalam beberapa DETIK saja.--------- bisa membuka portal jarak jauh/teleportase/SULTHON power, dan tidak perlu HP ….tapi memakai TELEPATI (komunikasi dg hati dg tanpa berjarak lagi). ….. dan mempunyai anak laki-laki di jannah, hasil pernikahanku dg “wanita/gadis/perempuan yang bermimpi menggendong bayiku/anakku” atau kunamakan wanita/gadis/perempuan itu RISALAH HATI-ku /Ten The Light-ku. ---------- wallahua’lam ------------------ jika aku ke NERAKA {su'udzon} = semua mimpiku, yang diperlihatkan Allah padaku MUSNAH ... sia-sia ---------> jika ke SURGA = menDAPATkan semua yg aku/kamu/kita INGINkan ..... yg HATI inginkan .. keinginan HATI >>> jika ke NERAKA = TIDAK AKAN PERNAH mendapatkan yg aku/kamu/kita INGINkan.... TAPI akan mendapatkan yg aku/kamu TAKUTi... yg dinamakan SIKSAAN ,, physic dan non physic....====== jika ke SURGA = mendapatkan apa yg mereka ... KEHENDAKI.. Al Furqaan:16 ..................................................... SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI .... Az Zukhruf:71 .................................................................................... di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya.............................................................................................“Tidak ada seorang yang membujang pun di surga”[As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani] .........................................................................................engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari no. 6171 dan Muslim no. 2639.....................................................Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,-------------الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ……….“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).............................................................Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688)---------------- ﴾ Az Zukhruf:71 ﴿Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya".-----------------يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خٰلِدُونَ ﴿الزخرف:٧١﴾-------------------Sebagaimana firman Allah,---------------لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ--------------------“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik” (Az-Zumar : 34)---------------------لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ-----------“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qaaf : 35)-------------------﴾ Al Furqaan:16 ﴿Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).---------------لَّهُمْ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ خٰلِدِينَ ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعْدًا مَّسْـُٔولًا ﴿الفرقان:١٦﴾-----------------------﴾ Asy Syuura:22 ﴿ Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.--------------تَرَى ٱلظّٰلِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا۟ وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۗ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصّٰلِحٰتِ فِى رَوْضَاتِ ٱلْجَنَّاتِ ۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ ﴿الشورى:٢٢﴾ !=== ==== wallahua'lam

 

 

…… aku itu hanya manusia, ....... KEHENDAK ALLAH = terbaik dan tersempurna untukku (menurutku)

......... Tanda Allah yg diberikan pada HATIku, jelas sekali itu tanda mengapa ada pernikahan di masa depan antara AKU dan risalah hatiku/ten the light-ku------- krn tanda itu mudah sekali dg diberi CINTA yg tidak AKAN mungkin bisa HILANG krn ditanamkan oleh ALLAH pada HATI-ku, so much love-ku pada Risalah Hatiku/ten the light

Mengapa E-Gojira sangat cinta sekali pada RISALAH HATI-ku di dunia ini, ... dulu, sekarang... Besok ... atau .... setelah aku MATI ??.. wallahua'lam ------- …… aku itu hanya manusia, ....... KEHENDAK ALLAH = terbaik dan tersempurna untukku (menurutku). … AKU hanya BELUM TAHU saja .... EFEK BAIK /TAKDIR BAIK bagiku di dunia ini, dg mencintai Risalah hatiku .. tanpa tahu dia juga cinta aku atau TIDAK !! .. karena urusan HATI itu sangat BERAT kurasakan, karena akan terbawa dimanapun dan kapanpun. …….>>>> JIKA Allah menghendaki:  BISA saja, aku diberi TANDA yg lain & BUKAN dg risalah hatiku--- mimpi JANNAH dg WANITA/GADIS/PEREMPUAN lain  >>>>> jika ALLAH mengHENDAKi bisa saja : AKU diberi Allah BUKAN cinta pada Risalah Hatiku >>>>>> jika ALLAH mengHENDAKi bisa saja :  AKU diberi Allah CINTA wanita/gadis/perempuan LAIN .....yang BUKAN Risalah hatiku !!!!............ ============== tapi tanda Allah yg diberikan pada HATIku, jelas sekali itu tanda mengapa ada pernikahan di masa depan antara AKU dan risalah hatiku/ten the light-ku------- krn tanda itu mudah sekali dg diberi CINTA yg tidak AKAN mungkin bisa HILANG krn ditanamkan oleh ALLAH pada HATI-ku, so much love-ku pada Risalah Hatiku/ten the light ========== bagaimana aku TIDAK cinta pada RISALAH HATI-ku/Ten The Light-ku, semua yg diperlihatkan padaku ADA pada dirinya ……. bahkan sampai DREAM “mengGENDONG ANAKKU/BAYIKU !!!! ------------========== wallahua’lam….------

