JIKA aku /kamu ke SURGA = akan mendapatkan yang aku/kamu INGINkan= akan mendapatkan yang aku/kamu KEHENDAKi = akan mendapatkan yang aku/kamu MIMPIkan --------------------------------------- Yang kamu/aku TAKUTkan seharusnya JIKA aku/kamu ke neraka,….penyebab Yg kamu atau aku INGINKAN / KEHENDAKI / MIMPIKAN = akan PUNAH, PUPUS, hancur, SIA-SIA -------------------------------- yang HARUS kita kejar = AMALAN/perbuatan yg membawa kita ke SURGA ALLAH, bukan malah melakukan amalan/perbuatan yg membuat MURKA ALLAH …… sehingga amal/perbuatan kita, tidak ADA NILAInya di mata Allah -------------------------------- kita sudah mengira punya PAHALA yg banyak dan DOSA sedikit (menurut kita), TAPI dalam pandangan Allah kita sangat SEDIKIT PAHALA malah punya dosa yg sangat BANYAK = orang BUTA QALBU…../orang jahil……/orang bodoh. ------------------------ JIKA aku/e-gojira ke surga = maka semua mIMPI JANNAHku akan terkabul, aku yg sekarang diberi cinta oleh Allah pada Risalah hatiku,maka RISALAH HATIku akan menjadi MILIKKU seutuhnya, walau Risalah hatiku sekarang TIDAK cinta aku, karena Allah akan membuat FOTOCOPY/KLON risalah hatiku & ditambahkan rasa CINTA SEKALI padaku…..karena jika ke surga maka akan mendapatkan yg kamu/aku inginkan !!! …………………………………………… jika kamu (gadis/wanita/perempuan) ke surga (yg sekarang cinta sekali pada e-gojira …. “Waduh e-gojira mulai PD, tambah GR-nya”) = maka akan mendapatkan e gojira….. akan dibuatkan klon/fotocopy e-gojira sehingga e gojira jadi milikmu seutuhnya & ditambah oleh Allah e-gojira selalu cinta sekali padamu (gadis/wanita yg cinta e-gojira ) …seperti NARUTO yang bisa memperbanyak diri (jika Allah menghendaki = PASTI AKAN TERJADI) ….. itu sangat mudah sekali bagi Allah. ------------------------------- wallahua’lam ---------------------------- seperti aku mulai menyadari DUNIA = alam penjara, tidak mungkin semua yg kita INGINkan, akan terwujud ……. Tidak mungkin semua yg kita kehendaki ,akan kita dapatkan,… aku/kamu itu BUKAN TUHAN …bukan MALAIKAT…BUKAN NABI !! …….. contoh: walau aku diberi Allah sangat cinta sekali pada Risalah hatiku, ..dia malah menJAUHiku….. malas lihat aku…. Mungkin MUAK lihat wajahku …. Atau mau muntah jika lihat diriku ……. Apalagi CINTA padaku, monyet dan anjing akan tertawa ngakak, melihat diriku yg terlalu NGAREP ……. Dikira e-gojira selalu bernasib/dapat takdir selalu BAIK !!??? …..patah hati, pupus, sakit hati, sakit tubuh,dst ….. sudah HAL BIASA bagiku,------------- apakah LALU aku marah-marah ? lalu aku pesimis ?? lalu aku meluapkan kecewaku ?? … aku itu BUKAN orang BODOH .. yg mudah dikuasai SETAN apalagi IBLIS …….aku punya AKAL yg diberikan Allah utk MIKIR BAIk/BURUK yg kulakukan .. apa GUNAnya aku melakukan perbuatan yg membuat aku TAMBAH DOSAku ….. atau melakukan yg membuat hilang/hancur PAHALAku !!??? …jika aku melakukan itu = aku/ e-gojira sangat BODOH / goblok / tolol sekali ….

