Aku/kamu KAFIR = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? -------- Aku/kamu MUSYRIK = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ----------- Aku/kamu MUNAFIK = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------- Aku/kamu FASIK besar = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------ Aku/kamu MENCURI = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------ Aku/kamu KORUPSI = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? --------------------------- Aku/kamu ISLAM = karena tadkdir Allah … karena kehendak Allah !??? ---------------- Aku/kamu tergolong MUKMIN = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------- Aku/kamu MERAMPOK = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------- Aku/kamu GAGAL = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------- Aku/kamu kandas MIMPIku/MIMPImu = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? -------------------------------------------- Aku/kamu memBUNUH tanpa alasan HAQ = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? …dst …… yang BENAR itu yang mana ?? apakah semua yang terjadi BAIK atau BURUK = kehendak /TAKDIR Allah ????

Aku/kamu KAFIR = karena takdir Allahkarena kehendak Allah !??? -------- Aku/kamu MUSYRIK = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ----------- Aku/kamu MUNAFIK = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------- Aku/kamu FASIK besar = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------ Aku/kamu MENCURI = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------ Aku/kamu KORUPSI  = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? --------------------------- Aku/kamu ISLAM = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ---------------- Aku/kamu tergolong MUKMIN = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------- Aku/kamu MERAMPOK  = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !???

------------------------- Aku/kamu GAGAL  = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ------------------------- Aku/kamu kandas MIMPIku/MIMPImu  = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? ----------------------

---------------------- Aku/kamu memBUNUH tanpa alasan HAQ  = karena takdir Allah … karena kehendak Allah !??? …dst …… yang BENAR itu yang mana ?? apakah semua yang terjadi BAIK atau BURUK = kehendak /TAKDIR Allah ????

=============================

mereka berKATA ... "aku KAFIR krn kehendak Allah.. takdir Allah??
mereka berKATA .." aku mencuri krn kehendak Allah.. takdir Allah??

-----------------

TAKDIR ... KETETAPAN Allah ..... Al Qur’an, lembaran, dan penanya, semuanya wajib diimani begitu saja, tanpa mempersoalkan corak dan sifat dari benda-benda tersebut, karena hanya Allah yang mengetahui.
----------------------

Allah berfirman :  Manusia tidak sedikit pun mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah kehendaki”.(QS. Al Baqarah : 255).

----------------------------
Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga. [Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]

------------------------

Penjelasan:

Kalimat, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya ” maksudnya yaitu Air mani yang memancar kedalam rahim, lalu Allah pertemukan dalam rahim tersebut selama 40 hari. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia menafsirkan kalimat diatas dengan menyatakan, “Nutfah yang memancar kedalam rahim bila Allah menghendaki untuk dijadikan seorang manusia, maka nutfah tersebut mengalir pada seluruh pembuluh darah perempuan sampai kepada kuku dan rambut kepalanya, kemudian tinggal selama 40 hari, lalu berubah menjadi darah yang tinggal didalam rahim. Itulah yang dimaksud dengan Allah mengumpulkannya” Setelah 40 hari Nutfah menjadi ‘Alaqah (segumpal darah)Kalimat, “kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanyayaitu Malaikat yang mengurus rahim

Kalimat “Sesungguhnya ada seseorang diantara kamu melakukan amalan ahli surga……..” secara tersurat menunjukkan bahwa orang tersebut melakukan amalan yang benar dan amal itu mendekatkan pelakunya ke surga sehingga dia hampir dapat masuk ke surga kurang satu hasta. Ia ternyata terhalang untuk memasukinya karena taqdir yang telah ditetapkan bagi dirinya di akhir masa hayatnya dengan melakukan perbuatan ahli neraka. Dengan demikian, perhitungan semua amal baik itu tergantung pada apa yang telah dilakukannya. Akan tetapi, bila ternyata pada akhirnya tertutup dengan amal buruk, maka seperti yang dikatakan pada sebuah hadits: “Segala amal perbuatan itu perhitungannya tergantung pada amal terakhirnya.” Maksudnya, menurut kami hanya menyangkut orang-orang tertentu dan keadaan tertentu. Adapun hadits yang disebut oleh Imam Muslim dalam Kitabul Iman dari kitab shahihnya bahwa Rasulullah berkata: ” Seseorang melakukan amalan ahli surga dalam pandangan manusia, tetapi sebenarnya dia adalah ahli neraka.” Menunjukkan bahwa perbuatan yang dilakukannya semata-mata untuk mendapatkan pujian/popularitas. Yang perlu diperhatikan adalah niat pelakunya bukan perbuatan lahiriyahnya, orang yang selamat dari riya’ semata-mata karena karunia dan rahmat Allah Ta’ala.

Kalimat ” maka demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada seseorang diantara kamu melakukan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. ” Maksudnya bahwa, hal semacam ini bisa saja terjadi namun sangat jarang dan bukan merupakan hal yang umum. Karena kemurahan, keluasan dan rahmat Allah kepada manusia. Yang banyak terjadi manusia yang tidak baik berubah menjadi baik dan jarang orang baik menjadi tidak baik.

Firman Allah, “Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku” menunjukkan adanya kepastian taqdir sebagaimana pendirian ahlussunnah bahwa segala kejadian berlangsung dengan ketetapan Allah dan taqdir-Nya, dalam hal keburukan dan kebaikan juga dalam hal bermanfaat dan berbahaya. Firman Allah, QS. Al-Anbiya’ : 23, “Dan Dia tidak dimintai tanggung jawab atas segala tindakan-Nya tetapi mereka akan dimintai tanggung jawab” menyatakan bahwa kekuasaan Allah tidak tertandingi dan Dia melakukan apa saja yang dikehendaki dengan kekuasaa-Nya itu.

