Sudah diperlihatkan semua mimpiku, semua kasyaf-ku, dengan TANDA yang sudah sangat jelas. Aku hanya manusia yang hanya bisa MELIHATnya, I can’t reach her…… semua sifat, karakter, all I want, all I see in my heart … dapat kulihat di dirinya. Rezekiku yang diperlihatkan padaku dari kehidupanku dari masa depan (jannah) = diTAMPAKkan di masa sekarang (dunia)….wallahua’lam--------- TANDA dari kekuasaan Allah ((menurutku, Yaa Siin:46 ﴿)…….. disempurnakan rezeki sebelum AJAL /batas waktu hidup di dunia ----------------------------- “Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah di dalam mencari (rezeki), karena sesungguhnya setiap yang yang bernyawa tidak akan pernah mati sampai dia menyempurnakan rezekinya, meskipun kadang terlambat datang untuknya, maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah dalam mencari (rezeki), (yaitu) ambillah apa yang telah dihalalkan tinggalkanlah apa yang telah diharamkan.” (HR. Ibnu Majah). ---------------------------------------- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054) -------&------------- aku sangat PUAS dan bersyukur sekali pada Allah SWT, dengan semua yg diperlihatkan (kasyaf & dream) Allah padaku …… masa depan SEMPURNAku (dream,kasyaf jannahku bersama Risalah hati-ku/Ten the light-ku), yang tidak pernah kulihat dan kurasakan di dunia ini. ------------------------------ berhusnudzon pada Allah SWT, di JANNAH = hidup bersama selamanya dg orang yg diCINTAInya (hadits), bersama dg yg diINGINkan hati (Az Zukhruf:71), …………….bersama yang diKEHENDAKi hati (Al Furqaan:16). TIDAK bisa kulupakan sedikitpun dengan MIMPI & kasyaf JANNAH yg diperlihatkan padaku bersama Risalah hati-ku/ten the light-ku--------------- berhusnudzon, jika SEKARANG Risalah hatiku TIDAK CINTA aku, maka di dunia jannahku besok, … Risalah hatiku dg kehendak Allah akan diberi HATI yang sangat cinta padaku, seperti SEKARANG aku diberi Allah sangat CINTA pada Risalah hatiku. ……ATAU aku diberi FOTOCOPY/KLON Risalah hatiku = hal itu mudah bagi ALLAH SWT ……. Wallahua’lam -------------------------- semua manusia JIKA BELUM terjadi = kemungkinan BESAR TIDAK akan percaya. …… manusia percaya JIKA MATAnya sudah melihatnya, …. Seperti SURGA dan NERAKA = jika manusia belum MATI dan BELUM melihatnya maka SULIT utk percaya!!! ---------------------- bagaimana PENUH BAHAGIAnya bersama orang yang diCINTAinya di jannah, dan betapa ngeri SAKITnya SIKSAAN dari MURKA ALLAH di neraka. -------------------------- jika ke SURGA = menDAPATkan semua yg aku/kamu/kita INGINkan ..... yg HATI inginkan …. keinginan HATI.------------------- Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) …walalhua’lam ========SYARAT SURGA= tergolong MUKMIN/MUKMINAH & berAMAL SALEH...... lalu ketika ditimbang oleh ALLAH = lebih BERAT PAHALAnya daripada DOSAnya !!======== syarat minimal digolongkan oleh ALLAH sebagai mukmin /mukminah = telah melakukan JIHAD HATI ...... sehingga HATInya tidak mengHITAM ditutupi oleh DOSA BESAR (kafir/murtad tanpa sadar, SYIRIK akbar, MUNAFIK akbar, atau FASIK besar)========