<<< segala sesuatu itu TERJADI dengan TAKDIR Allah. ..... Segala yang terjadi dalam alam wujud ini,
.......................................
BAIK atau BURUK, semuanya dengan takdir dan ketentuan serta kehendak Allah. Karena tidak ada Rabb selain Allah dan tidak ada yang mengatur segala sesuatu bersama-Nya. >>>
--------------------------------------------------------

Nabi bersabda “Apa yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).

AJAL-ku yang sudah dekat .... penenggelaman yang sudah DEKAT sekali wallahua'lam

Aku telah diberikan Jodoh/pasangan/bidadari yang selalu bersamaku (touch love and affection in the REAL condition) setelah aku mati/”pulang kepada Allah”….. my dream few days ago.---------wallahua’lam ----------------------- di my dream….. (mimpi baik = boleh diceritakan kepada orang lain, agar manusia lain mendapat IBROH, .. kalau mimpi buruk= dari SETAN sehingga dilarang diceritakan pada orang lain) ------------- “diriku seperti di dunia ini”, berjalan bersama dg Risalah hatiku/ten the lightku, dg jalan agak berjauhan (bukan berdekatan)……. Lalu melewati sebuah masjid, banyak orang berkumpul di situ, ….lalu aku masuk ke masjid dengan ijin pada Risalah hatiku “aku masuk masjid dulu”, lalu Risalah hatiku membolehkan, lalu dia menunggu di luar masjid ------------- aku ikut dalam kegiatan orang di masjid, seakan orang-orang di alam masjid sudah MENGENAL-ku, langsung mereka mempersilahkan aku bicara, …. Memberikan dakwah, perkataan, materi, …. Lalu bergantian dg orang lain di masjid.------------ aku ke luar masjid mau (ke toilet/kamar kecil) buang air kecil di sebelah masjid, … Risalah hatiku mengetahui aku keluar masjid, lalu mengikuti dari belakang aku ke kamar kecil, Risalah hatiku melihatku dari kaca ……sepertinya dia takut aku pergi dari kamar kecil tanpa sepengetahuannya………… lalu aku keluar dari kamar kecil. Lalu aku berkata padanya “kalau ingin pulang dulu, ya boleh duluan kok”…. Di jawab Risalah hatiku, “mosok, aku PULANG sendirian”……. Kujawab “ya sudahlah kita PULANG berbarengan”. ---------------------------------------- setelah aku menjawab dengan kalimat itu (“ya sudahlah kita PULANG berbarengan”)… langsung aku bisa/BOLEH MEMELUK Risalah hatiku, Risalah hatiku juga memeluk erat diriku …………………………….. lalu aku terbangun.------- kupikirkan mengapa aku bisa/BOLEH memeluk Risalah hatiku,…. seakan-akan itu kurasakan TIDAK berdosa sama sekali !!!!! … baru aku PAHAM arti “PULANG” = KEMBALI ke hadirat Allah, kembali kepada Allah= aku dan dirinya setelah MATI . atau kehidupan setelah MATI … wallahua’lam. ….. setelah MATI, maka hukum Allah berbeda dg HUKUM dunia yg penuh syariat/hukum Allah yg super ketat dalam menjaga hubungan antar manusia………… setelah MATI, muslim/mukmin seperti KELUAR dari PENJARA, diberi RAHMAT ALLAH yg sangat BESAR ……. Semua MIMPI dan KEINGINANku dipenuhi Allah SWT. ----------- aku langsung diberikan Risalah hatiku, aku bisa memeluknya, mendekapnya, menumpahkan Rinduku padanya, ….. yg di dunia aku hanya bisa melihat dari JAUH saja, tanpa bisa menyentuhnya sama sekali (sesuai syariat Allah, bukan muhrim)…..wallahua’lam.-------------------------------- setelah mati, MUKMIN atau tergolong mukmin, diberi kehidupan yang baik, menyenangkan, BAHAGIA sekali. …… mungkin Allah KASIHAN sekali padaku, diberi HATI oleh Allah SWT, .. cinta dan sayang sekali pada Risalah hatiku di dunia TAPI dalam kondisiku sekarang … SEHINGGA hanya PAINS yg selalu kudapat setiap hari ….. efek diberi CINTA dan RINDU oleh Allah yang tidak terbalas, ………bertepuk sebelah tangan …dst ---------- ======== setelah aku bisa memeluk Risalah hatiku …. Seperti terbayar semuanya, Risalah hatiku BENAR-BENAR cinta dan rindu sekali juga padaku, ….. pains yg kurasakan setiap SEPERTI sirna, hilang, seperti tidak pernah merasakan PAINs di dunia, karena diberi cinta oleh Allah di dunia dg kondisiku di dunia ========= .