JIKA aku /kamu ke SURGA = akan mendapatkan yang aku/kamu INGINkan= akan mendapatkan yang aku/kamu KEHENDAKi = akan mendapatkan yang aku/kamu MIMPIkan ---------------------------------------  Yang kamu/aku TAKUTkan seharusnya JIKA aku/kamu ke neraka,….penyebab Yg kamu atau aku INGINKAN / KEHENDAKI / MIMPIKAN = akan PUNAH, PUPUS, hancur, SIA-SIA --------------------------------  yang HARUS kita kejar = AMALAN/perbuatan yg membawa kita ke SURGA ALLAH, bukan malah melakukan amalan/perbuatan yg membuat MURKA ALLAH …… sehingga amal/perbuatan kita, tidak ADA NILAInya di mata Allah -------------------------------- kita sudah mengira punya PAHALA yg banyak dan DOSA sedikit (menurut kita), TAPI dalam pandangan Allah kita sangat SEDIKIT PAHALA malah punya dosa yg sangat BANYAK = orang BUTA QALBU…../orang jahil……/orang bodoh. ------------------------ JIKA aku/e-gojira ke surga = maka semua MIMPI JANNAHku akan terkabul, aku yg sekarang diberi cinta oleh Allah pada Risalah hatiku,maka RISALAH HATIku  akan menjadi MILIKKU seutuhnya, walau Risalah hatiku sekarang TIDAK cinta aku, karena Allah akan membuat FOTOCOPY/KLON risalah hatiku & ditambahkan rasa CINTA SEKALI padaku…..karena jika ke surga maka akan mendapatkan yg kamu/aku inginkan !!! …………………………………………… jika kamu (gadis/wanita/perempuan)  ke surga (yg sekarang cinta sekali pada e-gojira …. “Waduh e-gojira mulai PD, tambah GR-nya”) = maka akan mendapatkan e gojira….. akan dibuatkan klon/fotocopy e-gojira sehingga e gojira jadi milikmu seutuhnya & ditambah oleh Allah e-gojira selalu cinta sekali padamu (gadis/wanita yg cinta e-gojira ) …seperti NARUTO yang bisa memperbanyak diri (jika Allah menghendaki = PASTI AKAN TERJADI) ….. itu sangat mudah sekali bagi Allah. ------------------------------- wallahua’lam ---------------------------- seperti aku mulai menyadari DUNIA = alam penjara, tidak mungkin semua yg kita INGINkan, akan terwujud ……. Tidak mungkin semua yg kita kehendaki ,akan kita dapatkan,… aku/kamu itu BUKAN TUHANbukan MALAIKAT…BUKAN NABI !! …….. contoh: walau aku diberi Allah sangat cinta sekali pada Risalah hatiku, ..dia malah menJAUHiku….. malas lihat aku…. Mungkin MUAK lihat wajahku …. Atau mau muntah jika lihat diriku ……. Apalagi CINTA padaku, monyet dan anjing akan tertawa ngakak, melihat diriku yg terlalu NGAREP ……. Dikira e-gojira selalu bernasib/dapat takdir selalu BAIK !!??? …..patah hati, pupus, sakit hati, sakit tubuh,dst ….. sudah HAL BIASA bagiku,------------- apakah LALU aku marah-marah ? lalu aku pesimis ?? lalu aku meluapkan kecewaku ?? … aku itu BUKAN orang BODOH .. yg mudah dikuasai SETAN apalagi IBLIS …….aku punya AKAL yg diberikan Allah utk MIKIR BAIk/BURUK yg kulakukan .. apa GUNAnya aku melakukan perbuatan yg membuat aku TAMBAH DOSAku ….. atau melakukan yg membuat hilang/hancur PAHALAku !!??? …jika aku melakukan itu = aku/ e-gojira  sangat BODOH / goblok / tolol sekali ….

=============

SURGA = mendapatkan apa yg mereka ... KEHENDAKI.. Al Furqaan:16

.....................................................
SURGA = mendapatkan yg diINGINkan HATI .... Az Zukhruf:71

........................................................
 di SURGA = BERSAMA dg orang yg diCINTAinya

.............................................................................................