Sudah diperlihatkan semua mimpiku, semua kasyaf-ku, dengan TANDA yang sudah sangat jelas. Aku hanya manusia yang hanya bisa MELIHATnya, I can’t reach her…… semua sifat, karakter, all I want, all I see in my heart … dapat kulihat di dirinya. Rezekiku yang diperlihatkan padaku dari kehidupanku dari masa depan (jannah) = diTAMPAKkan di masa sekarang (dunia)….wallahua’lam---------  TANDA dari kekuasaan Allah ((menurutku, Yaa Siin:46 ﴿)…….. disempurnakan rezeki sebelum AJAL /batas waktu hidup di dunia ----------------------------- “Jabir bin Abdillah radhiyallahuanhu berkata: ‘Rasulullah shallallahualaihi wasallam bersabda, “Wahai manusia, bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah di dalam mencari (rezeki), karena sesungguhnya setiap yang yang bernyawa tidak akan pernah mati sampai dia menyempurnakan rezekinya, meskipun kadang terlambat datang untuknya, maka bertakwalah kalian kepada Allah dan perbaikilah dalam mencari (rezeki), (yaitu) ambillah apa yang telah dihalalkan tinggalkanlah apa yang telah diharamkan.” (HR. Ibnu Majah). ---------------------------------------- Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054) -------&------------- aku sangat PUAS dan bersyukur sekali pada Allah SWT, dengan semua yg diperlihatkan (kasyaf & dream) Allah padaku …… masa depan SEMPURNAku (dream,kasyaf jannahku bersama Risalah hati-ku/Ten the light-ku), yang tidak pernah kulihat dan kurasakan di dunia ini. ------------------------------ berhusnudzon pada Allah SWT, di JANNAH = hidup bersama selamanya dg orang yg diCINTAInya (hadits), bersama dg yg diINGINkan hati (Az Zukhruf:71), …………….bersama yang diKEHENDAKi hati (Al Furqaan:16). TIDAK bisa kulupakan sedikitpun dengan MIMPI & kasyaf JANNAH yg diperlihatkan padaku bersama Risalah hati-ku/ten the light-ku--------------- berhusnudzon, jika SEKARANG Risalah hatiku TIDAK CINTA aku, maka di dunia jannahku besok, … Risalah hatiku dg kehendak Allah akan diberi HATI yang sangat cinta padaku, seperti SEKARANG aku diberi Allah sangat CINTA pada Risalah hatiku. ……ATAU aku diberi FOTOCOPY/KLON Risalah hatiku = hal itu mudah bagi ALLAH SWT ……. Wallahua’lam -------------------------- semua manusia JIKA BELUM terjadi = kemungkinan BESAR TIDAK akan percaya. …… manusia percaya JIKA MATAnya sudah melihatnya, …. Seperti SURGA dan NERAKA = jika manusia belum MATI dan BELUM melihatnya maka SULIT utk percaya!!! ---------------------- bagaimana PENUH BAHAGIAnya bersama orang yang diCINTAinya di jannah, dan betapa ngeri SAKITnya SIKSAAN dari MURKA ALLAH di neraka. -------------------------- jika ke SURGA = menDAPATkan semua yg aku/kamu/kita INGINkan ..... yg HATI inginkan …. keinginan HATI.------------------- Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) …walalhua’lam

===========================

SYARAT SURGA= tergolong MUKMIN/MUKMINAH & berAMAL SALEH...... lalu ketika ditimbang oleh ALLAH = lebih BERAT PAHALAnya daripada DOSAnya !! .........

=============== syarat minimal digolongkan oleh ALLAH sebagai mukmin /mukminah = telah melakukan JIHAD HATI ...... sehingga HATInya tidak mengHITAM ditutupi oleh DOSA BESAR (kafir/murtad tanpa sadar, SYIRIK akbar, MUNAFIK akbar, atau FASIK besar) ==================