-- padahal di BARZAKH/hidup setelah mati … seperti SUDAH merasakan BAHAGIA sekali seperti di JANNAH/surga yg nyata…. Wallahua’lam. ------ aku gak mikir Risalah hatiku itu HANYA FOTO COPY/klon/ASLInya, yang kurasakan Risalah hatiku = menjadi UTUH milikku, dan selalu bersamaku setelah aku “PULANG” kepada Allah. -------------------- ya sekarang aku paham, … silahkan Risalah hatiku memilih CALON suaminya, pacarnya, TTMnya, … dst di dunia, … ITU HAKnya… ---------- aku bukan TUHAN atau malaikat yg bisa membolak balikkan hatinya ……. utk CINTA dan sayang padaku, ….--------- seperti aku diberi Allah selalu sayang dan cinta sekali padanya !! ……. Krn aku tahu ITU, maka di dunia aku selalu MERASAKAN PAINS di hatiku, BLEEDING HEART di hatiku….. sia-sia, hanya bisa bertanya pada Allah “mengapa aku diberi hati yang sangat cinta pada Risalah hatiku” ?? ========== kupikir berulang-ulang kali, MENCINTAI FOTO COPY Risalah hatiku= sangat lebih baik sekali … daripada mencintai ASLInya, tapi aslinya mencintai laki-laki lain …… (pengalaman), berusaha mencintai wanita yang mencintai laki-laki lain = kurasakan perihnya bleeding heart every day, hatiku berlinang darah setiap harinya ======== sepertinya aku hanya akan mendapatkan PAINS never ending, jika aku dikuasai hati yg selalu CINTA sekali pada “ASLI dari risalah hatiku, ….tapi “HATI ASLI risalah hatiku diberikan pada laki-laki lain” = aku memang BODOH sekali …. menyakiti HATIku sendiri ……. Karena KEBODOHANku sendiri …======== QS Annisa:69, Allah SWT berfirman, "Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang salih. Mereka merupakan teman yang sebaik-baiknya."------------ Ibnu Qoyyim menulis bahwa kebersamaan ini berlaku di dunia, alam barzakh hingga Hari Pembalasan.=======QS Alfajr:27-30. "Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku."=========roh terdiri dari dua macam. Roh yang mendapat siksa dan roh yang mendapat kenikmatan. Roh yang mendapat siksaan maka dia disibukkan dengan siksaan yang menimpanya. Mereka pun tidak bisa saling berkunjung dan bertemu. Sementara, roh-roh yang mendapat kenikmatan mendapat kebebasan dan tidak terbelenggu. ===============Mereka bisa saling berkunjung, bertemu serta saling mengingatkan. Mereka berbincang tentang apa yang pernah terjadi di dunia dan apa yang akan dialami para penghuni dunia lainnya. Setiap roh bersama pendampingnya yang menyerupai alam-Nya. Sementara, roh Nabi Shallalahu alaihi wasallam berada di sisi Pendamping Yang Maha Tinggi. …. ============= ISTIRAHAT-nya orang MUKMIN = MATInya ..... MENINGGALnya ................... Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.---------------------عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ----------------------Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir”. [HR. Muslim, no. 2956] --------------------------- Kematian seorang Mumin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh imam Nawawi di atas, dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya sebagai berikut :-------------------------وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ-------------------------- Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh n , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. [HR. Bukhari dan Muslim]========Wallahua’lam

..