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ وَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintaiDan engkau akan bersama orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi no. 2385. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
.............................................................
Dalam riwayat lain, Anas mengatakan, “Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”Anas pun mengatakan, “Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.” (HR. Bukhari no. 3688)

﴾ Az Zukhruf:71 ﴿
Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya".
يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ ٱلْأَنفُسُ وَتَلَذُّ ٱلْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خٰلِدُونَ ﴿الزخرف:٧١﴾

Sebagaimana firman Allah,
لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik” (Az-Zumar : 34)

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qaaf : 35)

﴾ Al Furqaan:16 ﴿
Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya).

لَّهُمْ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ خٰلِدِينَ ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعْدًا مَّسْـُٔولًا ﴿الفرقان:١٦﴾
﴾ Asy Syuura:22 ﴿
Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.
تَرَى ٱلظّٰلِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا كَسَبُوا۟ وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمْ ۗ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصّٰلِحٰتِ فِى رَوْضَاتِ ٱلْجَنَّاتِ ۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ ﴿الشورى:٢٢﴾

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Tidak ada seorang yang membujang pun di surga”[As-Shahihah no 1736 dan 2006, syaikh Al-Albani]

tidak ada rasa cemburu dan sakit hati serta perselisihan di Jannah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan/hilangkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (Al-Hijr : 47)

============

Surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya digambarkan Allah SWT dalam hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, "Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh suatu balasan (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati.” (HR Bukhari).

Setelah Rasulullah SAW menggambarkan surga, Beliau SAW kemudian membaca ayat Alquran, “Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS as-Sajadah [32]: 17).

Kenikmatan yang diberikan Allah SWT di dalam surga bersifat kekal, tidak pernah habis, dan banyaknya tak terhitung. Dari semua kenikmatan tersebut, nikmat yang paling tinggi yang akan dirasakan penghuni surga ialah menyaksikan Allah SWT. Seperti diterangkan dalam firman-Nya, "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya." (QS al-Qiyamah [75] :22-23).

Luas surga digambarkan seluas langit dan bumi. Seperti diterangkan Alquran, "Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. (QS Ali Imran [3]: 133). Disebutkan pula, di dalamnya mengalir sungai-sungai yang bermacam-macam dan diberi nama sesuai dengan keadaan dan sifat airnya.

Ada sungai air jernih, yaitu airnya selalu dalam keadaan jernih, tidak berubah rasa dan baunya. Ada pula sungai susu karena airnya terdiri atas air susu yang juga tidak berubah rasanya. Kemudian, ada juga sungai arak (khamar), yaitu airnya terdiri atas khamar yang sangat lezat rasanya, tapi tidak memabukkan. Selanjutnya, ada pula sungai madu, yang airnya terdiri atas madu yang disaring. (QS Muhammad [47]: 15).

Perhiasan yang diberikan kepada penghuni surga terdiri atas emas, mutiara, serta pakaian yang terbuat dari sutra. (QS Fathir [35]: 33), baik sutra yang halus tipis maupun tebal. (QS ad-Dukhan [44]: 53). Sedangkan, makanan dan minuman mereka terdiri atas berbagai macam jenis, terserah apa saja yang mereka inginkan, semuanya tersedia. (QS az-Zukhruf [43]: 71).

Penduduk surga atau mereka yang akan memasukinya disebut dengan ahlul jannah atau ashabul jannah.  Penghuni surga benar-benar dimanjakan. Piring-piring dan gelas-gelas mereka saja semuanya terbuat dari emas. Di samping peralatan dari emas, ada pula peralatan yang terbuat dari perak dan kristal (QS al-Insan [76]: 15).

Di samping itu, penghuni surga dilayani pelayan-pelayan muda bagaikan mutiara yang bertaburan dengan pakaian sutra yang sangat indah dan menyedapkan pandangan mata. Mereka tetap tinggal muda dan tidak pernah berubah menjadi tua. (QS al-Insan [76]: 19-21).