=========== ciri hati tidak menghitam /gelap = Hati/qalbu yg bisa memBEDAkan benar dan salah (telah mendapat FURQON dari Allah SWT) ..... sehingga TIDAK termasuk BUTA QALBU (salah satu penyebab MUSLIM 72 golongan ke NERAKA ...... juga TIDAK TAKLID BUTA, menyembah manusia yg diikuti TANPA melihat kebenaran SYARIAT ALLAH =====================

nabi bersabda: "Tiada seorang Nabi pun yang diutus sebelumku, kecuali mempunyai beberapa hawari (pengikut setia) dan sahabat dari umatnya yang selalu memegang sunnahnya dan melaksanakan perintahnya. Kemudian setelah mereka muncul beberapa generasi pengganti, mereka mengatakan sesuatu yang tidak diamalkan dan mengamalkan apa yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad kepada mereka dengan tangannya, maka dia mukmin, barangsiapa yang berjihad kepada mereka dengan lisannya maka dia mukmin, barangsiapa yang berjihad kepada mereka dengan hatinya maka dia mukmin, dan tiada keimanan setelah itu meskipun seberat dzarrah.” (HR. Muslim)

===============================

Rasul bersabda; "..... TIDAK SHADAQAH dan TIDAK JIHAD? Dengan apa engkau MASUK SURGA?....”................ mati MUNAFIK ?.... takut MATI ? ...


........................
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.“ (QS. Ali Imran: 169)
------------------------
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Thabraniy dan Imam al-Bayhaqiy, dari Basyir bin al-Khoshoshiyyah ra berkata,”Aku datang kepada kepada Rasulullah saw untuk berbai’at masuk islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya, sholat lima waktu, puasa Romadhon menunaikan zakat, haji ke baitullah dan berjihad di jalan Allah.” Dia lanjutkan, “Wahai Rasulullah, ada dua yang aku TIDAK mampu, yaitu ZAKAT karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sekelompok unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku TAKUT MATI dan ingin (menyelamatkan) jiwaku.” Lalu Rasulullah menggenggam tangannya kemudian menggerakkannya lalu berkata, “TIDAK SHADAQAH dan TIDAK JIHAD? Dengan apa engkau MASUK SURGA?”
------------------
Dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
جَاهِدُوا اَلْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ, وَأَنْفُسِكُمْ, وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Berjihadlah melawan kaum musyrikin dengan HARTA-mu, JIWA-mu {nyawa} dan LIDAH-mu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Hakim)


---------
Dari Abu Hurairah ra., dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mati (dalam keadaan) BELUM pernah berperang dan tidak terbesit dalam BENAK-nya {/hati/qalbukeINGINan berPERANG, maka ia MATI dalam keadaan MUNAFIK.” (HR. Muslim dan Abu Daud. Hadits-hadits yang se makna dengan hadits ini banyak jumlahnya)
---------------
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Wahai Rasulullah, Amalan apakah yang (pahalanya) sebanding dengan Jihad fi Sabilillah?” beliau menjawab, “Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya.”
Mereka (para sahabat) mengulangi pertanyaan tersebut dua atau tiga kali, dan jawaban beliau atas setiap pertanyaan itu sama, “Kalian tidak akan sanggup mengerjakannya.” Kemudian setelah yang ketiga beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى
“Perumpamaan seorang mujahid Fi Sabilillah adalah seperti orang yang berpuasa yang mendirikan shalat lagi lama membaca ayat-ayat Allah. Dan dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya, sehingga seorang mujahid fi sabilillah Ta’ala pulang.” (Muttafaq ‘Alaih)
------------------------------
Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang bersabda kepada Ummu Haritsah binti Nu’man -putranya gugur di perang badar-ketika dia bertanya kepada beliau (tentang nasib putranya): “Di mana dia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya dia ada di surga Firdaus yang tinggi.” (HR. Al Bukhari)
----------------------
Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada’ itu ada di dalam tembolok burung hijau. Baginya ada lentera-lentera yang tergantung di ‘Arsy. Mereka bebas menikmati surga sekehendak mereka, kemudian singgah pada lentera-lentera itu. Kemudian Rabb mereka memperlihatkan diri kepada mereka dengan jelas, lalu bertanya: “Apakah kalian menginginkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Apalagi yang kami inginkan sedangkan kami bisa menikmati surga dengan sekehendak kami?” Rabb mereka bertanya seperti itu sebanyak tiga kali. Maka tatkala mereka merasa bahwasanya mereka harus minta sesuatu, mereka berkata, “Wahai Rabb kami! kami ingin ruh kami dikembalikan ke jasad-jasad kami sehingga kami dapat berperang di jalan-Mu sekali lagi. “Maka tatkala Dia melihat bahwasanya mereka tidak mempunyai keinginan lagi, mereka ditinggalkan.” (HR. Muslim)
---------------