.

...........................................................................
Segala perbuatan yang terjadi pada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaan Allah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akan keluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena apa bila pada makhluk ini ada sesuatu yang terjadi yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allah, maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya, karena dengan demikian berarti kehendak Allah dikalahkan.oleh kehendak makhluk-Nya. Tentu, ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)

“Apa yang dikehendaki oleh Allah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Iman dengan Qadla dan Qadar adalah termasuk pokok-pokok iman yang enam (Ushûl al-Îmân as-Sittah) yang wajib kita percayai sepenuhnya. Belakangan ini telah timbul beberapa orang atau beberapa kelompok yang mengingkari Qadla dan Qadar dan berusaha mengaburkannya, baik melalui tulisan-tulisan, maupun di bangku-bangku kuliah. Tentang kewajiban iman kepada Qadla dan Qadar, dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda:

الإيْمَانُ أنْ تُؤْمِنَ باِللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ (رواه مسلم)

“Iman ialah engkau percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau percaya kepada Qadar Allah, yang baik maupun yang buruk”. (HR. Muslim).

Al-Qadlâ maknanya al-Khalq, artinya penciptaan, dan al-Qadar maknanya at-Tadbîr, artinya ketentuan. Secara istilah al-Qadar artinya ketentuan Allah atas segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan (al-‘Ilm) dan kehendak-Nya (al-Masyî-ah) yang Azali (tidak bermula), di mana sesuatu tersebut kemudian terjadi pada waktu yang telah ditentukan dan dikehendaki oleh-Nya terhadap kejadiannya.

Penggunaan kata “al-Qadar” terbagi kepada dua bagian:

Pertama; Kata al-Qadar bisa bermaksud bagi sifat “Taqdîr” Allah, yaitu sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang ia kehendakinya. al-Qadar dalam pengertian sifat “Taqdîr” Allah ini tidak boleh kita sifati dengan keburukan dan kejelekan, karena sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu bukan suatu keburukan atau kejelekan, tetapi sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya adalah sifat yang baik dan sempurna, sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifat Allah tersebut tidak boleh dikatakan buruk, kurang, atau sifat-sifat jelek lainnya.

KeduaKata al-Qadar dapat bermaksud bagi segala sesuatu yang terjadi pada makhluk, atau disebut dengan al-Maqdûr. Al-Qadar dalam pengertian al-Maqdûr ini ialah mencakup segala apapun yang terjadi pada seluruh makhluk ini; dari keburukan dan kebaikan, kesalehan dan kejahatankeimanan dan kekufuran, ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain. Dalam makna yang kedua inilah yang dimaksud oleh hadits Jibril di atas, “Wa Tu-mina Bi al-Qadar; Khayrih Wa Syarrih”. Al-Qadar dalam hadits ini adalah dalam pengertian al-Maqdûr.

Pemisahan makna antara sifat Taqdîr Allah dengan al-Maqdûr adalah sebuah keharusan. Hal ini karena sesuatu yang disifati dengan baik dan buruk, atau baik dan jahat, adalah hanya sesuatu yang ada pada makhluk saja. Artinya, siapa yang melakukan kebaikan maka perbuatannya tersebut disebut “baik”, dan siapa yang melakukan keburukan maka perbuatannya tersebut disebut “buruk”, dengan demikian penyebutan kata “baik” dan ”buruk” seperti ini hanya berlaku pada makhluk saja. Adapun sifat Taqdîr Allah, yaitu sifat menentukan Allah terhadap segala sesuatu yang Ia kehendakinya, maka sifat-Nya ini tidak boleh dikatakan buruk. Sifat Taqdîr Allah ini, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan sempurna, tidak boleh dikatakan buruk atau jahat. Dengan demikian, bila seorang hamba melakukan keburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari hamba itu sendiri. Adapun Taqdîr Allah terhadap keburukan yang terjadi pada hamba itu bukan berarti bahwa Allah menyukai dan memerintahkan hamba itu kepada keburukan tersebut. Demikian pula, ketika kita katakan; Allah yang menciptakan kejahatan, bukan berarti bahwa Allah itu jahat. Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allah meliputi segala perbuatan hamba, terhadap yang baik maupun yang buruk.

