Aku telah diberikan Jodoh/pasangan/bidadari yang selalu bersamaku (touch love and affection in the REAL condition) setelah aku mati/”pulang kepada Allah”….. my dream few days ago.---------wallahua’lam ----------------------- di my dream….. (mimpi baik = boleh diceritakan kepada orang lain, agar manusia lain mendapat IBROH, .. kalau mimpi buruk= dari SETAN sehingga dilarang diceritakan pada orang lain) ------------- “diriku seperti di dunia ini”, berjalan bersama dg Risalah hatiku/ten the lightku, dg jalan agak berjauhan (bukan berdekatan)……. Lalu melewati sebuah masjid, banyak orang berkumpul di situ, ….lalu aku masuk ke masjid dengan ijin pada Risalah hatiku “aku masuk masjid dulu”, lalu Risalah hatiku membolehkan, lalu dia menunggu di luar masjid ------------- aku ikut dalam kegiatan orang di masjid, seakan orang-orang di alam masjid sudah MENGENAL-ku, langsung mereka mempersilahkan aku bicara, …. Memberikan dakwah, perkataan, materi, …. Lalu bergantian dg orang lain di masjid.------------ aku ke luar masjid mau (ke toilet/kamar kecil) buang air kecil di sebelah masjid, … Risalah hatiku mengetahui aku keluar masjid, lalu mengikuti dari belakang aku ke kamar kecil, Risalah hatiku melihatku dari kaca ……sepertinya dia takut aku pergi dari kamar kecil tanpa sepengetahuannya………… lalu aku keluar dari kamar kecil. Lalu aku berkata padanya “kalau ingin pulang dulu, ya boleh duluan kok”…. Di jawab Risalah hatiku, “mosok, aku PULANG sendirian”……. Kujawab “ya sudahlah kita PULANG berbarengan”. ---------------------------------------- setelah aku menjawab dengan kalimat itu (“ya sudahlah kita PULANG berbarengan”)… langsung aku bisa/BOLEH MEMELUK Risalah hatiku, Risalah hatiku juga memeluk erat diriku …………………………….. lalu aku terbangun.------- kupikirkan mengapa aku bisa/BOLEH memeluk Risalah hatiku,…. seakan-akan itu kurasakan TIDAK berdosa sama sekali !!!!! … baru aku PAHAM arti “PULANG” = KEMBALI ke hadirat Allah, kembali kepada Allah= aku dan dirinya setelah MATI . atau kehidupan setelah MATI … wallahua’lam. ….. setelah MATI, maka hukum Allah berbeda dg HUKUM dunia yg penuh syariat/hukum Allah yg super ketat dalam menjaga hubungan antar manusia………… setelah MATI, muslim/mukmin seperti KELUAR dari PENJARA, diberi RAHMAT ALLAH yg sangat BESAR ……. Semua MIMPI dan KEINGINANku dipenuhi Allah SWT. ----------- aku langsung diberikan Risalah hatiku, aku bisa memeluknya, mendekapnya, menumpahkan Rinduku padanya, ….. yg di dunia aku hanya bisa melihat dari JAUH saja, tanpa bisa menyentuhnya sama sekali (sesuai syariat Allah, bukan muhrim)…..wallahua’lam.-------------------------------- setelah mati, MUKMIN atau tergolong mukmin, diberi kehidupan yang baik, menyenangkan, BAHAGIA sekali. …… mungkin Allah KASIHAN sekali padaku, diberi HATI oleh Allah SWT, .. cinta dan sayang sekali pada Risalah hatiku di dunia TAPI dalam kondisiku sekarang … SEHINGGA hanya PAINS yg selalu kudapat setiap hari ….. efek diberi CINTA dan RINDU oleh Allah yang tidak terbalas, ………bertepuk sebelah tangan …dst ---------- ======== setelah aku bisa memeluk Risalah hatiku …. Seperti terbayar semuanya, Risalah hatiku BENAR-BENAR cinta dan rindu sekali juga padaku, ….. pains yg kurasakan setiap SEPERTI sirna, hilang, seperti tidak pernah merasakan PAINs di dunia, karena diberi cinta oleh Allah di dunia dg kondisiku di dunia ========= .-- padahal di BARZAKH/hidup setelah mati … seperti SUDAH merasakan BAHAGIA sekali seperti di JANNAH/surga yg nyata…. Wallahua’lam. ------ aku gak mikir Risalah hatiku itu HANYA FOTO COPY/klon/ASLInya, yang kurasakan Risalah hatiku = menjadi UTUH milikku, dan selalu bersamaku setelah aku “PULANG” kepada Allah. -------------------- ya sekarang aku paham, … silahkan Risalah hatiku memilih CALON suaminya, pacarnya, TTMnya, … dst di dunia, … ITU HAKnya… ---------- aku bukan TUHAN atau malaikat yg bisa membolak balikkan hatinya ……. utk CINTA dan sayang padaku, ….