Apakah manusia yg telah diberi mimpi ke surga atau diperlihatkan mata qalbu ke surga kelak= PASTI masuk surga ?? … ya jelas TIDAK, karena BELUM terjadi, kita TIDAK BOLEH meMASTIkan yang akan terjadi !!..... karena memastikan yang dilihat/kasyaf/diperlihatkan lewat mimpi = PASTI terjadi adalah keMUSYRIKan, menganggap TAKDIR yg BELUM terjadi, memMASTIkan akan terjadi……..… semua bisa terjadi di dunia dan akhirat = karena KEHENDAK ALLAH saja, ----------------- jika Allah tidak menghendaki= pasti TIDAK akan terjadi, jika Allah menghendaki = PASTI akan terjadi. Kun fayakun Allah SWT. --------------------------- bisa saja aku/kamu BESOK ke NERAKA karena kehendak Allah ---------- bisa saja aku/kamu BESOk ke surga karena kehendak Allah !!! -------------- semua karena USAHA dan KEHENDAK ALLAH saja !!!! ------------------------ bisa saja AKU/e-gojira atau RISALAH HATIKU/TEN THE LIGHTku ke NERAKA karena ketika ditimbang Allah lebih BANYAK DOSAnya/keburukannya daripada PAHALAnya/kebaikannya menurut SYARIAT ALLAH !!! ------------------------- atau bisa saja KAMU/DIA/MEREKA …dst ke NERAKA karena ketika ditimbang Allah lebih SEDIKIT PAHALAnya/kebaikannya  daripada  DOSAnya/keburukannya menurut SYARIAT ALLAH !!! ……………………………….. “memastikan manusia biasa/bukan nabi akan ke surga = salah satu DOSA BESAR … MUSYRIK “ … memastikan KEHENDAK ALLAH, yang HANYA ALLAH saja yg maha mengetahui !!!  .. ============ MAKA walau aku/kamu sudah diperlihatkan JANNAH tetap TIDAK BOLEH memastikan akan ke surga KARENA belum TERJADI … belum terlihat mendapatkan TAKDIR BAIK dari ALLAH (jannah setelah mati), belum dialami secara NYATA. … wallahua’lam ………… tetapi ALLAH selalu memberi TANDA-TANDA kepada orang BERIMAN/mukmin/mukminah …… ini tandanya !! manusia akan ke surga atau  ke NERAKA ================= TANDA manusia AKAN .... ke SURGA atau ke NERAKA... terlihat JELAS ------------>> .... orang-orang yang bahagia {ke SURGA} , maka mereka akan mudah utk ....mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia ----->> .... mereka yang celaka {ke NERAKA}, akan mudah ..... mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka”================ cara mudah memahami TAKDIR Allah .... pada manusia ke SURGA atau ke NERAKA -----------Dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda, ‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’ (HR. Bukhari & Muslim) ----------Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah utk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah & bertakwa, & membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir & Muslim, kitab al-Qadar)--------

Apakah manusia yg telah diberi mimpi ke surga atau diperlihatkan mata qalbu ke surga kelak= PASTI masuk surga ?? … ya jelas TIDAK, karena BELUM terjadi, kita TIDAK BOLEH meMASTIkan yang akan terjadi !!..... karena memastikan yang dilihat/kasyaf/diperlihatkan lewat mimpi = PASTI terjadi adalah keMUSYRIKan, menganggap TAKDIR yg BELUM terjadi, memMASTIkan akan terjadi……..… semua bisa terjadi di dunia dan akhirat = karena KEHENDAK ALLAH saja, ----------------- jika Allah tidak menghendaki= pasti TIDAK akan terjadi, jika Allah menghendaki = PASTI akan terjadi. Kun fayakun Allah SWT. --------------------------- bisa saja aku/kamu BESOK ke NERAKA karena kehendak Allah ---------- bisa saja aku/kamu BESOk ke surga karena kehendak Allah !!! -------------- semua karena USAHA dan KEHENDAK ALLAH saja !!!! ------------------------ bisa saja AKU/e-gojira atau RISALAH HATIKU/TEN THE LIGHTku ke NERAKA karena ketika ditimbang Allah lebih BANYAK DOSAnya/keburukannya daripada PAHALAnya/kebaikannya menurut SYARIAT ALLAH !!! ------------------------- atau bisa saja KAMU/DIA/MEREKA …dst ke NERAKA karena ketika ditimbang Allah lebih SEDIKIT PAHALAnya/kebaikannya  daripada  DOSAnya/keburukannya menurut SYARIAT ALLAH !!! ……………………………….. “memastikan manusia biasa/bukan nabi akan ke surga = salah satu DOSA BESARMUSYRIK “ … memastikan KEHENDAK ALLAH, yang HANYA ALLAH saja yg maha mengetahui !!!  .. ============ MAKA walau aku/kamu sudah diperlihatkan JANNAH tetap TIDAK BOLEH memastikan akan ke surga KARENA belum TERJADI … belum terlihat mendapatkan TAKDIR BAIK dari ALLAH (jannah setelah mati), belum dialami secara NYATA. … wallahua’lam ………… tetapi ALLAH selalu memberi TANDA-TANDA kepada orang BERIMAN/mukmin/mukminah …… ini tandanya !! manusia akan ke surga atau  ke NERAKA =================

< BILA sudahKAU TAKDIRkan ya Allah …. PASTI “akan” terjadi > baru KUPAHAM arti destiny …. takdir pada manusia … BAIK dan BURUK
----------------------------
>> orang yg ditakdirkan ke SURGA = akan diMUDAHkan beramal ke SURGA
>> orang yg ditakdirkan ke NERAKA= akan diMUDAHkan beramal ke NERAKA
SURGA – NERAKA SESEORANG …. sudah DiTENTUkan Allah (TAKDIR Allah)