Segala perbuatan yang terjadi pada alam ini, baik kekufuran dan keimanan, ketaatan dan kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan kehendak dan dengan penciptaan Allah. Hal ini menunjukan akan kesempurnaan Allah, serta menunjukan akan keluasan dan ketercakupan kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena apa bila pada makhluk ini ada sesuatu yang terjadi yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allah, maka berarti hal itu menafikan sifat ketuhanan-Nya, karena dengan demikian berarti kehendak Allah dikalahkan.oleh kehendak makhluk-Nya. Tentu, ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi. Karena itu dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)

“Apa yang dikehendaki oleh Allah -akan kejadiannya- pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehandaki oleh-Nya maka tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian segala apapun yang dikehendaki oleh Allah terhadap kejadiannya maka semua itu pasti terjadi. Karena bila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka hal itu menunjukkan akan kelemahan, padahal sifat lemah itu mustahil bagi Allah. Bukankah Allah maha kuasa?! Maka di antara bukti kekuasaannya adalah bahwa segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Oleh karena itu, dari sudut pandang syara’ dan akalterjadinya segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya adalah perkara yang wajib adanya. Dalam hal ini Allah berfirman:

وَاللهُ غَالِبٌ عَلَى أمْرِه (يوسف: 21)

“Allah maha mengalahkan (menang) di atas segala urusann-Nya”. (Artinya, segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi, tidak ada siapapun yang menghalangi-Nya”. (QS. Yusuf: 21).

Allah menghendaki orang-orang mukmin dengan ikhtiar mereka untuk beriman kepada-Nya, maka mereka menjadi orang-orang yang beriman. Dan Allah menghendaki orang-orang kafir dengan ikhtiar mereka untuk kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi orang-orang yang kafir. Seandainya Allah berkehendak semua makhluk-Nya beriman kepada-Nya, maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لأَمَنَ مَن فِي اْلأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا (يونس: 99)

“Dan seandainya Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh yang ada di bumi ini akan beriman”. (QS. Yunus: 99).

Tetapi Allah tidak menghendaki semuanya beriman kepada-Nya. Namun demikian Allah memerintah mereka semua untuk beriman kepada-Nya. Maka di sini harus dipahami, bahwa “kehendak Allah” dan “perintah Allah” adalah dua hal berbeda. Tidak segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh-Nya, dan tidak segala sesuatu yang diperintah oleh Allah adalah sesuatu yang dikehendaki oleh-Nya.

Perkataan sebagian orang “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekali perbuatan kita yang tidak dikehendaki oleh Allah (ia bermaksud kemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah perkataan yang salah, karena Allah tidak memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan maksiat atau kekufuran. Benarkejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah dengan kehendak Allah, tetapi Allah tidak memerintah kepadanya. Dengan demikian perkataan yang benar ialah; “Segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya dan dengan Ilmu-Nya. Kebaikan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dengan Ilmu-Nya, serta kebaikan ini juga dengan perintah-Nya, Mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. Sementara keburukan terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, tapi tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan Mahabbah-Nya, dan tidak dengan keridlaan-Nya”. Artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan tidak disukai dan tidak diridlai oleh Allah. Dengan kata lain, segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, akan tetapi tidak semuanya dengan perintah Allah.

Di antara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allah berbeda dengan kehendak-Nya adalah apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim. Beliau diberi wahyu lewat mimpi untuk menyembelih putranya; Nabi Isma’il. Hal ini merupakan perintah dari Allah atas Nabi Ibrahim. Kemudian saat Nabi Ibrahim hendak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah ini, bahkan telah meletakan pisau yang sangat tajam dan menggerak-gerakannya di atas leher Nabi Isma’il, namun Allah tidak berkehendak terjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut. Kemudian Allah mengganti Nabi Isma’il dengan seekor domba yang bawa oleh Malaikat Jibril dari surga. Peristiwa ini menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara ”perintah Allah” dan ”kehendak-Nya”.

wallahua'lam

 