Hadits Muslim 29
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَهُ وَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ مِنْ الْعَرَبِ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ لِأَبِي بَكْرٍ كَيْفَ تُقَاتِلُ النَّاسَ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ الْمَالِ وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عِقَالًا كَانُوا يُؤَدُّونَهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ رَأَيْتُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ شَرَحَ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ لِلْقِتَالِ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ الْحَقُّ
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka barangsiapa yg mengucapkan, ‘Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah’, maka sungguh dia telah menjaga harta & jiwanya dari (seranganku) kecuali dgn hak Islam, & hisabnya diserahkan kepada Allah.’ Maka Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku akan memerangi orang yg membedakan antara shalat & zakat, karena zakat adl (tuntuan) hak terhadap harta. Demi Allah, kalau mereka menghalangiku karena keengganan mereka sedangkan mereka pernah membayarnya kepada Rasulullah , aku tetap akan memerangi mereka karena keengganan mereka.’ Maka Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Demi Allah tidaklah dia melainkan bahwa aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (mereka) lalu aku mengetahui bahwa ia adl kebenaran’. [HR. Muslim No.29].

=========================

JIHAD, ….. Amalan Yang PALING UTAMA..... Jihad amal ibadah terTINGGI

-------------------------------
DEFINISI JIHAD
Secara bahasa (etimologi), lafazh jihad diambil dari kata:
جَهَدَ : اَلْـجَهْدُ، اَلْـجُهْدُ = اَلطَّاقَةُ، اَلْمَشَقَّةُ، اَلْوُسْعُ.
------------------
Yang berarti kekuatanusaha, susah payah, dan kemampuan.[1]

Menurut ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah (wafat th. 425 H), bahwa اَلْـجَهْدُ berarti kesulitan dan اَلْـجُهْدُ berarti kemampuan.[2]. Kata jihad ( اَلْـجِهَادُ ) diambil dari kata: جَاهَدَ – يُـجَاهِدُ – جِهَادًا .
--------------------------------
Menurut istilah (terminologi), arti jihad adalah:
اَلْـجِهَادُ : مُـحَارَبَةُ الْكُفَّارِ وَهُوَ الْمُغَالَبَةُ وَاسْتِفْرَاغُ مَا فِـيْ الْوُسْعِ وَالطَّاقَةِ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ.

“Jihad adalah memerangi orang kafiryaitu berusaha dengan sungguh-sungguh mencurahkan kekuatan dan kemampuanbaik berupa perkataan atau perbuatan.”
---------------------------------
Dikatakan juga:

اَلْـجِهَادُ وَالْمُجَاهَدَةُ: اِسْتِفْرَاغُ الْوُسْعِ فِـيْ مُدَافَعَةِ الْعَدُوِّ.

“Jihad artinya mencurahkan segala kemampuan untuk memerangi musuh.”
--------------------------------

Firman Allah Azza wa Jalla,

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur-an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dia-lah Pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” [Al-Hajj/22 : 78]
==============================
Jihad amal ibadah tertinggi
------------
Kalau melihat sejarah salafusholeh, dalam kehidupan sehari-hari diliputi dengan nilai-nilai takwa, akhlak mulia, berbhakti kepada orang tua, selalu punya semangat dakwah dan pada akhirnya ditutup dengan jihad, dan syahid. Maka kita diharuskan meniru mereka, Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya

Orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam berbuat kabajikan, maka Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Allah menyiapkan surga bagi mereka. Di bawah surga mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Demikian itulah keberuntungan yang besar bagi penghuni surga. (QS At-Taubah[9]100)