--------- seperti aku diberi Allah selalu sayang dan cinta sekali padanya !! ……. Krn aku tahu ITU, maka di dunia aku selalu MERASAKAN PAINS di hatiku, BLEEDING HEART di hatiku….. sia-sia, hanya bisa bertanya pada Allah “mengapa aku diberi hati yang sangat cinta pada Risalah hatiku” ?? ========== kupikir berulang-ulang kali, MENCINTAI FOTO COPY Risalah hatiku= sangat lebih baik sekali … daripada mencintai ASLInya, tapi aslinya mencintai laki-laki lain …… (pengalaman), berusaha mencintai wanita yang mencintai laki-laki lain = kurasakan perihnya bleeding heart every day, hatiku berlinang darah setiap harinya ======== sepertinya aku hanya akan mendapatkan PAINS never ending, jika aku dikuasai hati yg selalu CINTA sekali pada “ASLI dari risalah hatiku, ….tapi “HATI ASLI risalah hatiku diberikan pada laki-laki lain” = aku memang BODOH sekali …. menyakiti HATIku sendiri ……. Karena KEBODOHANku sendiri …======== QS Annisa:69, Allah SWT berfirman, "Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang salih. Mereka merupakan teman yang sebaik-baiknya."------------ Ibnu Qoyyim menulis bahwa kebersamaan ini berlaku di dunia, alam barzakh hingga Hari Pembalasan.=======QS Alfajr:27-30. "Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku."=========roh terdiri dari dua macam. Roh yang mendapat siksa dan roh yang mendapat kenikmatan. Roh yang mendapat siksaan maka dia disibukkan dengan siksaan yang menimpanya. Mereka pun tidak bisa saling berkunjung dan bertemu. Sementara, roh-roh yang mendapat kenikmatan mendapat kebebasan dan tidak terbelenggu. ===============Mereka bisa saling berkunjung, bertemu serta saling mengingatkan. Mereka berbincang tentang apa yang pernah terjadi di dunia dan apa yang akan dialami para penghuni dunia lainnya. Setiap roh bersama pendampingnya yang menyerupai alam-Nya. Sementara, roh Nabi Shallalahu alaihi wasallam berada di sisi Pendamping Yang Maha Tinggi. …. ============= ISTIRAHAT-nya orang MUKMIN = MATInya ..... MENINGGALnya ................... Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.---------------------عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ----------------------Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir”. [HR. Muslim, no. 2956] --------------------------- Kematian seorang Mumin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh imam Nawawi di atas, dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya sebagai berikut :-------------------------وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ-------------------------- Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh n , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusia, bumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. [HR. Bukhari dan Muslim]========Wallahua’lam

Aku telah diberikan Jodoh/pasangan/bidadari yang selalu bersamaku (touch love and affection in the REAL condition) setelah aku mati/”pulang kepada Allah”….. my dream few days ago.---------wallahua’lam ----------------------- di my dream….. (mimpi baik = boleh diceritakan kepada orang lain, agar manusia lain mendapat IBROH,  .. kalau mimpi buruk= dari SETAN sehingga dilarang diceritakan pada orang lain) ------------- “diriku seperti di dunia ini”, berjalan bersama dg Risalah hatiku/ten the lightku, dg jalan agak berjauhan (bukan berdekatan)……. Lalu melewati sebuah masjid, banyak orang berkumpul di situ, ….lalu aku masuk ke masjid dengan ijin pada Risalah hatiku “aku masuk masjid dulu”, lalu Risalah hatiku membolehkan, lalu dia menunggu di luar masjid ------------- aku ikut dalam kegiatan orang di masjid, seakan orang-orang di alam masjid sudah MENGENAL-ku, langsung mereka mempersilahkan aku bicara, …. Memberikan dakwah, perkataan, materi, …. Lalu bergantian dg orang lain di masjid.