Di dalam surga juga tidak ada lagi permusuhan, tidak ada perasaan dengki antarsesama penghuninya. Hidup mereka rukun dan damai bagaikan saudara-saudara kandung. Mereka tidak pernah merasa penat, lelah, atau letih. (QS al-Hijr [15] :45-48).

Penduduk surga juga tidak pernah melakukan perkataan dusta, omong kosong, apalagi yang bersifat dosa. Seluruh yang keluar dari lisan mereka hanyalah perkataan kedamaian dan kebaikan. (QS al-Waqi'ah [56] : 25-26). Di samping itu, penduduk surga juga tidak mengenal adanya usia tua dan muda. Umur para penghuninya sebaya dan tidak pernah bertambah tua. Semua mereka dalam keadaan sehat dan tidak pernah dihinggapi penyakit.

=============

bagi MUKMIN .....DUNIA = PENJARA .... hawa nafsu-nya DIPENJARA << .... semua nafsu keinginan SYAITAN ...dipenjara


Penjara dunia
----------------------
Di matanya, dunia tak lebih dari sebuah penjara karena ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya. Ia tidak bisa mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasinya. Jika ia melewati batas itu, ia akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung penyesalan. Namun, sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah kesenangannya. Dunia ini adalah ‘surga’nya. Ia bebas melakukan apa saja semaunya; tak ada yang melarang. Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan, dalam sabdanya; ...................................

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim).
-------------------------------------
Selain itu pun, orang mukmin masih dituntut menjalankan ketaatan-ketaatan yang memberatkan, yang tidak boleh disia-siakan. Sebagaimana ia juga terlarang melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Berikut Rasulullah menegaskan.

إنّ اللَّهَ حدَّ حُدُوداً فلا تَعْتَدُوْهَا وفَرَضَ فَرَائِضَ فلا تُضَيِّعُوْهَا وحَرَّمَ أشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا وتَرَكَ أشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلكِنْ رَحْمَةً مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبِلُوْهَا وَلتَبْحَثُوْافِيْهَا

Sesungguhnya Allah telah menentukan batasan-batasan, janganlah kalian melampauinya. Juga menetapkan perkara-perkara wajib, janganlah kalian menyia-nyiakannya. Selain itu, juga mengharamkan beberapa haljangan pula kalian melanggarnya. Dan mendiamkan beberapa macam perkara, bukan karena lupa, tapi sebagai bentuk kasih sayang kepada kalian, maka terimalah dan janganlah kalian mencari-carinya” (HR. Hakim).
-------------------------------
Dunia ibarat lautan dalam

Siapa pun tahu seperti apa laut. Hamparan air yang membentang nan luas, dari ujung pantai ke pantai lainnyatempat di mana sungai-sungai ‘memuntahkan’ airnya. Pada galibnya, garis-garis pantai adalah titik dangkal di mana manusia bisa menikmati air laut, dengan cara menceburkan diri. Atau tempat di mana perahu-perahu nelayan berlabuh. Sesuatu yang sudah maklum, jika dasar laut itu semakin ke tengah semakin dalam. Sehingga para perenang itu, jika semakin ke tengah berenang, semakin tinggi pula risiko tenggelamnya. Dan jika sudah tenggelam, semakin susah pula selamatnya.

Begitu juga dunia. Ketika masih di pinggiran, ia belum kelihatan menarik di mata. Semakin ke dalam manusia mencari, semakin tampak pula keindahannya. Hingga apabila sudah sampai titik puncaknya, manusia pun dibuat terlena olehnya. Kini, ia bukan hanya menarik di mata, tetapi juga memikat jiwa. Oleh karena itu, orang mukmin akan ekstra hati-hati ketika menceburkan diri ke dunia, jangan sampai terseret ombak yang akan menjerumuskannya. Sebab jika sudah terjerumus, sangat susah untuk melepaskan diri darinya.