Views All Time
Views All Time
151
Views Today
Views Today
1

Hits: 86

3 Comments

  1. Dari uraian ini dapat dipahami bahwa doa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdîr) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya, karena mustahil sifat Allah bergantung kepada perbuatan-perbuatan atau doa-doa hamba-Nya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Nya, dan Allah maha mengetahui perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh.
    Namun demikian doa adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Allah atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:
    وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
    “Dan jika hamba-hamba-ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 186).
    Artinya bahwa seorang yang berdoa tidak akan sia-sia belaka. Ia pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga kebaikan; dosa-dosanya yang diampuni, permintaannya yang dikabulkan, atau mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan kebaikan yang sangat berharga baginya. Dengan demikian maka tidak mutlak bahwa setiap doa yang dipintakan oleh para hamba pasti dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi ada yang dikabulkan dan ada pula yang tidak dikabulkan. Yang pasti, bahwa setiap doa yang dipintakan oleh seorang hamba kepada Allah adalah sebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukan sebuah kesia-siaan belaka. Dalam keadaan apapun, seorang yang berdoa paling tidak akan mendapatkan salah satu dari kebaikan yang telah kita sebutkan di atas. (Lebih luas lihat al-Adzkâr an-Nawawiyyah, hlm. 353)
    (Masalah): Aqidah Ahlussunnah menetapkan bahwa Allah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun demikian ada beberapa faham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapa ayat yang sering disalahpahami oleh mereka, di antaranya, mereka mengutip firman Allah:
    بِيَدِكَ الْخَيْرُ (ءال عمران: 26)
    “Dengan kekuasaan-Mu segala kebaikan”. (QS. Ali ‘Imran: 26).
    Mereka berkata: “Dalam ayat ini Allah hanya menyebutkan kata ”al-Khayr” (kebaikan) saja, tidak menyebutkan asy-Syarr (keburukan). Dengan demikian maka Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapun keburukan bukan ciptaan-Nya”.
    (Jawab): Kata ”asy-Syarr” (keburukan) tidak disandingkan dengan kata al-Khayr (kabaikan) dalam ayat di atas bukan berarti bahwa Allah bukan pencipta keburukan. Ungkapan semacam ini dalam istilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) dinamakan dengan al-Iktifâ’; yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui padanan katanya. Contoh semacam ini di dalam al-Qur’an firman Allah:
    وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُم بَأْسَكُمْ (النحل: 81)
    “Dia (Allah) menjadikan bagi kalian pakaian-pakaian yang memelihara kalian dari dari panas”. (QS. an-Nahl: 81).
    Yang dimaksud ayat ini adalah pakaian yang memelihara kalian dari panas, dan juga dari dingin. Artinya, tidak khusus memelihara dari panas saja. Demikian pula dengan pemahaman firman Allah: ”Bi-Yadika al-Khayr” (QS. Ali ‘Imran: 26) di atas bukan berarti Allah khusus menciptakan kebaikan saja, tapi yang yang dimaksud adalah menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan.
    Kemudian dari pada itu, dalam ayat lain dalam al-Qur’an Allah berfirman:
    وَخَلَقَ كُلّ شَىء (الفرقان: 2)
    ”Dan Dia Allah yang telah menciptakan segala sesuatu”. (QS. al-Furqan: 2).
    Kata “Syai’”, yang secara hafiyah bermakna “sesuatu” dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allah. Mencakup segala benda dan semua sifat benda, termasuk segala perbuatan manusia, juga termasuk segala kebaikan dan segala keburukan. Artinya, segala apapun selain Allah adalah ciptaan Allah. Dalam ayat lain firman Allah:
    قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ (ءال عمران: 26)
    “Katakanlah (Wahai Muhammad), Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (QS. Ali ‘Imran: 26).
    Dari makna firman Allah di atas: “Engkau (Ya Allah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, kita dapat pahami bahwa Allah adalah Pencipta kebaikan dan keburukan. Allah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir seperti Fir’aun, dan Allah pula yang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin seperti Dzul Qarnain.
    Adapun firman Allah:
    مَّآأَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَآأَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ (النساء: 79)
    ayat ini bukan berarti bahwa kebaikan ciptaan Allah, sementara keburukan sebagai ciptaan manusia. Pemaknaan seperti ini adalah pemaknaan yang rusak dan merupakan kekufuran. Makna yang benar ialah, sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama, bahwa kata “Hasanah” dalam ayat di atas artinya nikmat, sedangkan kata “Sayyi-ah” artinya musibah atau bala (bencana). Dengan demikian makna ayat di atas ialah: “Segala apapun dari nikmat yang kamu peroleh adalah berasal dari Allah, dan segala apapun dari musibah dan bencana yang menimpamu adalah balasan dari kesalahanmu”. Artinya, amalan buruk yang dilakukan oleh seorang manusia akan dibalas oleh Allah dengan musibah dan bala.