Imam Sam’ani berkata : “Cara untuk dapat memahami pengertian semacam ini adalah dengan menggabungkan apa yang tersebut dalam Al Qur’an dan Sunnah, bukan semata-mata dengan qiyas dan akal. Barang siapa yang menyimpang dari cara ini dalam memahami pengertian di atas, maka dia akan sesat dan berada dalam kebingungan, dia tidak akan memperoleh kepuasan hati dan ketentraman. Hal ini karena taqdir merupakan salah satu rahasia Allah yang tertutup untuk diketahui oleh manusia dengan akal ataupun pengetahuannya. Kita wajib mengikuti saja apa yang telah dijelaskan kepada kita tanpa boleh mempersoalkannya. Allah telah menutup makhluk dari kemampuan mengetahui taqdir, karena itu para malaikat dan para nabi sekalipun tidak ada yang mengetahuinya”.

Ada pendapat yang mengatakan : “Rahasia taqdir akan diketahui oleh makhluk ketika mereka menjadi penghuni surga, tetapi sebelumnya tidak dapat diketahui”.

Beberapa Hadits telah menetapkan larangan kepada seseorang yang tdak mau melakukan sesuatu amal dengan alasan telah ditetapkan taqdirnya. Bahkan, semua amal dan perintah yang tersebut dalam syari’at harus dikerjakan. Setiap orang akan diberi jalan yang mudah menuju kepada taqdir yang telah ditetapkan untuk dirinya. Orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang beruntung maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan yang beruntung sebaliknya orang-orang yang ditaqdirkan masuk golongan yang celaka maka ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan golongan celaka sebagaimana tersebut dalam Firman Allah :
“Maka Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh keberuntungan”.
(QS. Al Lail :7)

“Kemudian Kami akan mudahkan dia untuk memperoleh kesusahan”.
(QS.Al Lail :10)

Para ulama berkata : “Al Qur’an, lembaran, dan penanya, semuanya wajib diimani begitu saja, tanpa mempersoalkan corak dan sifat dari benda-benda tersebut, karena hanya Allah yang mengetahui”.

Allah berfirman : “Manusia tidak sedikit pun mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah kehendaki”.(QS. Al Baqarah : 255).

=================

Khalifah Umar bin Khattab ketika mengadili seorang pencuri juga sangat marah mendengar si terdakwa tersebut melakukan pembelaan :"Saya mencuri karena memang sudah ditakdirkan Allah..", Alih-alih memberikan kebebasan, si pencurinya malah diperberat hukumannya, satu kesalahan karena mencuri, kesalahan yang lain karena telah menghina Allah.
------------------------------------------------
Maka terkait dengan pembelaan diri seorang kafir yang menyatakan dia menjadi kafir karena sudah ditakdirkan Allah, Al-Qur'an telah 'menyiapkan' jawabanyang 'telak' danakan membungkam pernyataan tersebut :

"Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir." (Az-Zumar: 71)

Jawaban lain bagi orang yang menjadikan takdir Allah sebagai pembenaran maksiat yang dilakukannya adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh syaikh Utsaimin, bahwa ketika terjadi kasus semacam ini, kita katakan kepadanya, “Engkau menyatakan bahwa Allah telah mentakdirkanmu utk melakukan maksiat sehingga engkau melakukannya, mengapa engkau tak menyatakan sebaliknya, bahwa Allah mentakdirkanmu utk melakukan ketaatan, sehingga engkau mentaati-Nya, sebab perkara takdir adalah perkara yang sangat rahasia, tak ada yang mengetahuinya melainkan Allah ta’ala saja. Kita tak tahu apa yang Allah tetapkan & takdirkan itu melainkan setelah kejadiannya. Mengapa tak engkau hentikan saja kemaksiatan itu, lalu engkau melakukan yang sebaliknya (ketaatan) & setelah itu engkau katakan bawah hal ini aku lakukan dgn sebab takdir Allah.” (Syarah Hadits Arba’in)

Ini sebagaimana seseorang yang lapar, tentu orang itu tak akan diam saja agar kenyang. Tetapi ia akan berusaha utk menghilangkan rasa laparnya itu dgn makan. Tidak mungkin ia menunggu saja hanya karena ia yakin sudah ditakdirkan akan kenyang. Demikianlah, karena seseorang tak tahu apakah yang akan terjadi atau yang telah ditetapkan untuknya. Namun orang tersebut tentu tahu, agar kenyang atau hilang rasa laparnya ia harus makan. Demikian pula seorang mukmin, ia tahu bahwa utk masuk surga maka ia harus berbuat ketaatan kepada Allah.
---------------------------
Allah SWT , Berfirman dalam Al-Quran surat At Taubah ayat 51

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya : Katakanlah " Sekali - sekali tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk kami , Dia adalah pelindung kami, dan hanya kepada Allah lah orang - orang beriman berserah diri ".

Dari ayat diatas bisa diambil sebuah pelajaran sebagaimana yang diterangkan dalam tafsir ibnu kasir, bahwa manusia itu ada dalam kehendak Allah dan kekuasaan-Nya, jadi apapun yang terjadi baik itu perkara baik ataupun perkara buruk , semuanya adalah kehendak Allah atau yang biasa kita kenal dengan istilah taqdir Allah SWT.

Dalam beberapa kitab tauhid antara lain , Kifayatul Awam karya Syaikh Muhammad Al Fadloli , Tijanuddarori karya Imam Nawai, Abdurrul Farid karya Imam An Nahrowi, Ummul Barohin karya Imam Sayyid Muhammad As Sanusi dll. Dalam bab sifat irodah (Berkehendak) dan Qudroh (Berkuasa) diterangkan bahwa : tidak akan terjadi apapun kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT , jadi bila ada orang memeluk Islam , kafir , atau pun juga aliran - aliran yang lain semua itu adalah sudah ditentukan oleh Allah SWT.

Didalam salah satu riwayat Rosulullah SAW, pernah menangisi kematian pamannya yang bernama Abu Tholib karena meninggal dunia dalam keadaan kafir padahal Rosulullah SAW sudah berusaha untuk mengajak pamannya untuk beriman kepada Allah SWT tetapi mengalami kegagalan , kemudian Allah SWT, menurunkan surat Al Qoshosh ayat 56 :

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُوَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya : Sesungguhnya Engkau (Muhammad) tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang kamu sayangi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dia kehendaki, dan Allah maha mengetahui orang - orang yang mau menerima petunjuk.