< << Rasulullah saw. ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni surga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kemudian beliau ditanya lagi: Jadi UNTUK APA ORANG-ORANG HARUS BERAMAL? Rasulullah saw. menjawab: Setiap orang AKAN DIMUDAHKAN untuk melakukan APA YANG TELAH MENJADI TAKDIRNYA. (Shahih Muslim No.4789) >>>

=======================

TANDA manusia AKAN .... ke SURGA atau ke NERAKA... terlihat JELAS

----------------------------------------------------------------
>> .... orang-orang yang bahagia {ke SURGA} , maka mereka akan mudah utk ....mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia
------------------------------------------
>> ... mereka yang celaka {ke NERAKA}, akan mudah ..... mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka
--------------------------------------cara mudah memahami TAKDIR Allah .... pada manusia ke SURGA atau ke NERAKA
------------------------------------------------------------


Dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda, ‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’ (HR. Bukhari & Muslim)
-----------------------------------------
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية

Beramallah kalianSebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagiamaka mereka akan mudah utk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah & bertakwa, & membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir & Muslimkitab al-Qadar)

------------------ ref yang hampir sama ---------------

Hadis riwayat Ali ra, ia berkata:
Kami sedang mengiringi sebuah jenazah di Baqi Gharqad (sebuah tempat pemakaman di Madinah), lalu datanglah Rasulullah saw. menghampiri kami. Beliau segera duduk dan kami pun ikut duduk di sekeliling beliau yang ketika itu memegang sebatang tongkat kecil.
Beliau menundukkan kepalanya dan mulailah membuat goresan-goresan kecil di tanah dengan tongkatnya itu kemudian beliau bersabda: TIDAK ADA SEORANG PUN DARI KAMU SEKALIAN ATAU TIDAK ADA SATU JIWA PUN YANG HIDUP KECUALI TELAH ALLAH TENTUKAN KEDUDUKANNYA DI DALAM SURGA ATAUKAH DI DALAM NERAKA serta apakah ia sebagai seorang yang sengsara ataukah sebagai seorang yang bahagia.

>>> Lalu seorang lelaki tiba-tiba bertanya: Wahai Rasulullah! Kalau begitu apakah tidak sebaiknya kita pasrah saja kepada takdir kita dan meninggalkan amal sholeh? Jawaban Rasulullah : Barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang berbahagia, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang berbahagia. Dan barang siapa yang telah ditentukan sebagai orang yang sengsara, maka dia akan mengarah kepada perbuatan orang-orang yang sengsara.

Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: BERAMALLAH! Karena setiap orang AKAN DIPERMUDAH! Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang berbahagia, maka mereka akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang bahagia. Adapun orang-orang yang ditentukan sebagai orang sengsara, maka mereka juga akan dimudahkan untuk melakukan amalan orang-orang sengsara.

Kemudian beliau membacakan ayat berikut ini: Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim No.4786)

=======================

Allah memberi keBEBASan manusia di DUNIA ----- ingin "BERIMAN pada Allah"  << silahkan >>
----------------------
ingin menjadi "MUSUH Allah" .... KAFIRMUSYRIKMUNAFIKFASIK/AL WAHN/ Muslim 72 golongan/ Muslim BUIH {=manusia DZALIM} ...  ke NERAKA  << ya ...Silahkan >>
-------------------------------------
dan siapa saja yang TIDAK berHUKUM dengan apa-apa yang di turunkan oleh Allah, maka mereka itulah orang-orang KAFIR.... {Al-maidah (5) ayat 44}
------------------------------
pilihan ke SURGA atau ke NERAKA = PILIHAN manusia itu SENDIRI ......
-----------------------------------
>SURGA = adalah CIPTAAN Allah ... Allah yang menentukan SYARAT-SYARAT ke SURGA-Nya
-------------------------------------
> NERAKA = adalah CIPTAAN Allah ... Allah yang menentukan SYARAT-SYARAT ke NERAKA-Nya
-------------------------

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia BERIMAN {فَلْيُؤْمِن}, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia KAFIR {فَلْيَكْفُرْ}". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang DZALIM {لِلظّٰلِمِينَ} itu NERAKA {نَارً}, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minumniscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang MENDIDIH {كَٱلْمُهْلِ/logam mendidih} yang mengHANGUSkan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling BURUK { وَسَآءَتْ}. {Q.s. Al-Kahfi: 29}
--------------------

Sesungguhnya kondisi ummat Islam sekarang ini dalam marabahaya besar. Musuh-musuh mereka telah mengepung dan mengintai serta membidikkan senjatanya ke arah ummat dalam keadaan ummat tidak sadar, yang tujuan akhir mereka adalah membuat kacau dan menggoncangkan ummat Islam serta mengenyahkan mereka dari muka bumi, seperti yang terjadi di Andalusia, Spanyol, Palestina dan negeri lainnya. Banyak cara yang mereka tempuh untuk mencapai sasarannya. Oleh karena itu mengetahui siapa musuh-musuh Islam adalah perlu, agar kita mengetahui jalan keluar dan menghindarinya.
Musuh-musuh itu terbagi-bagi menjadi musuh dari luar dan musuh dari dalam.
1. Musuh dari luar
1. Syaithan
Syaithan adalah musuh pertama ummat manusia. Dan permusuhannya terhadap Adam, bapak sumua manusia sudah terkenal. Dalam kitab suci-Nya Allah berfirman,

