Semua TAKDIR (BAIK & BURUK) bagi seorang MUKMIN adalah = BAIK. …… Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik Semua TAKDIR (BAIK & BURUK) bagi seorang MUKMIN adalah = BAIK. …… Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). -------------- Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. ------- Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. ------ Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik. ============== ——– Empat Jenis Manusia —————– Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —-1. Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—-2. Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—–3. Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———-4. Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.———

Semua TAKDIR (BAIK & BURUK) bagi seorang MUKMIN adalah = BAIK. …… Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). -------------- Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. ------- Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. ------ Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik. ==============

——– Empat Jenis Manusia ——

 Dalam hadits yang dirwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu ta’ala ‘alaihi wa aalihi wa sallam menjelaskan bahwa dunia ini dihuni oleh empat jenis manusia: —-

  1. Manusia yang dikaruniai harta dan ilmu. Kemudian ia bertakwa dan menggunakannya untuk kebaikan, maka orang yang seperti ini akan mendapat kemuliaan dunia dan akhirat.—-
  2. Manusia yang dikaruniai ilmu, tapi tidak diberi kelebihan harta. Akan tetapi, ia berniat dalam hati seandainya memiliki harta akan digunakan untuk kebaikan. Orang yang seperti ini akan memperoleh pahala dan kedudukan seperti golongan yang pertama.—–
  3. Manusia yang dikaruniai harta, tapi tidak diberi ilmu. Kemudian ia membelanjakan hartanya sesuai hawa nafsunya tanpa dasar ilmu, serta tidak menggunakannya untuk kebaikan. Dan ia pun tidak bertakwa kepada Allah, maka orang yang seperti ini berada pada kedudukan yang rendah.———-

4. Manusia yang tidak dikarunia harta dan ilmu. Kemudian ia berkata dalam hatinya, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan menggunakannya seperti si fulan (golongan ketiga) untuk kesenangan dan hura-hura. Orang yang seperti ini akan memperoleh kedudukan rendah seperti golongan yang ketiga.————-

-------------------------- 

UJIAN/cobaan ... bersifat BAIK dan BURUK menurut KITA ..... sakit sehat, bahagia sengsara, miskin kaya, dan seterusnya .... adalah UJIAN dari Allah
---------------------------
------------ Kaya dan Miskin -------------

Hidup kaya dan miskin (harta duniawi) adalah ketetapan Allah kepada para hambanya, ada orang yang ditakdirkan hidup miskin dan ada pula yang ditakdirkan jadi orang kaya. Kaya dan miskin dalam urusan duniawi, kedua-duanya tidak ada unsur cela dan hina. Baik si kaya atau si miskin bisa menjadikan orang mulia, pun bisa menjadi orang hina. Pendeknya, kaya dan miskin adalah bagian dari takdir Allah. -----

Selama ini kita mengenal takdir baik dan takdir buruk. Banyak orang beranggapan bahwa kaya adalah takdir baik dan miskin adalah takdir buruk. Padahal sesungguhnyakonsep takdir baik dan takdir buruk hanyalah sudut pandang bagi seorang hamba yang—katakanlah—kurang tepat. Kita menganggap sebuah takdir adalah baik atau buruk hanya perspektif kita semata. Padahal belum tentu apa yang kita anggap sebagai takdir buruk adalah sebuh keburukan bagi kita.---------------

Semua takdir bagi seorang mukmin adalah baik. Rasulullah menjelaskan bahwa Allah tidak menetapkan takdir bagi seorang mukmin, melainkan pasti baik baginya (HR. Imam Ahmad). Jadi, baik hidup miskin ataupun kaya dalam urusan harta, bagi seorang mukmin kedua-duanya adalah takdir baik. Jika kita sering mendengar bahwa rukun iman yang keenam adalah beriman kepada takdir baik dan takdir buruk, maka yang dimaksud dengan takdir baik dan takdir buruk adalah dalam perspektif manusiawi. Pada hakikatnya segala sesuatu yang Allah takdirkan bagi hambanya yang beriman adalah baik.--------

Terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, mengatakan bahwa kefakiran hampir-hampir mendekatkan seseorang kepada kekufuran. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, sanad hadits ini maudhu’ alias palsu. Di samping itusecara makna juga bertentangan atau tidak sesuai dengan ajaran Islamkarena dalam Islam kemuliaan seseorang bukan diukur dari kefakiran ataupun kekayaan, tetapi dari ketakwaannya. Jadi, hadits ini tidak bisa diterima, baik secara riwayat ataupun makna. -----------

—- SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH ———–

Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta’ala, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta’ala membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta’ala berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.————

Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta’ala akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta’ala dalam firman-Nya:—

Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu (Qs at-Taghâbun/64:11)————-