Dari ayat tersebut bisa diambil pelajaran bahwa sekuat apapun usaha manusia untuk menunjukkan kebaikkan kepada orang lain bila Allah SWT , tidak menghendaki maka usaha tersebut tidak akan berhasil, begitu pula sebaliknya sekuat apapun usaha manusia dan juga makhluk yang lainnya untuk menyesatkan seseorang, selama Allah SWT tidak mengendaki maka usahanya juga tidak akan berhasil, Allah SWT berfirman dalam surat AL Isro' ayat 97 yang berbunyi :

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ

Artinnya : Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah orang yang mendapatkan petunjuk , dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka sekali -kali kamu tidak akan menemukan penolong bagi mereka selain-Nya.

Dan masih banyak lagi ayat - ayat Al - Quran yang berhubungan dengan taqdir Allah SWT , semoga kita termasuk golongan orang - orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT , Amiiin ya Robbal Alamin.

Di sini kemudian timbul pertanyaan antara lain :

> Apakah orang mencuri itu juga kehendak Allah SWT ?
> Apakah bila orang itu ketika ditqdirkan kaya kemudian dia tidak bekerja maka dia bisa kaya dan apakah bila orang itu di taqdirkan pandai kemudia dia tidak pernah belajar maka dia bisa pandai. ?
> Bila semua ditentukan oleh Allah SWT , mengapa kita harus bekerja dan berusaha ?
> Apakah taqdir bisa berubah?

Jawabannya adalah :

1. Apakah orang mencuri itu juga kehendak Allah SWT ?

Memang benar semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT , termasuk orang mencuri , namun dalam kitab Tuhfathul Murid karya Syaikh Ibrohim Al Baijuri diterangkan bahwa dalam mengatakan tentang taqdir itu ada adabnya : bila perkara yang terjadi itu adalah kebaikan maka nisbatkanlah kepada Allah SWT, dan bila perkara yang terjadi itu adalah kejelekan maka nisbatkanlah kepada diri kita sendiri sebagaimana firman Allah SWT . dalam surat An Nisa' ayat 78 yang berbunyi :

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

Artinya : Apa saja nikmat yang menimpamu maka itu berasal dari Allah , dan apa saja bencana yang menimpamu itu adalah karena kesalahanmu sendiri.

Karena itu jangan sekali - kali kita melakukan keburukan dengan alasan ini adalah taqdir sebab nanti akan semakin ruwet urusannya , coba bayangkan bila ada pak polisi mau menangkap pencuri kemudian pencurinya mengatakan " ini sudah taqdir pak polisi saya mencuri ". dan juga ada pelanggar lalu lintas ketika ditangkap maka dia mengatakan " ini adalah sudah taqdir kalau aku melanggar lalu lintas " , kalau sampai itu terjadi maka jangan salahkan polisi bila semua penjahat langsung di brondong peluru dengan alasan semua adalah ditaqdirkan oleh Allah SWT.

2. Apakah bila orang itu ketika ditqdirkan kaya kemudian dia tidak bekerja maka dia bisa kaya dan apakah bila orang itu di taqdirkan pandai kemudia dia tidak pernah belajar maka dia bisa pandai. ?

Secara haqiqot semua yang ditentukan oleh Allah itu pasti terjadi , termasuk ketentuan tentang kaya dan pandai , itu juga pasti akan terjadi sekalipun kita tidak bekerja atau pun belajar , karena dalam menjadikan apapun Allah SWT , tidak butuh sebab dan perantara .

Namun dalam sebuah cerita tentang Syaikh Abdul Qodir Jailani, diceritakan ada seorang pedagang yang akan berniaga , sebelum berniaga dia meminta izin kepada Guru dari Syaik Abdul Qodir Jailani yaitu Syikh Hammad , oleh Syaikh Hammad pedagang tersebut dilarang berangkat berniaga karena dalam pandangan bathin Syaihk Hammad pedagang tersebut akan dibegal bila berangkat berdagang , kemudian pedagang tersebut meminta izin kepada Syaikh Abdul Qodir Jailani , dan ternyata Syaikh Abdul Qodir Jailani mempersilahkan pedagang tersebut untuk berangkat berdagang , kemudian Syaikh Abdul Qodir Jailani mendoakan semoga pedagang tersebut selamat, setelah tiba waktunya pedagang tersebut pun berangkat berdagang dan ternyata diapun tidak dibegal tetapi dia selamat di perjalanan, bahkan mendapatkan keuntungan yang melimpah , namun ketika diperjalanan saat pedagang tersebut lelah kemudian dia beristirahat dia pun tertidur dan dalam tidurnya dia bermimpi di begal.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa bila orang itu ditaqdirkan kaya tetapi tidak bekerja maka dia tetap akan kaya , begitu pula orang yang ditaqdirkan pandai tetapi tidak pernah belajar maka dia tetap akan menjadi orang pandai , namun perlu diingat bahwa kaya dan pandainya itu hanya ada dalam mimpi tapi dalam alam nyata dia miskin dan bodoh, dan antara yang terjadi di dalam mimpi manusia dan yang terjadi dalam alam nyata adalah sama menurut Allah SWT, karena Allah tidak dilalui oleh tempat dan waktu.

3. Bila semua ditentukan oleh Allah SWT , mengapa kita harus bekerja dan berusaha ?

Tidak satupun manusia yang mengetahui akan taqdirnya , sekalipun semua itu sudah ditentukan oleh Allah SWT , sejak jaman azali sebelum manusia itu diciptakan . Dalam hadist Arbain Nawawi diterangkan bahwa penentuan manusia itu akan menjadi orang mukmin atau kafir , jadi orang beruntung atau kah orang celaka , jadi orang kaya ataupun orang miskin itu semua sudah ditentukan ketika janin masih dalam kandungan ketika berusia kurang lebih empat bulan , nah karena kita tidak tahu bagaimana nasib kita , apakah jadi orang miskin atau kah kaya maka kita bekerja dengan harapan semoga mendapat anugerah dari Allah SWT , bila Allah memang menghendaki kita kaya maka usaha kita akan diberi keberhasilan oleh Allah , dan bila kita memang ditaqdirkan untuk menjadi orang miskin maka usaha kita mungkin gagal tapi semua harus kita terima dengan lapang dada, karena manusia sekedar ikhtiar dan Allah lah yang menentukan.