(Al Isra’: 61-65)
Allah berfirman dalam surat Thaha: 110,

Ibnul Qayyim berkata, “Karena jihad memerangi musuh-musuh Allah yang di luar cabang jihad dari jihad terhadap nafsu, sebagaimana kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mujahid adalah orang yang memerangi dirinya dalam ketaatan kepada Allah dan muhajir adalah orang yang berhijrah dari apa yang dilarang Allah”, maka jihad melawan nafsu merupakan sendi dan didahulukan daripada jihad melawan musuh yang di luar. Karena orang yang tidak memerangi nafsunya untuk menjalankan semua yang diperintah dan menjauhi semua yang dilarang serta memeranginya di jalan Allah tidak mungkin berjihad melawan musuh yang di luar. Bagaimana dia melawan musuh yang diluar sementara musuh dari dalam dirinya menguasainya dan tidak dia perangi di jalan Allah?
Seorang hamba diuji untuk memerangi kedua musuhnya dan di antaranya kedua musuhnya ada musuh ketiga dan tidak mungkin memerangi kedua musuh pertamanya kecuali haus memerangi musuh yang ketiga.
Musuh yang terakhir ini berdiri di depannya, memperlambat perjuangan melawan kedua musuhnya, dia senantiasa mengesankan bahwa memerangi kedua musuhnya sangat berat, dapat membuat miskin dan kehilangan banyak kesenangan dunia.
Maka tidak mungkin memerangi kedua musuhnya tadi kecuali setelah berhasil menghancurkan musuh yang satu ini dan memeranginya merupakan dasar berpijak dalam memerangi keduanya, dialah syaithan yang Allah firmankan, “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia sebagai musuh”. (Fathir: 6)
Seorang hamba diuji untuk memerangi kedua musuhnya dan di antara kedua musuhnya ada musuh ketiga dan tidak mungkin memerangi kedua musuh pertamanya kecuali harus memerangi musuh yang ketiga.
Musuh yang terakhir ini berdiri di depannya, memeperlambat perjuangan kedua musuhnya, dia senantiasa mengesankan bahwa memerangi kedua musuhnya sangat berat, dapat membuat muskin dan kehilangan banyak kesenangan dunia.
Maka tidak mungkin memerangi kedua musuhnya tadi kecuali setelah berhasil menghancurkan musuh yang satu ini dan memeranginya merupakan dasar berpijak dalam memerangi keduanya, dialah syaithan yang Allah firmankan, “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah dia sebagai musuh”. (Fathir: 6)
Perintah menjadikan syaithan sebagai musuh emnunjukkan keharusan mencurahkan segala upaya dalam memeranginya. Dia adalah musuh yang tidak pernah bosan berjuang memerangihamba-hamba sebanyak nafas mereka”. (Zaadul Ma’ad 3/6)

2. Orang-orang kafir dan orang-orang musyrik/penyembah berhala
Allah ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk memerangi orang-orang kafir dalam banyak ayat-Nya, antara lain:
Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At taubah: 123)
Allah menerangkan tujuan puncak dari memerangi orang-orang kafir dalam firman-Nya, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama ini semata-mata ini untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasannya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (Al Anfal: 39-40)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mengatakan laa ilaaha illallah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan sholat dan membayar zakat. Maka jika mereka telah melakukan itu, mereka telah menjaga darah dan harta mereka dariku (aman dan tidak dirampas sebagai harta rampasan) dan perhitungan amal mereka di sisi Allah.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)
Tujuan pokok orang-orang kafir memerangi orang-orang yang beriman adalah melenyapkan agama Allah dan menghancurkan kaum muslimin. Allah berfirman, “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yagn benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At Taubah: 32-33)
Yang sekarang ini kita yang berada dalam kepungan mereka tinggal menunggu waktu untuk membinasakan ummat Islam. Jadi nasib kaum muslimin sangat membahayakan yang mengharuskan mereka terbangun dari tidur nyenyak, sangat waspada dan mencambuk mereka berusaha menjauhkan mushu-musuh mereka dari negeri muslimin. Insya Allah akan kita bahas jalan keluar dari marabahaya ini dan jalan selamat dari musuh-musuh tersebut.