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:———–

“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta’ala, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta’ala tersebut, maka Allâh Ta’ala akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta’ala akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]—–

Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.——

Meskipun Allâh Ta’ala dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta’ala dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.———–

Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:———-

Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.——————-

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).—————

Sungguh Allâh Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:——–

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan” (Qs an-Nisâ/4:104).———–

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta’ala.”[6]———

==========================

UJIAN.... atau Cobaan Bagi Seorang ....MUKMIN

................................................................
.TANDA DARI KECINTAAN ALLAH .. kepada orang BERIMAN
.................
ALLAH Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman :

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : ‘ Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI telah menguji orang2 yang sebelum mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang2 yang benar dan sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang dusta (3).” (Al-Qur’an, surat Al – Ankabuut (29), ayat 2-3).

Ayat yang mulia diatas menjelaskan bahwa ALLAH Subhaanahu wa Ta’ala akan senantiasa memberikan ujian kepada hamba2-NYA yang beriman sesuai dengan kadar keimanan yang selama ini ia miliki. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam sebuah hadits shahih sbb : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang2 yang shalih, kemudian disusul oleh orang2 yang mulia, lalu oleh orang2 yang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan agamanya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin kuat pula cobaannya.” (HR.Imam At-Tirmidzi No.3298 – HR. Imam Ahmad I/172).

Orang beriman yang sesungguhnya adalah orang yang memelihara derajat kebersihan imannya di sepanjang fluktuasi duniawi. Dia terus mengingat Allah dan mengaitkan karunia kepada-Nya. Dan dia berjalan kepada-Nya dalam ketundukan, meminta untuk dibebaskan dari penderitaan.

Sungguh sangat menakjubkan perkara-perkara orang mukmin ! karena semua keadaannya adalah baik baginya. Dan yang demikian itu tidak mungkin terjadi bagi seseorang kecuali seorang mukmin. Jika dia mendapat nikmat, dia bersyukur, dan ini adalah terbaik baginya, dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan ini adalah terbaik baginya.” (HR. Muslim)

Dan Allah Subhanhu Wa Ta'ala berfirman (yang artinya) :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabaryaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“ [Surat Al- Baqarah, 2:155-157]

Maka dari itu, seorang mukmin sudah semestinya menunjukkan terima kasih dan rasa syukur atas semua berkah mengagumkan yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Dan dia memperlihatkan kesabaran dan ketundukan di waktu mengalami sakit dan kesukaran, kelaparan atau penderitaan lainnya.

PENDERITAAN- PENDERITAAN MENGUNTUNGKAN ORANG MUKMIN

Allah telah menetapkan bahwa, di dalam kehidupan ini, penderitaan- penderitaan dan bencana-bencana menimpa keduanya, bagi orang-orang beriman maupun orang-orang kafir. Bagi orang yang tidak beriman (orang kafir), mereka merasa susah dengan hal itu yang menghalanginya dari aktivitas biasanya di kehidupan duniawi. Bagi seorang mukmin sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai waktu istirahat dan introspeksi , ujian-ujian itu menjanjikan ganjaran yang besar, dan sebagai tanda pertaubatan dan pengampunan. Sekecil apapun bencana yang menimpa seorang mukmin, ini membawa kabar gembira dan pengampunan dan menaikkan derajat (di surga). para ulama biasa untuk merasa senang ketika kesukaran menimpa mereka dan melihatnya sebagai tanda pengampunan dan kemurahan Allah.

PENGAMPUNAN DARI DOSA-DOSA

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Musibah senantiasa menimpa orang-orang mukmin, baik laki-laki ataupun perempuan, baik pada jiwanya, anak-anaknya, maupun hartanya hingga mereka menghadap Allah dengan tanpa membawa dosa.” (HR. At-Tirmidzi)

TANDA DARI KECINTAAN ALLAH

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya”. (HR. Bukhari)

TANDA KEIMANAN

Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. [Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027].

TANDA KESALIHAN

Para nabi dan orang-orang shalih merupakan orang-orang yang paling diuji, dan pahala mereka adalah yang paling besar.