===============

Pengertian Takdir ....dan.... Hubungan Dengan KeMAHA-TAHUan Tuhan
----------------------------
SEBAB yang BAIK Akan Mendatangkan KeBAIKan ...........  SEBAB yang BURUK Akan Mendatangkan KeBURUKan
-----------------------------
Apakah takdir itu sudah ditetapkan oleh Allah terhadap manusia?. Apakah manusia berakhir (mati) dalam keadaan menjadi penjahat atau kafir itu sudah ditakdirkan oleh Allah?. Jika sudah mengapa harus masuk neraka?.
----------------------
Itulah beberapa pertanyaan yang mungkin menjadi pikiran bagi anda-anda semua. Untuk mengetahui jawaban diatas, maka berikut saya berikan beberapa ayat-ayat Al-Quran yang membahas mengenai pertanyaan diatas :
=========================
BerHATI-HATIlah … lihat diri kita sendiri…. kita sekarang “BERAMAL . penduduk NERAKA” …atau … berAMAL “penduduk SURGA”/ Jalan Allah {sesuai perintah dan larangan Allah} ???? ————————–————————–— “Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” (HR. Muslim } ———————————–—— “Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja,” adalah seseorang yang menurut pandangan mata manusia mengerjakan amalan surga dan ketika sudah mendekati ajalnya mengerjakan amalan penduduk neraka, kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka. Jadi yang dimaksud ‘jaraknya dengan surga atau neraka tinggal sehasta‘ bukan tingkatan dan kedekatannya dengan surga, namun waktu antara hidupnya dengan ajalnya tinggal sebentar, seperti sehasta. ————————- Yang patut kita pahami dari hadits ini, bukan berarti ketika kita sudah berusaha melakukan kebaikan dan amalan ibadah maka Allah akan menyia-nyiakan amalan kita. Karena hadits di atas diperjelas dengan hadits lainnya, yaitu, ————————- Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda, – dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan – “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: rezeki, ajal, amal dan celaka/bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

=======================


orang BERIMAN/ Mukmin … menerima SEMUA takdir BAIK dan BURUK ……………………………… <<< segala sesuatu itu TERJADI dengan TAKDIR Allah. Segala yang terjadi dalam alam wujud ini, ....................................... BAIK atau BURUK, semuanya dengan takdir dan ketentuan serta kehendak Allah. Karena tidak ada Rabb selain Allah dan tidak ada yang mengatur segala sesuatu bersama-Nya. >>> ——————————————————– Menjelang wafat, Abu Hurairah tampak menangis. Orang-orang di sekitarnya lalu bertanya sebab ia menangis, apakah karena takut mati. Abu Hurairah menjawab, “Tidak, saya menangis karena saya TAHU akan menghadapi perjalanan yang sangat jauh namun perbekalan saya sangatlah sedikit.” ………………………………………… Ketika sakit menjelang wafat, Abu Hurairah sempat menangis. Ketika ditanya, beliau berkata, “Aku menangis bukan karena memikirkan dunia, melainkan karena membayangkan jauhnya perjalanan menuju negeri akhirat. Aku harus menghadap Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku tak tahu, perjalananku ke sorga tempat keNIKMATan atau ke neraka tempat penDERITAan.?” Lalu Abu Hurairah berdo’a: “Ya Allah, aku merindukan pertemuan dengan-Mu, kiranya Engkau pun berkenan menerimaku. Segerakanlah pertemuan ini”! Tak lama kemudian, Abu Hurairah berpulang ke rahmatullah. ……………………………………………….. sahabat Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, sahabat Nabi yang alim lagi mulia dan stempel surga sudah diraihnya, beliau tetap berkata: “Andai terdengar suara dari langit yang berkata: ‘Wahai manusia, kalian semua sudah dijamin pasti masuk surga kecuali satu orang saja’. Sungguh aku khawatir satu orang itu adalah aku” (HR. Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, 138) …………………………………………….. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada satu jiwapun dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya, baik di surga atau di neraka.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja?” Beliau menjawab, “Tidak, tapi beramallah! Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR: Bukhari, (VII/212) dan Muslim, (VIII/47, no. 2647). …………………………………………………. BERBEDA … dg orang yg TIDAK PAHAM ….. apalagi MUNAFIK/FASIK yg selalu berharap SURGA ….. dg AMAL …. yg begitu KECIL ……………………. ……..>>>> *) Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (Ibnu Majah, Ahmad, dan ath-Thabrani), Syaddad bin Aus mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, “ORANG PINTAR ialah orang yang mau mengoreksi dirinya sendiri dan BERAMAL untuk kepentingan akhirat nanti. Dan ORANG LEMAH ialah orang yang mengikuti HAWA NAFSUNYA, tetapi “BERHARAP-HARAP terhadap Allah (=selalu minta/berdoa/berharap pada Allah utk MASUk SURGA … dg amalanya yg masih SEDIKIT, DOSA banyak)”. <<<<<<< ………………………………………………… ( HR.MUSLIM No:4991 ) Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata:Bahwa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya akan datang seorang lelaki besar gemuk pada hari kiamat yang berat amalnya di sisi Allah tidak seberat SAYAP seekor NYAMUK sekalipun. Bacalah oleh kalian: Maka Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat. ................................................ >﴾ Al A’raf:51 ﴿ <<< didunia amalan sehari-hari HANYA bermain dan KETAWA saja (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai MAIN-MAIN DAN SENDA GURAU, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami MELUPAKAN MEREKA sebagaimana MEREKA MELUPAKAN pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu MENGINGKARI ayat-ayat Kami ……………………………………. …………………….mereka MENGIRA akan masuka SURGA??? …………. ﴾ Al Baqarah:214 ﴿ ….<<< belum/tidak diuji dg malapetaka, kesengsaraan, sudah “MENGIRA” masuk surga??...................... Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. ------------------------------------- ﴾ Ali Imran:142 ﴿ …..<<< belum/tidak diUJI dengan Jihad dan SABAR, sudah “MENGIRA” masuk surga??.................... Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. <<<<<<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

============================Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada satu jiwapun dari kalian melainkan telah diketahui tempatnya, baik di surga atau di neraka.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal? Mengapa kita tidak pasrah saja?” Beliau menjawab, “Tidak, tapi beramallah! Karena setiap orang telah dimudahkan kepada apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR: Bukhari, (VII/212) dan Muslim, (VIII/47, no. 2647).
………………………………………………….

keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip. Keempat prinsip ini harus diimani oleh setiap muslim. ............................