  1. Musuh dari dalam
    Musuh dari dalam banyak macamnya, antara lain:
        1. Nafsu
    Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengataakn tentang nafsu yang kemudian diabadikan Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya nafsu memerintahkan kepada kejelekan.” (Yusuf: 53).
    Dalam surat Al Ankabut disebutkan, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) dalam mencari keridhaan Kami niscaya akan kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (Al Ankabut: 69).
    Sebagian tabi’in mengatakan bahwa jihad memerangi nafsu adalah jihad yang terbesar (akbar). Dan Ibnul Qayyim mengatakan, “Jihad ada empat tingkatan: jihad melawan nafsu, jihad melawan syaithan, jihad melawan orang-orang kafir dan jihad melawan orang-orang munafik. Sedangkan jihad melawan nafsu ada empat tingkatan, yaitu
    Pertama: Memerangi nafsu untuk mempelajari hidayah dan agama yang benar yang merupakan komponen kebahagiaan seseorang di dua negeri. Manakala kehilangan ilmu ini maka seseorang akan celaka di dua negeri.
    Kedua: Memerangi nafsu untuk mengamalkan ilmunya, jika tidak, maka kalau sekedar berilmu tanpa amal maka paling tidak ilmunya tidak memberi manfaat jika tidak membahayakannya.
    Ketiga: Memerangi nafsu untuk mendakwahkan ilmunya, jika tidak maka dia termasuk orang yang menyembunyikan ilmu hidayah yang telah Allah turunkan, sehingga ilmunya tidak bermanfaat dan tidak menyelamatkannya dari adzab Allah.
    Keempat: Memerangi nafsu untuk bersabar atas kesulitan dakwah, gangguan manusia dan memikul beban dakwah karena Allah. Manakala seseornag telah menyempirnakan keempat tingkatan ini dinamakan golongan Rabbaniyyin. Para salaf sepakat seorang alim tidak dinamakan dengan Rabbaniyin sampai mengenal kebenaran, mengamalkannya dan mengajarkannya.
    Maka barangsiapa mengetahui kebenaran, mengamalkannya dan mengajarkannya maka dia dipanggil sebagai pembesar di kerajaan langit.”
    Ibnu Rajab berkata, “Berkata Ibnu Bathal, “Salah satu dari dua keberanian adalah: Sabar sesaat”. Ini adalah jihad terhadap musuh dari luar, yaitu orang-orang kafir, demikian juga jihad terhadao musuh dari dalam, yaitu jihad melawan hawa dan nafsu. Sesungguhnya jihda terhadap keduanya adalah jihad yang terbesar sebagaimana kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mujahid adalah orang yang menundukkan nafsunya untuk taat kepada Allah.”
    Abdullah bin Amr seorang shahabat berkata tentang jihad, “Mulailah dengan dirimu lalu peranghilah dirimu”. Ibrahim bin Abi Ablah berkata kepada pasukan yang baru saja pulang perang, “Kalian daru datang dari jihad kecil dan melum mengerjakan jihad yang lebih besar”. Mereka bertanya, “Apakah jihad yang besar?”, Dia menjawab, “Jihad yang lebih besar adalah jihad hati”. (Jadi ini bukan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang sering didengung-dengungkan para khatib, tapi hadits palsu yang maknanya sama dengan hadits shahih).
    Abu Bakar berkata kepada Umar ketika Umar akan menjabat khalifah, “Sesungguhnya perkara yang pertama kali aku peringatkan kepadamu adalah nafsumu yang pada dirimu”. Jihad ini membutuhkan kesabaran juga. Barangsiapa berabar memerangi nafsu, hawa dan syaithan, maka dia menang dan menguasai nafsunya dan jadilah dia penguasa yang mulia. Dan barangsiapa tidak sabar menghadapi nafsunya maka dia kalah dan tertawan dan jadilah dia seorang budak nafsu dan syaithan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya pertolongan bersama kesabaran”. Meliputi pertolongan terhadap dua jihad: jihad terhadap musuh luar dan jihad terhadap musuh bathin. Barangsiapa bersabar dalam menghadapi kedua musuhnya maka dia menang dan ditolong, dan barangsiapa tidak sabar menghadapi keduanya maka jadilah tawanan, kalah dan terbunuh”. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikamn Ibnu Rajab Al hambali).
    2. Orang-orang Munafik
    Musuh ini sangat membahayakan yang menampakkan persamaan terhadap Islam tetapi menyembunyikan sebaliknya, berkata dengan dalil-dalil Islam, bagian dari kulit orang Islam, bahkan ikut berperang dalam barisan kaum muslimin. Merekalah yang telah diperingatkan Allah dalam banyak ayat Al Qur’an, antara lain dalam surat Al Baqarah, At Taubah, Muhammad dan Munafikin. Dalam surat At Taubah atau dinamakan, “Surat yang menyingkap kejelekan orang-orang munafik”, karena di dalamnya disingkap hakikat dan makar mereka. Banyak macamnya orang-orang munafik dalam memerangi orang-orang beriman, di antaranya tidak ikut berperang, mencemooh orang yang bersedekah, menyelisiihi perjanjian-perjanjian, berbohong, khianat, menghinakan orang-orang yang beriman, mengadu domba kaum muslimin, lari mundur ketika peperangan berkecamuk, mencela syariat, membangun masjid dhirar untuk memfitnah dan memperolok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai kepada upaya membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manakala mereka gagal dalam upaya membunuh Nbai shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa hidup beliau, maka mereka berupaya membuat makar terhadap sunnah dan agamanya. Dan banyak sekali cara mereka dalam membuat makar terhadap sunnnah dan agama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Antara lain:
    1. Membuat madzhab syiah (mengkultuskan Ali) yang dipelopori oleh seorang Yahudi terlaknat Abdullah bin Saba’, bahkan dialah yang membuat madzhab Khawarij yang pertama kali memberontak terhadap khalifah Utsman bin Affan. Kemudian beliau tumpas hingga tinggal sedikit dan menyingkir di daerah Haura yang sisa-sisa pasukan ini dihabisi Ali radhiyallahuanhu.
    2. Membuat madzhab Qadariyah yang tidak mengakui ilmu (pengetahuan) Allah terhadap kejadian yang akan datang. Golongan ini dibentuk oleh Ma’bad Al Juhani.
    3. Membuat madzhab Jahmiyah (meniadakan nama dan sifat Allah) dan irja’ (hanya mengharap tanpa usaha, atau iman itu cuma hati). Pendirinya adalah Jahm bin Shofwan.
    4. Membuat bid’ah mu’tazilah yang mendahulukan akal daripada Al Qur’an dan As Sunnah, mereka hendak membuat makar terhadap syariat dengan makar terhadap syariat dan menggantinya dengan pikiran mereka yang dangkal.
    5. Membuat pemahaman bid’ah dalam memahami sifat dan nama Allah yaitu dengan membuang sebagian dan menetapkan sebagian.
    6. Tidak memfungsikan As Sunnah dan hanya mencukupkan dengan dalil Al Qur’an. Pemahaman ini diadopsi dari Mu’tazilah kemudian di jaman sekarang diekmbangkan dalam bentuk yang lebih jelek dari pada pendahulunya yang disebarkan oleh kelompok yang menamakan dirinya dengan Al Qur’aniyun. (kalau di Indonesia semacam Isa Bugis, Islam liberal dan lan-lain).
    7. Meninggalkan hukum Al Qur’an dan menggantikannya dengan undang-undang produk manusia yang mengotori akal menusia bersamaan bercampuran dengan kebenaran.
    8. Memisahkan hukum Allah dari kehidupan kaum muslimin yang digencarkan oleh orang-orang komunis dan orientalis serta oportunis.
    9. Merendahkan As Sunnah dengan mencela orang yang berpegang teguh dengannya di sisi lain mempopulerkan ahli bid’ah semacam Syiah (dahulu Khamaini).