Allah begitu mengangkat setinggi-tingginya orang mukmin yang pergi berjihad,Sesungguhnya surga memiliki seratus (100) derajat (tingkat) yang dipersiapkan oleh Allah kepada orang-orang yang berjihad fii sabilillah, perbandingan antara satu derajat yang lain seperti antara langit dan bumi. Jika kalian memohon kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus, karena ia adalah tempat yang berada di tengah-tengah, tapi derajatnya paling tinggi, diatasnya terdapat arasy Tuhan dan memancar darinya sungai-sungai surga

Dari Abu Said, Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ridha menjadikan Allah sebagai Tuhannyamenjadikan Islam agamanya dan menjadikan Muhammad sebagai nabinya, maka ia wajib masuk surga. “Mendengar hal itu Abu Said heran dan berkata, “Ulangi lagi wahai Rasulullah. Maka beliau pun mengulanginya, kemudian bersabda, Selain itu, Allah mengangkat derajat hamba-Nya yang taat seratus kali lipat di dalam surga, perbandingan antara derajat yang satu dengan lainnya seperti antara langit dan bumi. Kemudian Abu Said berkata, “Amal apa yang bisa menjadikan seperti itu, wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Yaitu jihad fii sabilillah, Yaitu jihad fii sabilillah, (Dua kali)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata mengomentari hadits ini, “Kedudukan mujahid di surga sangat tinggi sejarak 50 ribu tahun

Ibnu Taimiyah memprioritaskan nafkah untuk jihad fii sabilillah daripada untuk orang-orang miskin dan lapar, meskipun mereka mati karena kelaparan. Karena kalian orang-orang miskin mati, berarti mereka mati di tangan Allah. Adapun orang-orang yang berjihad, mereka mati ditangan musuh-musuh Islam. Imam Ahmad mengatakan jihad lebih utama daripada haji, padahal tanggungan haji itu wajib.

Menjawab pertanyaan Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu perihal amal yang memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, Rasulullah saw menyampaikan kepadanya puncak amal Islam, yakni jihad fii sabilillah.

“Pokok urusan adalah Islam, tiangnya itu shalat, sedangkan puncaknya [adalah jihad.” (HR. Al-Tirmidzi)

Dalam redaksi lainnya, Muadz bin Jabal mengatakan, “Kami pernah bersama Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam pada perang Tabuk, lalu beliau bersabda: “Jika kamu mau akan kuberitahukan kepadamu tentang pokok urusan, tiangnya, dan puncaknya?” Aku menjawab, “Tentu saja mau wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Adapun pokok urusan adalah Islam. Sementara tiangnya adalah shalat. Sedangkan puncaknya adalah jihad.”

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda,”Tingkatan keislaman yang paling tinggi adalah jihad di jalan Allah. Tidak ada yang dapat meraihnya kecuali yang paling utama di antara mereka (HR Thabrani)

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidur dan istirahatnya seseorang di jalan Allah lebih utama daripada dunia dan segala isinya (HR Bukhari & Muslim)

Begitu tingginya nilai jihad di hadapan Allah, jika seseorang memberangkatkan atau membiayai seseorang untuk berjihad sama nilai pahala dengan yang berjihad,

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyediakan bekal untuk orang yang berperang fisabilillah, maka sesungguhnya ia telah berperang. Dan barangsiapa yang menggantikan orang-orang berperang (dalam mencukupi kebutuhan keluarganya), maka sesungguhnya ia telah berperang