Sa’ad berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Yang paling menderita diantara orang-orang adalah para nabi, kemudian yang paling serupa dengannya, kemudian yang paling serupa dengannya (selanjutnya) . Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika kadar beragamanya (imannya) kuat maka ujiannya akan semakin keras, dan jika kadar beragamanya lemah maka ujiannya ringan. Sesungguhnya seorang hamba akan senantiasa diuji sampai dia akan dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa membawa dosa. (HR. Ahmad, Tirmidzi)

HUKUMAN YANG DISEGERAKAN (DI DUNIA)

Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan siksanya di dunia, dan bila Allah menghendaki kejelekan bagi hamba-Nya , maka Allah akan menahan siksa-Nya atas dosa-dosanya, hingga akan dibalas pada hari kiamat.” (HR.Tirmidzi)

PAHALA YANG BERLIPAT-LIPAT

Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Sesungguhnya besarnya pahala diukur dengan besarnya ujian, dan bila Allah suka kepada suatu kaum, maka mereka diuji. Barangsiapa yang ridho (dengan ketetapan Allah) maka akan menerima keridhoan Allah dan Barangsiapa yang tidak suka (dengan ketetapan Allah), maka akan menerima kemarahan Allah.“ (HR.Tirmidzi)

PAHALA BAGI SUATU PENYAKIT

Seseorang seharusnya tidak melihat sakit sebagai peristiwa yang suram, tetapi harus melihat kebajikan yang besar darinya. Ini merupakan satu bentuk derita yang dengannya Allah menguji hambanya, memberi mereka kesempatan untuk memperoleh pahala, sebagaimana yang dijelaskan di atas, sebagaimana ditegaskan di bawah ini :

MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA DAN MENAIKKAN DERAJAT

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “ Kapanpun seorang muslim diuji dengan penderitaan dari penyakit maupun yang semisalnya, maka Allah akan mengangkat dosa-dosanya dikarenakan hal itu, seperti sebuah pohon yang menggugurkan daun-daunnya” . (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Sa’id Al-Khudry berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Tidaklah seorang muslim mengalami musibah, penyakit, kesedihan, kecemasan, kesusahan, atau tekanan jiwa – bahkan tertusuk sebuah duri- kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya atas musibah-musibah tersebut.

Sa’id berkata :

“Saya dulu bersama Salman ketika beliau mengunjungi seoarang yang sakit di Kindah (Persia) dan beliau berkata kepadanya (si sakit) :” Harapkanlah kebaikan karena Allah menciptakan sakit bagi seorang mukmin sebagai penghapusan dosa-dosanya dan waktu untuk beristirahat. Namun, ketika seorang yang tidak beriman (cttn : di hadis yang sama pada artikel ttg sakit, di situs jilbab.or.id penulisnya menulis seorang yang tidak beriman pada artikel ini sebagai —–“fasiq”, ) jatuh sakit, ia seperti seekor unta yang ditinggalkan pemiliknya yang kemudian membiarkannya lepas – ia (unta tsb) tidak mengerti mengapa ia diikat atau dilepaskan.” (HR.Bukhari)

(Tambahan : Maksudnya, penyakit itu merupakan penebus dosa bagi orang mukmin dan penyebab taubat dan kesadarannya dari kelalaian. Berbeda dengan orang-orang fajir, yang tetap durhaka, tidak terpengaruh oleh penyakitnya dan tidak mau kembali kepada Rabb-nya. Dia tidak tahu kalau penyakit itu menimpa dirinya, agar dia sadar dari kelalaian dan agar kembali kepada kebenaran. Ibaratnya seekor keledai yang dipegang dan diikat, kemudian dilepas kembali, namun ia tidak tahu mengapa ia diikat lalu dilepas lagi.

Aisyah berkata :

Suatu ketika Rasulullah terkena beberapa penyakit yang menyebabkan beliau menderita dan berbalik di tempat tidurnya. Dia (Aisyah) berkata “Kalau saja salah seorang dari kita menempuh ini, kamu pasti akan mengutuknya” .Rasulullah menjawab : “Sebuah penyakit ringan ditambah bagi orang shalih. Kapanpun seorang mukmin ditimpa oleh kesukaran, apakah itu disebabkan oleh sebuah duri atau pun lebih dari itu, sebuah dosa diangkat darinya dikarenakan hal itu, dan dia diangkat derajatnya (di surga). (HR.Ahmad)

TETAP MEMPEROLEH PAHALA BAGI PERBUATAN YANG DILAKUKAN SEBELUM SAKIT.

Biasanya, ketika seorang mukmin sakit, dia tidak dapat melakukan kebajikan (sholat, puasa, menolong orang dan sebagainya) dalam jumlah yang sama dengan yang biasa ia lakukan ketika dia sehat. Tetapi karena kebaikan Allah yang Maha Pemurah, Allah meneruskan mencatat perbuatan baik yang terpaksa terhenti dikarenakan sakit.