Pertama: Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui dengan ilmunya yang azali dan abadi tentang segala sesuatu yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala...............................

Kedua: Mengimanai bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.......................................

Dalil kedua prinsip di atas terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70)...........................

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59)....................................................

Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa salam,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”[HR. Muslim 2653......................................

Ketiga: Mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya.....................................

Keempat: Mengimani dengan penciptaan Allah. Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu baik yang besar maupun kecil, yang nyata dan tersembunyi. Ciptaan Allah mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya. Perkataan dan perbuatan makhluk pun termasuk ciptaan Allah ......................

Dalil kedua prinsip di atas adalah firman Allah Ta’ala,

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ {62} لَّهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ اللهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {63}

“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Az Zumar 62-63)...............................

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَعْمَلُونَ {96}

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“.” (QS. As Shafat:96).

===============================

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 1-3)

 ............................

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk: 1-2)

 ...................................

Kalau kita memahami 2 contoh ayat diatas pasti kita akan menarik kesimpulan umum bahwa Allah mencobai makhluknya untuk mengetahui siapa-siapa yang benar-benar beriman diantara mereka. Padahal jika Allah Maha Tahu tanpa diuji pasti sudah tahu. Jika ini jawabannya maka akan timbul pertanyaan, Apakah Allah itu tidak Maha Tahu?.

 ............................................

Sebagai muslim kita pasti percaya bahwa Allah Maha Tahu. Tetapi terkadang pemahaman muslim tentang Ke-Maha Tahu-an Allah agak keliru. Karena keliru inilah maka Konsep Takdir juga keliru. Bagaimana bisa begitu?.

 ..................................

Sebagian besar muslim memahami Takdir sebagai sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah. Bahwa nasib kita sudah digariskan oleh Allah. Hal ini sebenarnya tidak benar.

 .......................................

(QS 30:41) Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (30 :41)

(13:11) ……..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

(QS 42:30) Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Berdasarkan ketiga ayat diatas maka dapat disimpulkan bahwa takdir ditentukan oleh manusia itu sendiri. Lalu bagaimana dengan maksud takdir Allah. Takdir Allah disini maksudnya bahwa Allah bisa mengubah apa yang kita kerjakan. Maksudnya ketika seseorang melakukan sesuatu yang menurut Allah berbahaya bagi diri orang itu dan Allah sangat sayang pada dia, maka Allah bisa campur tangan untuk membuat orang tersebut merubah arah hidupnya. Dan juga sebaliknya. Bagaimana kita mengetahui itu takdir Allah atau bukan?. Itu gampang-gampang susah. Biasanya takdir Allah itu cirinya sesuatu yang timbul tetapi tidak kita rencanakan. Misalnya : Anda berusaha mencuri mangga tetangga sebelah, ketika mau mencuri secara tidak sengaja anda disengat tawon, padahal disitu  tidak ada sarang tawon, nah sengatan tawon itulah takdir Allah. Atau anda mendapat hadiah yang tidak disangka-sangka, hadiah itulah takdir Allah.

 ---------------------------

Jadi TAKDIR ALLAH itu sebenarnya tidak ada. Yang ada adalah KETETAPAN ALLAH. Sekilas Takdir dan Ketetapan kelihatan sama pengertiannya padahal berbeda. Perlu diketahui bahwa sebelum ada hasil pasti ada proses awal. Sebelum ada kejadian pasti ada proses menuju kejadian. Jika ada orang yang tahu besuk akan terjadi sesuatu berarti ada yang memberitahu. Yang memberi tahu pasti sudah tahu proses yang akan terjadi.

 ----------------------------

Misalnya ada seorang peramal (A). Peramal tersebut tahu bahwa akan terjadi kebakaran. Pasti ada yang memberi tahu si peramal yaitu si (B). B sudah tahu mengapa akan terjadi kebakaran (proses).

 ...................

TAKDIR bermakna bahwa segala sesuatu sudah direncanakan oleh Allah. Sehingga seolah-olah Allah tahu apa yang akan terjadi pada kita karena skenarionya sudah direncanakan.

 ............................

KETETAPAN bermakna bahwa segala sesuatu akan ditetapkan oleh Allah. Apa yang terjadi pada anda boleh jadi ada campur tangan Allah didalamnya (ditetapkan di tengah proses).

 .....................................

Allah Ta’ala telah menghimpuan raihan berbagai kebaikan di dunia dan akhirat, dan menghimpun raihan keburukan di dunia dan akhirat dalam kitab-Nya tergantung dengan amalan-amalan seorang hamba. Balasan itu tergantung dengan syarat yang telah dipenuhi, akibat tergantung adanya sebab, dan sesuatu yang disebabkan itu tergantung atas keberadaan sebabnya. Perkara ini di dalam al-Quran melebihi 1000 tempat.Maka terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun hukum berita yang ada di alam ini ataupun perintah syar’i sesuai dengan sifat yang mencocokinya (yakni balasan yang pantas akibat amalannya). Seperti firman Allah Ta’ala:

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina”.” (al-A’raaf: 166)

Dan firman-Nya:

فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),” (az-Zukhruf: 55)

Dan firman-Nya:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Maaidah: 38)

Dan firman-Nya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Dan yang seperti ini terlalu banyak di dalam al-Quran

Dan terkadang Allah Tabaroka wa Ta’ala menghimpun di atasnya dengan bentuk kata syarat dan balasannya (yakni jika ada syarat yang dipenuhi maka akan ada balasan yang dipenuhi pula).
Seperti firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Anfaal: 29)

Dan firman-Nya:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (at-Taubah: 11)

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya: jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak).” (al-Jin: 16)

Demikian pula ayat-ayat yang semisalnya.