  2. Allah Pencipta Segala Sebab Dan Akibat
    Dalam hukum kausalitas ini ada sesuatu yang dinamakan “sebab” dan ada yang dinamakan “akibat”. Misalnya, obat sebagai sebab bagi akibat sembuh, api sebagai sebab bagi akibat kebakaran, makan sebagai sebab bagi akibat kenyang, dan lain-lain. Aqidah Ahlussunnah menetapkan bahwa sebab-sebab dan akibat-akibat tersebut tidak berlaku dengan sendirinya. Artinya, setiap sebab sama sekali tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Tapi keduanya, baik sebab maupun akibat, adalah ciptaan Allah dan dengan ketentuan Allah. Dengan demikian, obat dapat menyembuhkan sakit karena kehendak Allah, api dapat membakar karena kehendak Allah, dan demikian seterusnya. Segala akibat jika tidak dikehendaki oleh Allah akan kejadiannya maka itu semua tidak akan pernah terjadi.
    Dalam sebuah hadits Shahih, Rasulullah bersabda:
    إنّ اللهَ خَلَقَ الدّوَاءَ وَخَلَقَ الدّاءَ فَإذَا أصِيْبَ دَوَاء الدّاء بَرِأ بإذْنِ اللهِ (رواه ابن حبان)
    “Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala obat dan yang menciptakan segala penyakit. Apa bila obat mengenai penyakit maka sembuhlah ia dengan izin Allah”. (HR. Ibn Hibban).
    Sabda Rasulullah dalam hadits ini: “… maka sembuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa obat tidak dapat memberikan kesembuhan dengan sendirinya. Fenomena ini nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita melihat banyak orang dengan berbagai macam penyakit, ketika berobat mereka mempergunakan obat yang sama, padahal jelas penyakit mereka bermacam-macam, dan ternyata sebagian orang tersebut ada yang sembuh, namun sebagian lainnya tidak sembuh. Tentunya apa bila obat bisa memberikan kesembuhan dengan sendirinya maka pastilah setiap orang yang mempergunakan obat tersebut akan sembuh, namun kenyataan tidak demikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullah: “… maka akan sembuh dengan izin Allah”.
    Dengan demikian dapat kita pahami bahwa adanya obat adalah dengan kehendak Allah, demikian pula adanya kesembuhan sebagai akibat dari obat tersebut juga dengan kehendak dan ketentuan Allah, obat tidak dengan sendirinya menciptakan kesembuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidak menciptakan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya, kita wajib berkeyakinan bahwa sebab tidak menciptakan akibat, akan tetapi Allah yang menciptakan segala sebab dan segala akibat.
    Firqah-Firqah Dalam Masalah Qadla Dan Qadar
    Dalam masalah Qadla dan Qadar umat Islam terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama disebut dengan golongan Jabriyyah, kedua disebut dengan golongan Qadariyyah, dan ketiga adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Golongan pertama dan golongan ke dua adalah golongan sesat, dan hanya golongan ke tiga yang selamat. Kelompok pertama, yaitu golongan Jabriyyah, berkeyakinan bahwa para hamba itu dipaksa (Majbûr) dalam segala perbuatannya, mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba sama sekali tidak memiliki usaha atau ikhtiar (al-Kasab) dalam perbuatannya tersebut. Bagi kaum Jabriyyah, manusia laksana sehelai bulu atau kapas yang terbang ditiup angin, ia mengarah ke manapun angin tersebut membawanya. Keyakinan sesat kaum Jabriyyah ini bertentangan dengan firman Allah:
    وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: 29)
    “Dan kalian tidaklah berkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. at-Takwir: 29).
    Ayat ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa manusia diberi kehendak (al-Masyî-ah) oleh Allah, hanya saja kehendak hamba tersebut dibawah kehendak Allah. Pemahaman ayat ini berbeda dengan keyakinan kaum Jabriyyah yang sama sekali menafikan Masyi’ah dari hamba. Bahkan dalam ayat lain secara tegas dinyatakan bahwa manusia memiliki usaha dan ikhtiar (al-Kasb), yaitu dalam firman Allah:
    لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ (البقرة: 286)
    “Bagi setiap jiwa -balasan kebaikan- dari segala apa yang telah ia usahakan – dari amal baik-, dan atas setiap jiwa -balasan keburukan- dari segala apa yang ia usahakan -dari amal buruk-”. (QS. al-Baqarah: 286).
    Kebalikan dari golongan Jabriyyah adalah golongan Qadariyyah. Kaum ini memiliki keyakinan bahwa manusia memiliki sifat Qadar (menentukan) dalam melakukan segala amal perbuatannya tanpa adanya kehendak dari Allah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi manusia sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatannya tersebut. Terhadap golongan Qadariyyah yang berkeyakinan seperti ini kita tidak boleh ragu sedikitpun untuk mengkafirkannya, mereka bukan orang-orang Islam. Karenanya, para ulama kita sepakat mengkafirkan kaum Qadariyyah yang berkeyakinan semacam ini. Kaum Qadariyyah yang berkeyakinan seperti itu telah menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah, di samping itu mereka juga telah menjadikan Allah lemah (‘Âjiz), karena dalam keyakinan mereka Allah tidak menciptakan segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Padahal di dalam al-Qur’an Allah berfirman:
    قُلِ اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ (الرعد: 16)
    “Katakan (Wahai Muhammad), Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu”. (QS. ar-Ra’ad: 16).