Abu Musa Al-Ash’ary berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Bagi seorang musafir atau orang yang sakit, amal-amalnya akan dicatat sesuai dengan apa yang biasa dia lakukan ketika dia mukim atau sehat. (HR. Bukhari)

Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Tidak seorang (mukmin) pun yang terkena sakit, melainkan (amal-amalnya) akan dicatat sesuai dengan apa yang biasa dia lakukan ketika dia sehat. (HR. Bukhari)

Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :” Tidak seorang muslim pun yang menderita karena Allah, melainkan Dia akan mencatat (amal-amalnya) sesuai dengan apa yang biasa dia lakukan ketika dia sehat – selama dia sakit. Maka, apabila Dia mewafatkannya, Dia mengampuninya; dan jika Dia menyembuhkannya, Dia membasuhnya (dari dosa-dosa). (HR. Bukhari)

‘Uqbah Bin ‘Aamir berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Setiap hari amal-amal ditutup dengannya. Maka, ketika seorang mukmin sakit, malaikat-malaikat berkata : “Wahai Tuhan kami ! Hambamu demikian dan demikian, Engkau telah menahannya (dari melakukan kebaikan hari ini). “Dan Allah menjawab : “Tutup harinya dengan sesuai dengan amal-amalnya (yang biasa dia lakukan) hingga dia sembuh atau meninggal.” (HR.Ahmad)

ALASAN UNTUK PAHALA TERSEBUT

‘Atta Bin Rabaah berkata, Ibnu Abbas berkata kepada saya, ”Sukakah kamu saya beritahu mengenai seorang wanita dari penduduk syurga? “Saya menjawab”Tentu saja” Ia berkata :”Dia adalah wanita hitam ini. Ia datang kepada Rasulullah dan berkata : “Saya mempunyai (penyakit ayan)”, dan (jika kumat) badanku tersingkap, maka mohonkanlah kepada Allah untukku”. Dia (Rasululllah) berkata” Jika kamu ingin, bersabarlah dan engkau akan memperoleh surga”; atau jika kamu ingin, saya akan meminta kepada Allah untuk menyembuhkanmu” .

Dia menjawab : “Saya akan bersabar! tetapi badanku akan tersingkap (karena jatuh saat penyakitnya kumat), maka mohonkanlah kepada Allah untukku agar aku tidak tersingkap.” Dan Rasulullah mendo’akannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama mempunyai pendapat yang berbeda mengenai apakah seorang yang sakit akan diganjar karena penyakitnya itu sendiri ataukah karena kesabarannya selama sakit itu. Pendapat yang benar adalah jika dia bersabar dan tunduk kepada kehendak Allah, sebagaimana hadis di atas, di akan diganjar atas keduanya, atas ketundukan dan penyakit. Sebaliknya, ia tidak akan diganjar sedikitpun karena ia benci terhadap ketetapan Allah. Ini sebagaimana yang dipahami dari perkataan Ibnu Hajar Al-Asqolani :

“ Hadis-hadis yang shahih menjelaskan bahwa ganjaran-ganjaran dicatat sewaktu penderitaan menimpa seorang muslim. Mengenai kesabaran dan kepasrahan, mereka adalah kebajikan yang diperuntukkan bagi seorang muslim yang mungkin mendapat ganjaran-ganjaran melebihi semua penderitaan itu.”

Abdullah Bin ‘Amr berkata bahwa Rasulullah bersabda :” Apabila seorang muslim tertusuk oleh sebuah duri di kehidupan dunia ini, dan dengannya ia mencari pahala dari Allah, beberapa dosanya akan diangkat, dikarenakan hal itu, pada hari kiamat.” (HR.Bukhari)

================================

------------ HIKMAH COBAAN --------

Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta’ala jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta’ala.------

Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta’ala dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.--------------

Dengan sikap ini, Allâh Ta’ala akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta’ala memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:-------------

“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]-------

Maknanya: Allâh Ta’ala akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta’ala.[8]------------

Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:

1.

Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta’ala. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta’ala[9].----------

2. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta’alamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :-------“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]--------
3. Allâh Ta’ala menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta’ala sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta’ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam :-----------”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]---
[7] HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8] Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11] HR Muslim (no 2999)
[12] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13] HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)
Views All Time
Views All Time
75
Views Today
Views Today
1

Hits: 21

2 Comments

  1. tanda orang MUKMIN ...... selalu diberi UJIAN Allah ..... semakin tinggi/kuat AGAMAnya ... UJIANnya semakin BERAT
    --------------------------------------

    lihatlah diri KITA ... diriku/dirimu ... apakah sudah MENDAPATKAN ..... ujian itu ???.... sudahkah kita diANGGAP MUKMIN ... oleh Allah ???
    ------------------------------------
    Rasulullah SAW bersabda, “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan setan yang selalu menyesatkannya.” (HR ad-Dailami).
    ------------------------
    orang diberi COBAAN Allah… diberi UJIAN oleh Allah …. diberi MUSIBAH oleh Allah = ciri orang diberi KEBAIKAN oleh Allah = ciri orang BERIMAN …….
    ———————–
    Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya” HR Muslim, 8/125

  2. “Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya” HR At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023,

Leave a Reply