Musuh dari dalam ketiga 3: Ahli Bid’ah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa memerangi ahli bid’ah termasuk jihad yang paling afdhal dan penting. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memerangi khawarij, beliau berkata, “Akan keluar di akhir jaman kaum yang masih muda, picik pikiran, berbicara dari ucapan sang pencipta, yang membaca Al Qur’an tidak melampaui ternggorokan mereka (tidak paham apa yang dibaca), mereka keluar dari agama ini seperti anak panah keluar dari busurnya, jika kamu menjumpainya maka bunuhlah karena sesungguhnya membunuh mendapat pahala dari Allah pada hari kiamat”.
Bahaya mereka karena mereka berbicara atas nama Islam tetapi mencampurinya dengan bid’ah-bid’ah serta mereka mengaku di atas Al Qur’an dan As Sunnah. Allah juga memperingatkan kita dari ahli bid’ah dan ucapan mereka dalam firman-Nya, “Jika kamu melihat orang-orang yang berdalam-dalalm membicarakan ayat-ayat Allah maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa akan larangan itu maka janganlah kamu duduk dengan orang-orang yang dzalim itu setelah teringat akan larangan itu”. (Al An’am: 68)
Maksud berdalma-dalam membicarakan ayat-ayat Allah adalah menyampaikan isi ceramah yang bathil dengan gaya bahasa dan bicara yang menarik dan indah, menyeru kepada kebathilan, berpaling dari kebenaran dan memuji ahli bid’ah. (Taisirul Karimir Rahman, 222)
Ibnu Sirrin seorang tabi’in memandang bahwa manusia yang paling cepat murtad adalah ahli bid’ah dan ayat ini turun berkaitan dengan mereka. Ahli bid’ah yang membuat kesamaran terhadap agama, abstain (diam) terhadap nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah, dan menipu ummat, maka peringatan terhadap mereka semakin keras sebagaimana yang dilakukan para salaf yang shalih. Termasuk bahaya yang ditimbulkan ahlul bid’ah adalah perpecahan ummat dalam banyak kelompok yang fanatik terhadap kelompoknya masing-masing dan perselisihan mereka yang menyebabkan kelemahan dan kekalahan kaum muslimin.
Allah telah memerintahkan kita bersatu dalam agamanya, “Dan berpeganglah dengan tali agama Allah dan janganlah kamu berpecah belah”. Nabi juga bersabda, “Bersatu rahmat dan berpecah belah adzab”. Sedangkan ahli bid’ah berpisah dari jalan yang lurus lalu mereka sesat darinya. Inilah keadaan ummat sekarang.
Faktor kelemahan dan bercerai berainya ummat terbesar adalah ahli bid’ah, politikus yang mengatasnamakan Islam dan partai-partai. Termasuk ahli bid’ah yang telah menyimpang dan menyebarkan perpecahan dan kebencian di antara ummat adalah syi’ah, shufiyah, khawarij (mental pemberontak dan menjelek-jelekkan penguasa yang sah di muka umum), hizbut tahrir, ldii, jamus (jama’atul muslimin), nii, isa bugis, jama’ah ikhwanul muslimin dengan cabang-cabangnya yang banyak, jama’ah tabligh dan selain mereka dari ahli bid’ah yang merusak Islam dari dalam.

Musuh Dari Dalam yang Keempat 4: Ahli maksiat, mungkar dan penyebar kekejian dan kemungkaran.
Kemaksiatan adalah faktor kerusakan, turunnya musibah dan hilangnya barokah. Maksiat adalah menyelisihi perintah-perintah Allah dengan meninggalkan perintah-perintah-Nya, dan melakukan apa yang dilarang dengan menjalankan keharaman. Kemaksiatan yang terbesar menyekutukan ibadah kepada Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kedhaliman yang besar”.
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (An Nisa’ : 16)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ketika ditanya dosa apa yang terbesar? “Kamu menjadikan tandingan (dalam ibadah) bagi Allah, padahal dia yang mencipta kamu. Kemaksiatan merupakan faktor kelemahan iman dan ummat”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kamu berjual beli dengan riba, memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan musuh pada kalian dan Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian”. (HR. Abu dawud)

Kaum muslimin jika telah mencintai hartanya (dunianya) daripada agamanya dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menghinakan mereka sampai mereka mempelajari dan mengamalkan agama mereka. Tetapi jika mereka mendahulukan agama daripada kecintaan terhadap harta dan yang sejenisnya, maka mereka akan dimuliakan. Ketahuilah, bahwa pintu-pintu maksiat banyak sekali yang dapat masuk ke dalamnya kekafiran, kefasikan, dan kebid’ahan.

dari 1000 orang ….. 999 neraka … dan .. hanya 1 ke SURGA = menandakan BEGITU “sulitnya” ke SURGA …. tidak semudah manusia KIRA
………………………………………………………….
Penghuni Surga Itu Sedikit
Yang jadi masalah adalah ketika penghuni surga jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah penghuni neraka sebagai mana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Allah berfirman: “Wahai Adam!” maka ia menjawab: “Labbaik wa sa’daik” kemudian Allah berfirman: “Keluarkanlah dari keturunanmu delegasi neraka!” maka Adam bertanya: “Ya Rabb, apakah itu delegasi neraka?” Allah berfirman: “Dari setiap 1000 orang 999 di neraka dan hanya 1 orang yang masuk surga.” Maka ketika itu para sahabat yang mendengar bergemuruh membicarakan hal tersebut. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah siapakah di antara kami yang menjadi satu orang tersebut?” Maka beliau bersabda: “Bergembiralah, karena kalian berada di dalam dua umattidaklah umat tersebut berbaur dengan umat yang lain melainkan akan memperbanyaknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Pada lafaz yang lain: “Dan tidaklah posisi kalian di antara manusia melainkan seperti rambut putih di kulit sapi yang hitam, atau seperti rambut hitam di kulit sapi yang putih.” (HR. Bukhari dan Muslim)
…………………………………………….
>>> 999 = NERAKA …. 1 SAJA = SURGA
Dan juga dalam sebuah Hadits Qudsi :