Petiklah nasihat Hasan al-Bashri (wafat 728) berikut, seperti yang diungkap Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Dzamm ad-Dunyâ di halaman 21, “Berhati-hatilah kalian dari menyibukkan diri dengan perkara dunia, karena ia dipenuhi kesibukan. Sesiapa yang berani membuka salah satu pintu kesibukan itu, niscaya akan terbuka untuknya sepuluh pintu kesibukan lainnya, tidak seberapa lama kemudian.”

Oleh sebab itu, kendaraan orang mukmin ketika mengarungi samudera dunia adalah perahu takwa, berdayung iman dan berlayar tawakal. Itulah kunci keselamatan. Sungguh, betapa sedikit yang selamat!

==================

Catatan nabi Ibrahim untuk dunia

Disebutkan dalam lembaran Suhuf nabi Ibrahim kata-kata berikut, “Wahai dunia betapa hinanya dirimu di mata orang baik, meskipun engkau hiasi dirimu sedemikian rupa. Percuma saja, karena Aku telah menyusupkan di hatinya rasa benci dan sikap penolakan terhadapmu. Aku tidak menciptakan sesuatu yang lebih hina di mata-Ku melebihi dirimu. Apa yang ada padamu hanyalah sesuatu yang tidak bernilai, bahkan dirimu pun akan mengalami kefanaan. Sebab telah Aku putuskan, ketika menciptakanmu, engkau tidak abadi dan tidak ada satu pun yang bisa membuatmu abadi, meskipun para pecintamu pelit terhadapmu. Sungguh, beruntunglah orang yang baik itu. Ia senantiasa mengingat-Ku dengan penuh kerelaan, kejujuran, dan istiqamah. Sungguh, beruntunglah ia. Tak ada balasan di sisi-Ku melainkan cahaya yang akan menuntunnya ketika dibangkitkan dari kuburan. Sementara para malaikat akan mengelilinginya hingga Aku penuhi apa yang ia harapkan dari rahmat-Ku.” Begitulah sang Pencipta mensifati bumi, seperti yang ditulis oleh Ibnu Abi Dunya dalam Dzamm ad-Dunyânya.
------------------------------------
Bagai makan buah simalakama

Begitulah ungkapan yang tepat menurut orang mukmin. Makan ini salahmakan itu juga salah. Pilih yang ini, yang satunya tidak bisa diraih. Satu dikejar, satunya lagi lepas dari genggaman. Mau, tidak mau, harus ada yang dikorbankan. Begitulah orang mukmin membandingkan dunia dan akhirat. Jika dunia yang dipilih maka akhirat akan terlantarkan. Adapun jika akhirat yang dikejar, dunia tidak maksimal didapatkan. Ingin dapat dua-duanya, sepertinya hampir mustahil. Harus satu yang didahulukan. Ya, dan pilihannya ada pada akhirat. Dengan pertimbangan, jika dunia yang didahulukan, kemungkinan mendapatkan akhirat nol persen. Namun, jika akhirat yang didahulukan, dunia masih bisa didapatkan, meskipun cuma satu persen. Itu lebih baik. Baca dan cermati firman Allah ‘‘Azza wa Jalla berikut (yang artinya), “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaannegeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. al-Qashash [28]: 77).

Apa pesan yang terkandung dari ayat tersebut? Menurut para ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Jami’ al-Bayannya misalnya, hendaknya harta yang Allah berikan itu digunakan untuk kebaikan akhirat, dengan cara mendistribusikannya pada ketaatan dengan tetap memerhatikan bagian kita di dunia, alias tidak melupakannnya. Ambil dan gunakanlah untuk sesuatu yang akan menyelamatkan kita besok dari azab Allah.

Atau, seperti kata as-Sa’di dalam kitab Taisirnya, harta yang diperoleh itu adalah sarana menuju akhirat, maka seyogyanya digunakan untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah. Hendaknya disedekahkan dan tidak digunakan untuk pemenuhan syahwat semata. Tidak mengapa jika ingin bersenang-senang dengan dunia, hanya saja jangan sampai membahayakan agama dan akhiratnya. Nah, begitulah seharusnya. Hidup di dunia cuma sekali, itu pun tidak abadi.