Demikian juga niatnya, Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan penuh keikhlasan dan kejujuran, maka Allah akan mengantarkannya ke derajat kematian sebagai seorang syahid, kendati dia meninggal di atas tempat tidurnya (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Begitu tingginya nilai jihad sampai-sampai Allah menghadiahkan bagi sang syahid untuk memberi syafaat 70 orang keluarganya ke surga Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang mati syahid akan mendapatkan tujuh perkara dari Allah. Pertama, dosanya diampuni pada tetasan pertama dari darahnya. Keduatempat untuknya diperlihatkan dalam surga. Ketiga, di hiasi dengan perhiasan iman. Keempat diselamatkan dari azab kubur. Kelimat, diselamatkan dari bencana dahsyat. Keenam, mahkota keangungan dipakaikan di kepalanya. Mahkota itu terbuat dari yaqult yang lebih baik daripada dunia berserta segala isinya, di juga dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari surga, ketujuahm dia juga bisa memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang dari karib-kerabatnya (HR Imam Ahmad dan Thabrani)

Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam menyerupakan Islam dengan seekor unta. Karena unta merupakan kendaraan yang bisa menghantarkan seseorang ke tempat yang dikehendakinya. Begitu juga Islam, ia menghantarkan seorang muslim dalam perjalanan duniawi kepada tempat yang terindah yang ditujunya, yakni surga. Lalu beliau saw menyerupakan kepala unta dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan hampir setiap orang memungkinkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat sebagaimana seseorang bisa mencapai kepala unta dengan memegang atau melihatnya. Hal ini berbeda dengan jihad yang diserupakan dengan punuk unta, bagian tertinggi darinya. Tidak setiap orang bisa sampai kepadanya kecuali orang yang tinggi. Begitu juga jihad tidak direngkuh kecuali oleh orang mukmin yang utama.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, “Rasulullah, amal apakah yang paling utama? Sholat tepat waktunya, “Jawab Nabi saw. Kemudian aku kembali bertanya, “Setelah itu apa lagi wahai Rasulullah? Berbhakti kepada kedua orang tua, “Jawabnya. Apa lagi wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Berjihad di jalan Allah.” Kemudian Rasulullah diam, jika aku masih meneruskan pertanyaanku, pasti dia akan menjawab lagi (HR Tirmidzi)

==============================
Keagungan Jihad di Dalam al-Quran

Al-Quran telah menempatkan jihad pada urutan yang paling utama diantara ibadah-ibadah yang lain. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas, agar kaum Muslim mencintai Allah dan RasulNya, serta jihad di jalan Allah di atas cintanya kepada yang lain. Allah swt berfirman;

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”[al-Taubah:24]

Al-Quran juga membandingkan perbuatan-perbuatan baik di dalam Islam dengan aktivitas jihad fi sabilillah. Allah swt berfirman:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.”[al-Taubah:19]

Al-Quran juga melebihkan mujahid (orang yang pergi berjihad) di atas orang tidak pergi berjihad. Allah swt berfirman:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا(95)دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar;(yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Nisaa’ : 95-96]

Keutamaan dan Keluhuran Jihad di Dalam Sunnah

Hadits-hadits shahih telah menuturkan keagungan dan keluhuran jihad fi sabilillah di atas amal-amal shaleh yang lain.

1. Jihad Adalah Amal Yang Paling Utama

Di dalam sebuah hadits dituturkan, bahwa Rasulullah saw telah menetapkan kedudukan jihad sebagai amal yang utama dibandingkan dengan amal-amal yang lain, setelah beriman kepada Allah swt. Bahkan, jihad ditempatkan sebagai ra’s al-‘amal (pangkal dari amal). Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Dzarr ra, bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ والْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Amal apa yang paling utama? Nabi saw menjawab, “Iman kepada Allah, dan jihad di jalanNya.”[HR. Bukhari] Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, ‘Hadits ini menunjukkan bahwa jihad merupakan amal yang paling utama setelah iman kepada Allah.”[1]

2. Orang Yang Pergi Berjihad Tidak Bisa Ditandingi Oleh Orang Yang Tidak Berangkat Berjihad

Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa kaum Mukmin yang tidak berangkat jihad, meskipun ia berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan amal kebaikan dan taqwa, dirinya tidak mampu menyamai orang yang pergi ke medan jihad. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasanya para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw:

مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ لَا تَسْتَطِيعُونَهُ قَالَ فَأَعَادُوا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ لَا تَسْتَطِيعُونَهُ وَقَالَ فِي الثَّالِثَةِ مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