Allah berfirman pada hari kiamat : Hai Adam, bangkitkanlah sembilan ratus sembilan puluh sembilan keturunanmu (untuk ditempatkan di neraka) dan satu di antara mereka itu di tempatkan dalam surga. (Ketika Rosulullah Saw. menerimanya, kemudian menyampaikannya kepada sahabat), beliau menangis tersedu-sedu, demikian pula para sahabat lainnya. Demi Allah yang menguasai jiwaku. (Dibandingkan dengan umat-umat Nabi yang lain, umatku hanyalah bagaikan sehelai bulu putih yang terdapat pada kulit lembu yang berbulu hitam). (Hadits Qudsi riwayat Thobrani dalam kitab Al Kabir, yang bersumber dari Abu Darda’ ).
…………………………………………………………..

karena TERGELINCIR … dalam godaan SYETAN dan IBLIS
<<< orang yang ber-Iman dalam Islam secara Kaffah itu relatif sedikit,>>>>
demikian itu telah merupakan bagian dari sunnah kauniyah atas Kehendak-Nya yang qodim, sebagaimana telah diisyaratkan dalam Firman-Nya :

>>> Dan sebahagian besar manusia TIDAK akan BERIMAN – walaupun kamu sangat menginginkannya-.(Q.S. 12. Yusuf)
>>> Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang FASIK. ( Q.S. 5. Al Maidah : 49 )
>>> Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh dan amat sedikitlah mereka ini .(Q.S. 38. Shaat : 24 ).
…………………………………………………………
>>> digelincirkan ke NERAKA oleh sumpah iblis yang Allah ceritakan dalam

Surat Sad (QS. 38:82)

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, (82)

Al-Araf (QS. 7:17)

Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur [ta’at]. (17)
……………………………………………………………………
>>> melalui wanita syetan menggoda:
Wanita itu adalah aurat, maka apabila ia keluar, diincar oleh syetan. (Hadits Shahih Sunan Tirmidzi no 936, dan Thabrani di Al-Kabier juz 3/ 64, dan lihat Al-Irwaa’ no 273)
………………………………….ref Apa Itu Setan?

Setan (Syaithan) berasal dari kata kerja syathana yang mengandung arti menyalahi, menjauhi. Setan artinya pembangkang pendurhaka. Secara istilah, setan adalah makhluk durhaka yang perbuatannya selalu menyesatkan dan menghalangi dari jalan kebenaran (al-haq). Makhluk durhaka seperti ini bisa dari bangsa jin dan manusia (QS. 114: 1-6/QS. 6:112). Makhluk yang pertama kali durhaka kepada Allah adalah iblis. Maka iblis itu disebut setan. Keturunan iblis yang durhaka juga disebut setan (QS. 2 : 36/4 : 118).

===================

Ketika kita mengimani Allah Ta’ala telah menakdirkan segala sesuatu dan Allah mengilmui tentang hal tersebut, hendaknya kita berpikir positif Allah menakdirkan bagi kita hidayah dan kebaikan.

Allah Ta’ala telah mewajibkan bagi kita syariat-Nya dan memerintahkan kita dengan syariat tersebut. Sehingga yang tersisa bagi kita hanya ada dua pilihan.

Pertama, kita berprasangka baik bahwa Allah. Dia telah menetapkan takdir yang baik bagi kita dan menakdirkan kita sebagai penghuni surga. Sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya rahmat-Nya itu mendahului kemarahan-Nya, ridha-Nya lebih Dia kedepankan dari pada rasa kebencian-Nya. Tempuhlah takdir yang demikian! Berlakulah dengan perbuatan layaknya calon penghuni surga. Setiap orang akan dimudahkan menuju takdirnya.

Kedua, kita berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala. Dia akan memasukkan kita ke neraka dan kita memilih jalan-jalan yang mengantarkan kita ke neraka, wal’iyadzbillah.

Inilah keimanan kita terhadap takdir Allah yang merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Jangan sampai karena permasalahan ini tidak terjangkau oleh akal kita atau karena kita belum memahaminya, kemudian kita lebih mendahulukan berburuk sangka kepada Allah.

Dan ketika seseorang ketika melakukan sesuatu, dia dihadapkan pada pilihan; melakukannya ataukah membatalkannya. Sementara saat menghadapi pilihan tersebut, ia tak tahu apakah ia ditakdirkan melakukan kemaksiatan ataukah ketaatan. Kemudian, ketika ia memilih melakukan kemaksiatan, itu merupakan pilihannya namun keduanya terjadi berdasarkan takdir dari Allah. Lain halnya dgn orang yang dipaksa melakukan pelanggaran, ia tak dihukum disebabkan melakukan pelanggaran tersebut, karena ia dipaksa melakukannya, bukan berdasarkan pilihannya sendiri.

Makanya dalam catatan hadits, ada beberapa kejadian yang memperlihatkan Rasulullah marah dan mengecam ketika sahabat mempertanyakan soal takdir yang ada dalam kehendak Allah ini :

Musnad Ahmad 6381: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abu Hind dari 'Amru bin Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pernah keluar rumah dan orang-orang saat itu sedang membicarakan masalah qodar. Dia berkata; dan seakan-akan pada wajah beliau Shallallahu 'alaihi wa Salam terdapat merahnya buah delima karena marah. Lalu beliau berkata kepada mereka: "Kenapa kalian membenturkan sebagian ketentuan Allah dengan sebagian yang lain? Dengan permasalahan inilah orang-orang sebelum menemui kebinasaan." …

Khalifah Umar bin Khattab ketika mengadili seorang pencuri juga sangat marah mendengar si terdakwa tersebut melakukan pembelaan :"Saya mencuri karena memang sudah ditakdirkan Allah..", Alih-alih memberikan kebebasan, si pencurinya malah diperberat hukumannya, satu kesalahan karena mencuri, kesalahan yang lain karena telah menghina Allah.