Dan terkadang Allah Ta’ala mendatangkan “Lam at Ta’lil” (huruf lam yang menunjukkan sebagai sebab sesuatu).
Seperti firman Allah Ta’ala:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Dan firman-Nya:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (al-Baqarah: 143)

Dan seterusnya….

Secara global, maka al-Quran dari awalnya sampai akhirnya sangat jelas dalam meletakkan sebuah balasan kebaikan ataupun balasan keburukan, demikian pula hukum-hukum kauniyah dan hukum-hukum perintah itu berdasarkan sebab-sebab. Bahkan meletakkan hukum-hukum dunia dan hukum-hukum akhirat, kemashalatan pada keduanya, dan kerusakan pada keduanya, berdasarkan sebab-sebab dan perbuatan hamba.

Maka barangsiapa yang mau memahami masalah ini dan memperhatikan dengan sebenar-benarnya, ia akan mendapati kemanfaatan dengannya yang sangat luar biasa. Dan ia tidak akan bergantung hanya pada takdir karena kebodohannya, kelemahannya, tafrith (sifatnya yang meremehkan), dan menyia-nyiakan. Sehingga menjadikan bentuk tawakalnya itu sebagai kelemahan (pasrah pada nasib, ia tidak mau berusaha), dan akhirnya kelemahannya itulah yang akan menjadi tawakalnya.

Orang yang benar-benar faqih (mengerti) itu menginginkan takdir dengan yang ditakdirkan, menghindari takdir dengan yang ditakdirkan, melawan takdir dengan yang ditakdirkan. Bahkan manusia tidak mungkin bisa hidup kecuali dengan cara yang demikian (tidak pasrah dengan nasib, akan tetapi melakukan usaha yang bisa mengubah nasib menjadi lebih baik)
Sesungguhnya rasa laparhaus, dingin, dan berbagai rasa takut dan kekhawatiran itu bagian dari takdir. Dan semua makhluk sedang berusaha untuk menolak takdir ini dengan takdirnya yang lain.

Demikian pula orang yang Allah Ta’ala beri taufiq dan hikmah dengan memberinya petunjuk, mereka menolak takdir siksa di akhirat kelak dengan takdir ia bertaubat, beriman, dan beramal shalih. Inilah timbangan takdir yang dikhawatirkan ketika di dunia, dan kebalikan dari itu juga sama (maka semua takdir yang buruk kita lawan dengan takdir yang baik)
Maka Rabb dunia dan akhirat itu satu, hikmah Allah Ta’ala juga satu (hikmah di dunia sama seperti hikmah di akhirat), yang tidak berlawanan antara yang satu dengan yang lain, juga tidak menggugurkan antara yang satu dengan yang lain.

Perkara ini termasuk dari perkara-perkara yang sangat mulia bagi orang yang mengerti tentang nilainya dan mau meresapinya dengan sebaik-baiknya.

wallahua'lam

Views All Time
Views All Time
89
Views Today
Views Today
2

Hits: 48

4 Comments

  1. Maka terkait dengan pembelaan diri seorang kafir yang menyatakan dia menjadi kafir karena sudah ditakdirkan Allah, Al-Qur'an telah 'menyiapkan' jawaban yang 'telak' dan akan membungkam pernyataan tersebut :

    "Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?" Mereka menjawab: "Benar (telah datang)". Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir." (Az-Zumar: 71)

    Jawaban lain bagi orang yang menjadikan takdir Allah sebagai pembenaran maksiat yang dilakukannya adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh syaikh Utsaimin, bahwa ketika terjadi kasus semacam ini, kita katakan kepadanya, “Engkau menyatakan bahwa Allah telah mentakdirkanmu utk melakukan maksiat sehingga engkau melakukannya, mengapa engkau tak menyatakan sebaliknya, bahwa Allah mentakdirkanmu utk melakukan ketaatan, sehingga engkau mentaati-Nya, sebab perkara takdir adalah perkara yang sangat rahasia, tak ada yang mengetahuinya melainkan Allah ta’ala saja. Kita tak tahu apa yang Allah tetapkan & takdirkan itu melainkan setelah kejadiannya. Mengapa tak engkau hentikan saja kemaksiatan itu, lalu engkau melakukan yang sebaliknya (ketaatan) & setelah itu engkau katakan bawah hal ini aku lakukan dgn sebab takdir Allah.” (Syarah Hadits Arba’in)

    Ini sebagaimana seseorang yang lapar, tentu orang itu tak akan diam saja agar kenyang. Tetapi ia akan berusaha utk menghilangkan rasa laparnya itu dgn makan. Tidak mungkin ia menunggu saja hanya karena ia yakin sudah ditakdirkan akan kenyang. Demikianlah, karena seseorang tak tahu apakah yang akan terjadi atau yang telah ditetapkan untuknya. Namun orang tersebut tentu tahu, agar kenyang atau hilang rasa laparnya ia harus makan. Demikian pula seorang mukmin, ia tahu bahwa utk masuk surga maka ia harus berbuat ketaatan kepada Allah.

  2. TANDA manusia AKAN .... ke SURGA atau ke NERAKA... terlihat JELAS
    ----------------------------------------------------------------
    >> .... orang-orang yang bahagia {ke SURGA} , maka mereka akan mudah utk ....mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia
    ------------------------------------------
    >> .... mereka yang celaka {ke NERAKA}, akan mudah ..... mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka”
    --------------------------------------cara mudah memahami TAKDIR Allah .... pada manusia ke SURGA atau ke NERAKA
    ------------------------------------------------------------
    Dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam & beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda,

    ‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’ (HR. Bukhari & Muslim)
    -----------------------------------------
    Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية

    Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah utk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah & bertakwa, & membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (HR. Bukhari, kitab at-Tafsir & Muslim, kitab al-Qadar)

  3. 1). Orang yang telah mengucapkan kalimat “LAA ILAAHA ILLALLOH” dengan lisannya saja tanpa disertai dengan pembenaran di dalam hatinya, maka orang itu layak disebut sebagai MUSLIM, walaupun dia juga layak disebut sebagai MUNAFIQ.