  3. Mustahil Allah tidak kuasa atau lemah untuk menciptakan segala perbuatan hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah yang menciptakan segala benda, dari mulai benda paling kecil bentuknya, yaitu adz-Dzarrah, hingga benda yang paling besar, yaitu arsy, termasuk tubuh manusia yang notabene sebagai benda juga ciptaan Allah. Artinya, bila Allah sebagai Pencipta segala benda tersebut, maka demikian pula Allah sebagai Pencipta bagi segala sifat dan segala perbuatan dari benda-benda tersebut. Sangat tidak logis jika dikatakan adanya suatu benda yang diciptakan oleh Allah, tapi kemudian benda itu sendiri yang menciptakan sifat-sifat dan segala perbuatannya. Karena itu Imam al-Bukhari telah menuliskan satu kitab berjudul “Khalq Af’âl al-‘Ibâd”, berisi penjelasan bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia itu sendiri.
    Dengan demikian menjadi sangat jelas bagi kita kesesatan dan kekufuran kaum Qadariyyah, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allah. Mereka telah menjadikan Allah setara dengan makhluk-makhluk-Nya sendiri; sama-sama menciptakan. Mereka tidak hanya menetapkan adanya satu sekutu bagi Allah tapi mereka menetapkan banyak sekutu bagi-Nya, karena dalam keyakinan mereka bahwa setiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya masing-masing, sebagimana Allah adalah Pencipta bagi tubuh-tubuh semua manusia tersebut. Na’ûdzu Billâh.
    Golongan ke tiga, yaitu Ahlussunnah Wal Jama’ah, adalah golongan yang selamat. Keyakinan golongan ini adalah keyakinan yang telah dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa, antar genarasi ke genarasi. Dan inilah keyakinan yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Mereka menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah. Hanya Allah yang menciptakan semua makhluk, dari mulai dzat atau benda yang paling kecil hingga benda yang paling besar, dan Allah pula yang menciptakan segala sifat dan segala perbuatan dari benda-benda tersebut.
    Perbuatan manusia terbagi kepada dua bagian; Pertama, Af’âl Ikhtiyâriyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi dengan inisiatif, usaha, kesadaran, dan dengan ikhtiar dari manusia itu sendiri, seperti makan, minum, berjalan, dan lain-lain. Kedua; Af’âl Idlthirâriyyah, yaitu segala perbuatan manusia yang terjadi di luar usaha, dan di luar ikhtiar manusia itu sendiri, seperti detak jantung, aliran darah dalam tubuh, dan lain sebagainya. Dalam keyakinan Ahlussunnah; seluruh perbuatan manusia, baik Af’âl Ikhtiyâriyyah, maupun Af’âl Idlthirâriyyah adalah ciptaan Allah.

Leave a Reply