Lalu seperti apakah nasib seseorang kelak jika ia mendahulukan dunia? Mendahulukan akhirat, bukan berarti tidak boleh bersenang-senang menikmati dunia. Itu boleh-boleh saja, asalkan jangan sampai terlena dan lupa pada tujuan yang sesungguhnya. Bahkan, seandainya kenikmatan itu digunakan sebagai sarana menuju tujuan yang asasi, yaitu akhirat, itu adalah sesuatu yang sangat bagus. Bukankah demikian?

Di samping itu, hal ini juga akan mengurangi ketergantungan hati pada dunia. Sebab hati tersibukkan oleh perkara akhirat, meskipun secara lahiriah sedang menikmati dunia. Sebaliknya, jika hati disibukkan dengan perkara dunia, ketergantungannya pun pasti ada padanya, meskipun secara lahiriah sedang melakukan amalan akhirat.

“Jika dunia dan akhirat berkumpul dalam satu hati,” begitulah Sayyar Abu Hakam memaparkan yang kemudian dinukil Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Dzamm ad-Dunyâ, “Maka salah satunya akan saling mengalahkan yang lainnyaSiapa pun yang kalah ia akan ikut dan tunduk kepada pemenangnya,”
Inilah waktunya

Mungkin pernah terpikirkan atau bahkan terbayangkan di benak kita, seseorang yang melakukan perjalanan jauh dan kehabisan bekal, lalu di tengah perjalanan singgah dan istirahat sebentar untuk membeli perbekalannya. Apa yang akan diperbuatnya? Tentunya, ia akan memanfaatkan waktu singgahnya yang sebentar itu dengan sebaik-baiknya, dan hanya membeli barang pokok yang dibutuhkannya saja, tanpa menoleh sedikit pun ke barang lainnya, meskipun itu menarik. Sedikit saja ia tertarik kepada barang itu, lalu mulai melihat dan memerhatikannya satu persatu, itu akan menghambat dan memperlambat perjalanannya.

============

ISTIRAHAT-nya orang MUKMIN = MATInya ..... MENINGGALnya

...............................................
Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir”. [HR. Muslim, no. 2956]

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan perkataan, “Maknanya bahwa semua orang Mukmin di dunia ini dipenjara atau dilarang dari syahwat-syahwat (perkara-perkara yang disukai) yang diharamkan dan dimakruhkan, dibebani dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang berat. Maka jika dia telah meninggal dunia, dia istirahat dari ini, dan dia kembali menuju perkara yang telah dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla untuknya, berupa kenikmatan abadi dan istirahat yang bebas dari kekurangan. Sedangkan orang kafir, maka dia mendapatkan kenikmatan di dunia, dengan sedikitnya kenikmatan itu dan disusahkan dengan perkara-perkara yang menyusahkan. Jika dia mati, dia menuju siksaan abadi dan kecelakaan yang kekal”. [Syarh Nawawi pada Shahih Muslim, no. 2956]

Kematian seorang Mumin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh imam Nawawi di atas, dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya sebagai berikut :

وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh n , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Ujian adalah suatu yang pasti menimpa orang Mukmin. Ujian bisa berbentuk perkara yang menyenangkan atau bisa juga berwujud sesuatu yang menyusahkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [al-Anbiyâ’/21: 35]

Rasulullah saw punya jawabannya. Kita simak hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ « مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al Anshari, beliau meriwayatkan bahwa suatu ketika ada jenazah lewat dihadapan Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, “ Ada orang yang istirahat, ada yang teristirahatkan darinya.” Para Shahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa maksud “orang yang istirahat” dan “yang teristirahatkan darinya”? Rasulullah menjawab, “ Hamba yang beriman –jika meninggal- maka dia istirahat dari kelelahan dan siksaan hidup di dunia menuju rahmat Allah. Sedang hamba yang pendosa (fajir), hamba-hamba yang lainnegeri yang dia tempati, berikut pepohonan dan hewan ternak akan berisirahat dari –keburukan-nya.” (HR. Bukhari Muslim).