    2). Orang yang telah membenarkan di dalam hatinya bahwa tiada Tuhan selain Alloh, tanpa diucapkan dengan lisan, maka orang itu layak disebut sebagai MUKMIN di sisi Alloh. Namun di sisi manusia maka orang tersebut belum layak disebut sebagai mukmin, karena manusia tidak dapat mengetahui isi hati orang lain, sehingga dia masih boleh diperangi.

    Batas terendah seseorang dapat disebut sebagai mukmin adalah tatkala dia membenarkan (beriman) di dalam hatinya bahwa : “Tiada Tuhan selain Alloh yang tidak ada sekutu bagi-Nya”.
    Hal ini berdasarkan keterangan hadits shohih yang menceritakan tentang kisah do’a Nabi Muhammad SAW kepada Alloh Ta’ala kelak di yaumil qiyamah, Rasululloh SAW bersabda :

    يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي، فَيَقُولُ : إنْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ فَأَخْرِجْهُ مِنَ النَّارِ
    “Wahai Tuhan-ku, tolonglah umatku, umatku, lalu Dia (Alloh) berfirman : Pergilah kamu lalu keluarkan orang-orang yang ada di dalam hatinya ada lebih rendah, lebih rendah, lebih rendah beratnya biji sawi dari keimanan, maka keluarkan dia dari neraka”.

    Kemudian di dalam lanjutan hadits tersebut dijelaskan bahwa Rasululloh SAW memohon kepada Alloh Ta’ala :

    يَا رَبِّ ائْذَنْ لِي فِيمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، فَيَقُولُ : وَعِزَّتِي وَجَلاَلِي وَكِبْرِيَائِي وَعَظَمَتِي لَأُخْرِجَنَّ مِنْهَا مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. أخرجه البخاري (٧٥١٠)، ومسلم (١٩٣) عن أنس بن مالك
    “Wahai Tuhan-ku, izinkanlah aku di dalam orang-orang yang telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH, lalu Dia (Alloh) berfirman : Demi ‘Izzah-KU dan kebesaran-KU dan keagungan-KU sungguh AKU akan mengeluarkan dari neraka orang-orang yang telah mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLOH”. (H.R. Al-Bukhari, No : 7510, dan Muslim, No : 193). Dari Anas bin Malik

    Yang dimaksud dengan kata QOOLA (berkata) di dalam hadits ini adalah mengucapkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH dengan disertai adanya pembenaran di dalam hati, dan bukan hanya sekedar ucapan di lisan saja tanpa adanya pembenaran di dalam hati. Karena siapa saja yang telah mengucapkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH yang dimaksudkan untuk meyelamatkan diri, maka dia sudah dapat disebut sebagai MUSLIM, walaupun ucapannya tersebut tidak disertai dengan pembenaran di dalam hatinya. Dan hal ini juga berdasarkan banyak riwayat hadits shohih di dalam kitab shohih al-Bukhari dan Muslim, dan di antaranya adalah haditsnya Usamah bin Zaid yang telah membunuh musuhnya setelah mengucapkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLOH, dan hadistnya Abu Sa’id al-Khudriy yang menceritakan tentang kisah orang-orang Khowarij yang akan dibunuh oleh Kholid bin Walid.

    قَالَ خَالِدٌ : وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ؟ فَقَالَ : رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ. أخرجه البخاري (٣٣٤٤)، ومسلم (١٠٦٤) واللفظ له
    Kholid berkata : Berapa banyak dari orang yang sholat, sedangkan dia berkata dengan lisannya pada sesuatu yang tidak ada di dalam hatinya?, lalu Rasululloh SAW bersabda : “Sesungguhnya aku tidak diperintah agar aku melubangi hatinya manusia dan aku juga tidak diperintah agar aku membelah perut mereka”. (H.R. al-Bukhari, No : 3344, dan Muslim, No : 1064). Dan redaksi hadits miliknya Imam Muslim.

  4. > Benarkah JODOH .....sudah diTETAPkan oleh Allah?..............
    > Apakah jodoh (dan segala takdir lain) yang sudah ditetapkan oleh Allah itu bisa diUBAH?...........
    > Apakah jodoh itu perlu diCARI??
    =====================================
    Benarkah JODOH .....sudah diTETAPkan oleh Allah?
    ---------------------------------------
    __Ya benar. Bahkan, bukan hanya jodoh. Segala hal mengenai diri kita sudah ditetapkan/ditakdirkan oleh Allah ketika kita berada di rahim bunda.
    ------------------------------
    Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud r.a., dikabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
    "Sesungguhnya proses penciptaan setiap orang dari kalian berada di perut ibunya selama 40 hari berupa segumpal air mani. Selanjutnya ia berubah menjadi segumpal darah dalam masa yang sama. Kemudian ia berubah menjadi segumpal daging dalam masa yang sama. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya disamping diperintahkan untuk menuliskan empat perkara, yakni [1] rizkinya, [2] ajalnya, [3] perilakunya, dan [4] bahagia-celakanya."
    =============================
    Apakah jodoh (dan segala takdir lain) yang sudah ditetapkan oleh Allah itu bisa diUBAH?
    --------------------------------------
    __Ya & Tidak. Takdir itu tidak bisa diubah oleh manusia, tetapi dapat diubah oleh Allah.
    --------------------------
    Allah SWT berfirman:

    "DihapuskanNya mana yang dikehendakiNya, dan ditetapkanNya mana yang dikehendakiNya, sebab di tanganNyalah terpegang Induk Kitab (Lauh Mahfuzh) itu."
    (QS ar-Ra’du [13]: 39)
    ----------------------------
    Lalu, karena jodoh (dan segala takdir lain) itu hanya bisa diubah oleh Allah, apakah sebaiknya kita menunggu takdir dari Allah saja tanpa perlu berusaha lagi?
    --------------------------
    Tidak seperti itu. Alih-alih, Allah dan Rasul-Nya telah mempersilahkan kita untuk berusaha supaya Allah mengubah takdir-Nya (dari yang “buruk” ke yang “baik”).
    ------------------
    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan [yang ditakdirkan pada] suatu kaum sebelum mereka [berusaha] mengubah keadaan [yang ditakdirkan pada] diri mereka sendiri.”
    (QS ar-Ra’du [13]: 11)
    ---------------------
    takdir usaha allah
    Rasulullah saw. pun telah mengajarkan doa istikharah (menurut hadits Bukhari, Ahmad, dll), yang isinya mengandung permohonan mengubah takdir-Nya:

    “Ya Allah, sekiranya Engkau tahu bahwa urusan ini lebih baik untuk diriku, agamaku, dan kehidupanku, serta [lebih baik pula] akibatnya [di dunia dan akhirat], maka TAKDIRKANLAH dan mudahkanlah urusan ini bagiku, kemudian berkahilah aku dalam urusan ini. … dan TAKDIRKANLAH kebaikan untukku di mana pun, kemudian jadikanlah aku ridha menerimanya.“

    Artinya, supaya Allah mengubah takdir-Nya (dari yang “buruk” ke yang “baik”), termasuk dalam hal jodoh, kita perlu berikhtiar dan berdoa.
    ==========================
    Apakah jodoh itu perlu dicari??
    ------------------------------------------
    cari nanti
    Ya, perlu. (Dalilnya, QS ar-Ra’du [13]: 11, sudah ditulis di atas.)

    Kalau “iya”, bagaimana konsep mencari jodoh secara islami??

    Pada garis besarnya, sesuai dengan kaidah-kaidah ushul fiqih, ada dua bagian pada konsep-konsep mencari jodoh secara islami.

    Pertama, dalam hal-hal yang berkenaan dengan aqidah dan ibadah mahdhoh (hubungan dengan Tuhan), yang islami adalah yang ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini, yang tidak ada tuntunannya tidaklah islami.

    jodoh tak datang
    Karena itu, diantara cara mencari jodoh yang tergolong islami adalah doa istikharah (sesuai tuntunan Rasulullah saw.).
    Sedangkan yang tidak islami: mengikuti ramalan bintang, mengikuti ramalan paranormal, melakukan “istikharah” yang tergolong bid’ah, dsb.

    Kedua, dalam hal-hal yang berkenaan dengan muamalah (hubungan dengan manusia), yang islami adalah yang tidak ada larangannya dari Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini, yang ada dalil larangannya tidaklah islami.
    ==========================

    "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”(QS.An­-Nuur:26).

    Ketika janin ada di perut ibunya, telah ditetapkan untuknya atas 4 hal: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan bahagia atau celakanya.

    Untuk rizki sehari-hari kita ikhtiar mencari, sedangkan jodoh adalah termasuk dalam rizqi. Jadi, jodoh perlu di ikhtiarkan. Salah satu jalan ikhtiar adalah meminta kepada Alloh Swt. Dengan Berdoa.

    Namun berdo'alah dengan cara yang baik, meminta yang baik.

    Mengambil contoh kisah nabi Musa as.

    Nabi Musa as. suatu kali tidak sengaja membunuh seseorang yang dzalim hanya dengan mendorongnya. Karena takut Nabi Musa dizalimi, orang-orang menyarankannya untuk pergi jauh untuk menyelamatkan diri.

    Sampailah ia ke suatu daerah asing, dekat mata air yang banyak laki-laki berdesakan untuk mengambil air. Musa melihat dua orang gadis yang ingin mengambil air namun menunggu semua laki-laki itu pergi karena mereka tidak ingin berbaur.

    Musa membantu dua gadis tersebut mengambilkan air, dan dua gadis tersebut pulang lebih awal dari biasanya karena dibantu oleh Musa yang adalah pemuda asing tersebut.

    Lalu Nabi Musa berdoa: “Robbi, inni lima anzalta ilayya min KHOIRIN faqiir..” “Duhai Robbku, sungguh aku terhadap yang Kau turunkan padaku dari antara KEBAIKAN, aku amat faqir, amatlah memerlukan.” {QS 28: 24}.

    Nabi Musa memilih kalimat do'a yang indah. Do'a ini sebagai bentuk kepasrahan atas kebaikan dari-Nya untuk segala keperluannya.

    Singkat cerita, ayah kedua gadis tersebut (Nabi Syu'aib) memanggilnya untuk memberi upah atas kebaikannya, makanan, tempat tinggal, dan salah satunya adalah nabi Musa As dinikahkan dengan salah seorang gadis tersebut.

    Yang namanya jodoh = rizki = ajal.

    Tidak akan pernah salah alamat.

    Mintalah kepada Alloh Swt dengan do'a tersebut sebagai bagian dari ikhtiar.

    Mintalah jodoh yang mudah-mudahan bisa membawa kebaikan hingga ke hari akhiratmu.

    Hidup ini singkat, kalau tidak dipakai untuk mencari jalan menuju syurga, mau untuk apa lagi?

    Jika sudah ada jalan untuk menikah, istikhorohlah.

    Tips istikharah dari Ustadzah Halimah:

    - Sholat Istikharah.dua rokaat sebelom tidur,hendaknya di mulai dari hari jumat.

    - Do'a istikharah
    - mintalah jawaban istikharoh dengan mimpi berupa waran, hijau atau putih utk jawaban kebaikan dan Hitam utk jawaban tidak baik. dengan alasan warna hijau atau putih adalah kesukaan Alloh swt dan Rosululloh.

    Sebelum tidur, berdo'alah dengan bahasa sendiri yang intinya: jika menikah dengannya membawa kebaikan.

    Dan shalihahkan dirimu, seperti pada di awal disampaikan, laki-laki shalih adalah untuk perempuan yang sholihah.

    Lalu menikahlah dengan taqwa; Alloh akan turunkan sakinnah, mawaddah, dan warahmah sesudah menikah. Suamimu adalah pintu syurga bagimu, dan istri adalah amanat bagi suami untuk berjalan bersama menuju syurga.

Leave a Reply