Maka terkait dengan pembelaan diri seorang kafir yang menyatakan dia menjadi kafir karena sudah ditakdirkan Allah, Al-Qur'an telah 'menyiapkan' jawaban yang 'telak' dan akan membungkam pernyataan tersebut :

"Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir." (Az-Zumar: 71)

Jadi kalau seseorang memilih kafir dan masih berusaha untuk mempertahankan kekafirannya, jawaban dari pertanyaan itu sudah disampaikan Allah sekarang juga dalam bentuk pertanyaan balik :"Apakah anda sudah menerima petunjuk Allah berupa Al-Qur'an dan hadist agar anda bisa keluar dari kekafiran..? apakah sudah ada saudara-saudara anda yang Muslim datang untuk membacakan ayat-ayat tersebut kepada anda..?".

Jawaban lain bagi orang yang menjadikan takdir Allah sebagai pembenaran maksiat yang dilakukannya adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh syaikh Utsaimin, bahwa ketika terjadi kasus semacam ini, kita katakan kepadanya, “Engkau menyatakan bahwa Allah telah mentakdirkanmu utk melakukan maksiat sehingga engkau melakukannya, mengapa engkau tak menyatakan sebaliknya, bahwa Allah mentakdirkanmu utk melakukan ketaatan, sehingga engkau mentaati-Nya, sebab perkara takdir adalah perkara yang sangat rahasia, tak ada yang mengetahuinya melainkan Allah ta’ala saja. Kita tak tahu apa yang Allah tetapkan & takdirkan itu melainkan setelah kejadiannya. Mengapa tak engkau hentikan saja kemaksiatan itu, lalu engkau melakukan yang sebaliknya (ketaatan) & setelah itu engkau katakan bawah hal ini aku lakukan dgn sebab takdir Allah.” (Syarah Hadits Arba’in)

Ini sebagaimana seseorang yang lapar, tentu orang itu tak akan diam saja agar kenyang. Tetapi ia akan berusaha utk menghilangkan rasa laparnya itu dgn makan. Tidak mungkin ia menunggu saja hanya karena ia yakin sudah ditakdirkan akan kenyang. Demikianlah, karena seseorang tak tahu apakah yang akan terjadi atau yang telah ditetapkan untuknya. Namun orang tersebut tentu tahu, agar kenyang atau hilang rasa laparnya ia harus makan. Demikian pula seorang mukmin, ia tahu bahwa utk masuk surga maka ia harus berbuat ketaatan kepada Allah.

Wallahu a’lam

======================

Views All Time
Views All Time
44
Views Today
Views Today
2

Hits: 14

4 Comments

  1. Mengucapkan Kalimat Syahadat Bukan Jaminan Masuk Surga

    “Wah, ngawur ente!!” (berdasarkan hadits “Siapa yang mengucapkan laa ilaaha illallah akan masuk surga”). Mungkin itu komentar yang muncul, setelah membaca sub judul di atas. Akan tetapi yang kami maksudkan di sini adalah, bahwa hanya sekedar perkataan tidaklah bermanfaat bagi kita jika kita tidak memahami dan mengamalkan maknanya. Karena kaum munafik juga mengatakan kalimat tersebut, mereka juga sholat, puasa, mengeluarkan zakat, dan pergi haji seperti kaum muslimin yang lainnya. Akan tetapi, mengapa kaum munafik ditempatkan pada jurang neraka yang paling dasar? Allah berfirman,

    إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيراً

    “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa’: 145)

    Yang lebih mengherankan, apa yang menyebabkan mereka tidak bisa menjawab 3 pertanyaan yang mudah (siapa Rabbmu? apa agamamu? dan siapa nabimu? di dalam kubur?).

    Jawaban mereka adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    هاه، هاه، لا أدري، سمعت الناس يقولون شئ فقلته

    “Hah… hah… aku tidak tahu, aku mendengar orang mengatakan sesuatu, kemudian aku mengatakan hal tersebut.”

    Pertanyaannya memang mudah, tetapi menjawabnya sangatlah sulit. Karena hati manusia di akhirat merupakan hasil dari perbuatannya di dunia. Jika di dunia dia meremehkan agamanya, maka dia tidak akan bisa mengatakan bahwa agamanya adalah Islam. Sekarang, jika kaum munafik yang mengucapkan syahadat kemudian mengamalkan sholat, puasa, zakat, dan haji, tidak dianggap telah mengamalkan makna syahadat, maka apa sih makna syahadat yang (harus kita amalkan) sebenarnya?

  2. Makna Kalimat Syahadat “Laa Ilaaha Illallah”

    Makna kalimat syahadat tersebut bukanlah pengakuan bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur seluruh alam semesta ini. Karena orang Yahudi dan Nasrani juga mengakuinya. Akan tetapi mereka tetap dikatakan kafir. Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meyakini hal tersebut. Sebagaimana difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam banyak ayat di Al Quran, di antaranya adalah:

    قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

    Katakanlah (wahai Muhammad): “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus: 31)

    Bahkan kaum musyrikin tersebut mengatakan bahwa penyembahan mereka terhadap berhala-berhala yang merupakan patung orang-orang shalih itu adalah dengan tujuan untuk mendapatkan syafaat mereka dan kedekatan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala (sebagaimana para penyembah kuburan para wali di sebagian negeri kaum muslimin). Hal tersebut dinyatakan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut:

    وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

    Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

    وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

    Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat bagi mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

    وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

    “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah.” (QS. Yusuf: 106)