“Ya Rasulullah! Amal apa yang bisa menyamai jihad fi sabilillah? Nabi saw bersabda, “Kalian semua tentu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Para shahabat pun mengulangi pertanyaannya dua atau hingga tiga kali, namun setiap diajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw menjawab, “Kalian tidak akan mampu mengerjakannya.” Selanjutnya, pada pertanyaan yang ketiga, beliau saw bersabda, “Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah seperti halnya shaaim (orang yang berpuasa) yang selalu mentaati ayat-ayat Allah, dan ia tidak berhenti dari sholat dan puasanya, hingga mujahid di jalan Allah itu pulang kembali.” [HR. Muslim] Ini adalah redaksi hadits menurut versi Muslim. Sedangkan menurut versi Imam Bukhari disebutkan, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw, dan bertanya, “Tunjukkan kepada saya, amal apa yang bisa menyamai jihad? Nabi saw menjawab, “Aku tidak mendapati amal yang bisa menyamai jihad? Kemudian beliau saw bertanya, “Apakah kamu mampu (mengerjakannya), jika seorang mujahid pergi berjihad, lalu kamu masuk ke masjidmu, kamu kerjakan sholat tanpa pernah berhenti, dan kamu kerjakan puasa tanpa pernah berbuka? Kemudian ia berkata, “Lantas, siapa yang mampu mengerjakan hal itu?” Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya, berperangnya seorang mujahid berapapun lamanya, niscaya akan ditulis baginya kebaikan-kebaikan.”[HR. Bukhari]

Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fath al-Baariy menyatakan, “Imam Fudlail bin ‘Iyadl mengatakan, “Hadits ini menjelaskan keagungan jihad. Sebab, puasa dan ibadah-ibadah lain yang telah disebutkan keutamaan-keutamaannya di dalam hadits ini, seluruhnya setara dengan jihad. Bahkan, semua hal mubah yang dilakukan oleh seorang mujahid sebanding dengan pahala orang yang mengerjakan sholat dan ibadah lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda, “Kamu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Sedangkan keutamaan tidak ditetapkan dengan jalan qiyas, akan tetapi ia adalah ketetapan dari Allah swt kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Hadits ini menjadi bukti, bahwa jihad adalah seutama-utama amal secara mutlak.”[2]

Menurut Imam Nawawiy, hadits ini menunjukkan keagungan dan keutamaan jihad dibandingkan amal yang lain. Sebab, sholat, puasa, serta mentaati ayat-ayat Allah merupakan amal yang utama. Akan tetapi, Allah swt menyetarakan kedudukan seorang mujahid dengan orang yang mengerjakan sholat, puasa, dan mentaati ayat-ayatNya tanpa pernah berhenti –padahal ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusiapun. Oleh karena itu, hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan, bahwa jihad adalah seutama-utama ibadah di sisi Allah swt.[3]

3. Jihad Sebagai Wasilah Menghindarkan Siksa

Sunnah juga menjelaskan bahwa jihad fi sabilillah merupakan wasilah (media) untuk menyelamatkan diri dari api neraka dan siksa kelak di hari kiamat. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat, bahwa Rasulullah saw bersabda:

مَا اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ

Tidaklah akan dijilat api neraka, debu-debu yang melekat di kaki seorang hamba yang berjihad di jalan Allah.” [HR. Bukhari]

Hadits ini juga menunjukkan keutamaan dan keagungan jihad di jalan Allah swt. Ibnu al-Munayyir menyatakan, bahwa siapa saja yang kakinya berdebu karena berjihad di jalan Allah, niscaya Allah akan haramkan dirinya masuk ke dalam api neraka, baik ia berperang secara langsung maupun tidak.[4] Sebab, debu-debu yang melekat di kaki para mujahid akan menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Di dalam riwayat lain dinyatakan, “Siapa saja yang kakinya berdebu karena berjihad di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh 1000 tahun perjalanan penunggang kuda yang berjalan cepat.”[HR. Imam al-Thabarani di dalam al-Ausath].