Perjuangan melawan dua partner klop di atas bukanlah perjuangan mudah. Nafsu tak pernah tidur, sedang setan tak pernah lelah dan bosan untuk menggelitik lalu menungganginya. Di lain sisi, iman sang hamba yang menjadi senjata pusakanya sifatnya yazid wa yanqush, kadang bertambah kadang melemah. Perjuangan melelahkan pun tak pelak harus dilakoni, sepanjang hayat. Belum lagi jika dia harus berhadapan pula dengan setan manusia yang godaaanya lebih terasa, atau ancaman dan gangguannya juga lebih memerihkan jiwa dan raga. Perjuangan pun kian berat bebannya.

Maka, jika akhirnya seorang hamba beriman harus dicabut ruhnya oleh malakul maut, sebenarnya saat itulah waktu istirahat baginya tiba. Tentu, jika iman di dada tak terampas oleh musuh saat berperang di medan laga. Alam kubur menjadi tempat melepas segala lelah, menanti hari kiamat tiba hingga akhirnya peristirahatan terakhir di jannah akan mengakhiri rasa letih, atas rahmat dari Allah.

Lelah di atas lelah

Adapaun bagi hamba yang zhalim, yang akan beristirahat saat kematiannya tiba bukanlah dirinya. Tapi justru orang-orang disekelilingnya, negerinya, pepohonan dan bahkan hewan ternak di sekitarnya. Imam Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan di dalam kitab Fathul Bari, maksudnya, jika ada orang fajir yang mati, maka orang-orang disekitarnyalah yang akan beristirahat dari segala kejahatan dan keburukan perilakunya.

Orang-orang disekitarnya akan beristirahat dari tindak pencurian jika dia pencuri, pembunuhan jika dia pembunuh, premanisme jika dia preman, korupsi dan krisis ekonomi jika dia pejabat korup, dan istirahat dari semawrutnya kondisi negeri jika dia adalah pemimpin yang tak pernah menghiraukan tuntutanan Allah dalam mengatur negerinya.

Adapun isitrahatnya negeri adalah istirahat dari segala musibah dan adzab yang Allah turunkan karena para pendurhaka itulah yang mengundang murka-Nya. Negeri pun ditimpa musibah dan kemalangan. Sedang istirahatnya pohon dan binatang ternak, bukan lain karena mereka terhalang mendapatkan air hujan karena kemungkaran yang dia lakukan. Selain juga musibah dan bencana alam yang juga turut mereka rasakan.

Jika orang disekitarnya, negerinya, berikut pepohonan dan binatang ternak berisitrahat setelah kematiannya, ruh hamba yang zhalim malah menghadapi situasi sebaliknya. Bukannya istirahat, dia justru baru memulai sebuah perjalanan yang melelahkan, sangat melelahkan bahkan. Apalagi zhalim lagi kafir alias tidak beriman, siksa neraka akan menyuguhkan segala jenis rasa sakit yang melelahkan jiwa dan raga, tanpa jeda. Inilah gambaraanya,

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ . قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

“Dan orang-orang yang berada dalam naar berkata kepada penjaga-penjaga naar Jahannam:”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari. Penjaga Jahannam berkata:”Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab:”Benar, sudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam bekata: “Berdo’alah kamu”. Sedang do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. ” (QS. Ghafir; 49-50)

Pengajuan cuti dari siksa tertolak. Para penduduk neraka yang sudah sangat lelah dengan siksa itu memohon agar semua itu diakhiri dengan kematian. Tapi sayang, di sana kematian sudah tidak ada. Disebutkan di dalam al Quran,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ . لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

“Mereka berseru:”Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja”.Dia menjawab:”Kamu akan tetap tinggal (di naar ini)”. Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu. (QS. Az Zukhruf:77-78)

=======

Views All Time
Views All Time
53
Views Today
Views Today
1

Hits: 29

4 Comments

Leave a Reply