    Yaitu mengimani, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, akan tetapi mempersekutukan-Nya dalam peribadatan. Secara ringkas makna syahadat “Laa ilaaha illallah” adalah tidak ada sembahan yang haq (benar) kecuali Allah. Seorang yang bersaksi dengan kalimat tersebut harus meninggalkan pengabdian kepada selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja secara lahir maupun batin. Sama saja, baik yang dijadikan sembahan selain Allah itu malaikat, nabi, wali, orang-orang shalih, matahari, bulan, bintang, batu, pohon, jin, patung dan gambar-gambar. Jika kita masih merasa tenang dengan menganggap diri kita adalah ahli tauhid serta memandang remeh untuk mendalami dan medakwahkannya maka perhatikanlah beberapa hal berikut:

    Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah untuk Menauhidkan Allah

    (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

  3. Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia Adalah untuk Menauhidkan Allah

    (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka (hanya) menyembahku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

    Seseorang tidaklah dianggap telah beribadah kepada Allah jika dia masih berbuat syirik, sebab amalan ibadah dari orang yang mempersekutukan Allah akan dihapuskan dan tidak bermanfaat sedikit pun di sisi Allah.

    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنْ الْخَاسِرِينَ

    Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

    Karena tauhid adalah menunggalkan Allah dalam peribadatan, maka syirik membatalkan tauhid sebagaimana berhadats dapat membatalkan wudhu. Jika sholatnya orang yang berhadats tidaklah sah, dalam arti kata belum dianggap telah melakukan sholat sehingga harus diulangi, maka begitu pun syirik jika mencampuri tauhid, akan merusak tauhid tersebut dan membatalkannya.

    Tauhid Merupakan Tujuan Diutusnya Para Rasul

    Sebelumnya manusia adalah umat yang satu, berasal dari Nabi Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Kemudian datanglah syaitan menggoda manusia untuk mengada-adakan bid’ah dalam agama mereka. Bid’ah-bid’ah kecil yang semula dianggap remah saat generasi berganti generasi, bid’ahnya pun semakin menjadi. Hingga pada akhirnya menggelincirkan mereka kepada bid’ah yang sangat besar, yaitu kemusyrikan.

    Iblis terbilang cukup ‘sabar’ dalam melancarkan aksinya selama sepuluh abad untuk menggelincirkan keturunan Adam ‘alaihissalam kepada kemusyrikan -sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (lihat “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsir)- Hingga tatkala seluruhnya tenggelam dalam kemusyrikan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nuh ‘alaihi salam.

    Demikianlah, setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik.

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)

    وَمَا أَرْسَلنَا مِن قَبلِكَ مِنْ رََسُولٍ إِلا نُوحِي إلَيهِ أنَّه لا إِلهَ إلا أنَا فَاعْبُدُونِ

    “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya: 25)

    Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi mengutus rasul. Hal ini bukanlah dalil bahwa kemusyrikan tidak akan pernah terjadi lagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dikatakan beberapa orang. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa akan senantiasa ada segolongan dari umat ini yang berada di atas tauhid dan mendakwahkannya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim.

  4. Tauhid Adalah Kewajiban Pertama Bagi Manusia Dewasa dan Berakal

    Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mendahulukan perintah tauhid dan menjauhi syirik, sebelum memerintahkan yang lainnya dalam setiap firmannya di Al Quran.

    وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي القُرْبَى وَاليَتَامَى وَالمَسَاكِيْنَ وَالْجَارِ ذِي القُرْبَى وَالجَارِ الجُنُبِ والصَّاحِبِ بِالجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Dan berbuat baiklah pada kedua orang tua (ibu & bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabiil dan hamba sahayamu.” (QS. An Nisa: 36)

    Pelanggaran Tauhid Adalah Keharaman yang Terbesar

    قُلْ تَعَالَوْاْ أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا

    “Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)

    Allah mendahulukan penyebutan pengharaman syirik sebelum yang lainnya, karena keharaman syirik adalah yang terbesar.

    Tauhid Harus Diajarkan Sejak Dini

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Ibnu Abbas tentang tauhid sejak beliau masih kecil.

    إذا سألت فاسأل الله و إذ استعنت فستعن بالله

    “Jika engkau hendak memohon, maka mintalah kepada Allah, jika engkau hendak memohon pertolongan, maka memohonlah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

    Tauhid Adalah Materi Dakwah yang Pertama Kali Harus Diserukan

    Saat mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إنك تأتي قوما من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – و في رواية : إلي أن يوحدوا الله

    “Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illallah (dalam riwayat lain disebutkan: agar mereka menauhidkan Allah).” (HR. Bukhari, Muslim)

    Jika kita masih menganggap bahwa, itu jika yang menjadi objek dakwah kita adalah orang kafir. Jika kaum muslimin maka tidak demikian. Maka ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang jika tidak mendapatkan kesembuhan dari penyakit secara medis mereka berbondong-bondong mengunjungi dukun atau yang dikenal dengan istilah sekarang sebagi paranormal. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang tinggal di pesisir pantai yang melakukan penyembelihan kurban kepada selain Allah (baca: Nyi Roro Kidul) yang mereka istilahkan dengan sedekah laut. Ingatlah, betapa banyak kaum muslimin yang menyembelih kerbau untuk ditanam kepalanya di bawah jembatan yang hendak mereka bangun, sebagai persembahan agar mereka tidak diganggu oleh jin penunggu daerah tersebut? Berapa banyak kemusyrikan-kemusyrikan yang merajalela di tengah umat ini, sedangkan sebagian kaum muslimin yang lain mengatakan bahwa hal tersebut adalah ‘kebudayaan’ bangsa yang harus dilestarikan? Betapa sedikitnya kaum muslimin yang memahami dan mengamalkan tauhid? Lahan dakwah tauhid masih terlalu luas, akankah kita berdiam diri dan tetap meremehkan masalah ini? Wallahu waliyyut taufiiq. {ref Muslim.or.id}

Leave a Reply