4. Jihad Dapat Menghapus Dosa

Di riwayat yang lain juga diceritakan mengenai keberkahan jihad fi sabilillah meskipun dilakukan sebentar; yakni dapat menghapus dosa-dosa orang yang melakukannya. Dari Ibnu ‘Aidz diriwayatkan, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw keluar mendatangi jenazah seorang laki-laki. Ketika jenazah itu diletakkan, ‘Umar bin Khaththab berkata, “Jangan engkau sholatkan Ya Rasulullah! Dia itu orang fajir.” Nabi saw segera menoleh kepada orang banyak dan bertanya, “Apakah ada diantara kalian yang pernah melihat dirinya mengerjakan perbuatan Islamiy? Seorang laki-laki menjawab, “Benar, Ya Rasulullah! Ia pernah menyibukkan diri dalam jihad di jalan Allah di suatu malam.” Nabi saw pun mensholatinya, dan kemudian mengusap jenazah itu dengan tanah, seraya berkata, “Sesungguhnya, shahabatmu menduga engkau termasuk penduduk neraka, akan tetapi aku bersaksi bahwa engkau adalah penduduk surga.”[HR. Imam Baihaqiy di Sya’b al-Iimaan]; dan masih banyak lagi hadits-hadits yang memiliki pengertian yang sama.

5. Kaum Mujahid Adalah Seutama-utama Manusia

Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwasanya ia berkata:

أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ رَجُلٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah saw ditanya, siapakah orang yang mulia (utama)? Beliau menjawab, “Seorang laki-laki yang berjihad di jalan Allah.”[HR. Bukhari]

Hadits ini dengan sharih telah menjelaskan kepada kita, bahwa orang yang berjihad di jalan Allah menduduki tempat yang utama. Kaum salaf al-shaleh sangat memuliakan orang-orang yang dimuliakan Allah swt. Mereka berlomba-lomba untuk memuliakan dan menghormati orang yang berjihad di jalan Allah swt. Di dalam kitab al-Sair al-Kabiir dituturkan sebuah riwayat dari Mujahid (beliau adalah seorang tabi’in dan termasuk muridnya Ibnu Umar), bahwasanya ia (Mujahid) berkata, “Saya hendak pergi berjihad”. Mendengar ini, Ibnu Umar segera menuntun kudaku!! Aku pun melarang dirinya melakukan hal itu. Namun, ia berkata, “Apakah kamu tidak suka aku mendapatkan pahala? Sungguh, telah sampai berita kepada kami (Ibnu ‘Umar) bahwa orang yang membantu kaum Mujahid, maka kedudukannya diantara penduduk dunia tak ubahnya dengan kedudukan Malaikat Jibril diantara penduduk langit.”[5]

[1] Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 5/149

[2] Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 5/6

[3] Imam Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz 8/ 82-83

[4] al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 6/29-30

[5] al-Sair al-Kabiir, juz 1/30

=====================

Views All Time
Views All Time
36
Views Today
Views Today
1

Hits: 18

4 Comments

  1. aku sangat PUAS dan bersyukur sekali pada Allah SWT, dengan semua yg diperlihatkan (kasyaf & dream) Allah padaku …… masa depan SEMPURNAku (dream,kasyaf jannahku bersama Risalah hati-ku/Ten the light-ku), yang tidak pernah kulihat dan kurasakan di dunia ini.

  2. berhusnudzon, jika SEKARANG Risalah hatiku TIDAK CINTA aku, maka di dunia jannahku besok, … Risalah hatiku dg kehendak Allah akan diberi HATI yang sangat cinta padaku, seperti SEKARANG aku diberi Allah sangat CINTA pada Risalah hatiku. ……ATAU aku diberi FOTOCOPY/KLON Risalah hatiku = hal itu mudah bagi ALLAH SWT ……. Wallahua’lam

  3. Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Dan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) …walalhua’lam

Leave a Reply