------------ aku ke luar masjid mau (ke toilet/kamar kecil) buang air kecil di sebelah masjid, … Risalah hatiku mengetahui aku keluar masjid, lalu mengikuti dari belakang aku ke kamar kecil, Risalah hatiku melihatku dari kaca ……sepertinya dia takut aku pergi dari kamar kecil tanpa sepengetahuannya………… lalu aku keluar dari kamar kecil. Lalu aku berkata padanya “kalau ingin pulang dulu, ya boleh duluan kok”…. Di jawab Risalah hatiku, “mosok, aku PULANG sendirian”……. Kujawab “ya sudahlah kita PULANG berbarengan”. ---------------------------------------- setelah aku menjawab dengan kalimat itu  (“ya sudahlah kita PULANG berbarengan”)… langsung aku bisa/BOLEH MEMELUK Risalah hatiku, Risalah hatiku juga memeluk erat diriku …………………………….. lalu aku terbangun.------- kupikirkan mengapa aku bisa/BOLEH memeluk Risalah hatiku,…. seakan-akan itu kurasakan TIDAK berdosa sama sekali !!!!! … baru aku PAHAM arti “PULANG” = KEMBALI ke hadirat Allah, kembali kepada Allah= aku dan dirinya setelah MATI . atau kehidupan setelah MATI … wallahua’lam. ….. setelah MATI, maka hukum Allah berbeda dg HUKUM dunia yg penuh syariat/hukum Allah yg super ketat dalam menjaga hubungan antar manusia………… setelah MATI, muslim/mukmin seperti KELUAR dari PENJARA, diberi RAHMAT ALLAH yg sangat BESAR ……. Semua MIMPI dan KEINGINANku dipenuhi Allah SWT. ----------- aku langsung diberikan Risalah hatiku, aku bisa memeluknya, mendekapnya, menumpahkan Rinduku padanya, ….. yg di dunia aku hanya bisa melihat dari JAUH saja, tanpa bisa menyentuhnya sama sekali (sesuai syariat Allah, bukan muhrim)…..wallahua’lam.-------------------------------- setelah mati, MUKMIN atau tergolong mukmin, diberi kehidupan yang baik, menyenangkan, BAHAGIA sekali. ……  mungkin Allah KASIHAN sekali padaku, diberi HATI oleh Allah SWT, .. cinta dan sayang sekali pada Risalah hatiku di dunia TAPI dalam kondisiku sekarangSEHINGGA hanya PAINS yg selalu kudapat setiap hari ….. efek diberi CINTA dan RINDU oleh Allah yang tidak terbalas, ………bertepuk sebelah tangan …dst ---------- ======== setelah aku bisa memeluk Risalah hatiku …. Seperti terbayar semuanya, Risalah hatiku BENAR-BENAR cinta dan rindu sekali juga padaku, ….. pains yg kurasakan setiap SEPERTI sirna, hilang, seperti tidak pernah merasakan PAINs di dunia, karena diberi cinta oleh Allah di dunia dg kondisiku di dunia ========= .-- padahal di BARZAKH/hidup setelah mati … seperti SUDAH merasakan BAHAGIA sekali seperti di JANNAH/surga yg nyata…. Wallahua’lam. ------ aku gak mikir Risalah hatiku itu HANYA FOTO COPY/klon/ASLInya, yang kurasakan Risalah hatiku = menjadi UTUH milikku, dan selalu bersamaku setelah aku “PULANG” kepada Allah. -------------------- ya sekarang aku paham, … silahkan Risalah hatiku memilih CALON suaminya, pacarnya, TTMnya, … dst di dunia, … ITU HAKnya…------- aku bukan TUHAN atau malaikat yg bisa membolak balikkan hatinya ……. utk CINTA dan sayang padaku, ….--------- seperti aku diberi Allah selalu sayang dan cinta sekali padanya !! …….  Krn aku tahu ITU, maka di dunia aku selalu MERASAKAN PAINS di hatiku, BLEEDING HEART di hatiku….. sia-sia, hanya bisa bertanya pada Allah “mengapa aku diberi hati yang sangat cinta pada Risalah hatiku” ?? ========== kupikir berulang-ulang kali, MENCINTAI FOTO COPY Risalah hatiku= sangat lebih baik sekali … daripada mencintai ASLInya, tapi aslinya mencintai laki-laki lain …… (pengalaman), berusaha mencintai wanita yang mencintai laki-laki lain = kurasakan perihnya bleeding heart every day, hatiku berlinang darah setiap harinya ========  sepertinya aku hanya akan mendapatkan PAINS never ending, jika aku dikuasai hati yg selalu CINTA sekali pada “ASLI dari risalah hatiku, ….tapi “HATI ASLI risalah hatiku diberikan pada laki-laki lain” = aku memang BODOH sekali …. menyakiti HATIku sendiri ……. Karena KEBODOHANku sendiri ……. Wallahua’lam

>>>>>>>>>  QS Annisa:69, Allah SWT berfirman, "Dan siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang salih. Mereka merupakan teman yang sebaik-baiknya." 

Ibnu Qoyyim menulis bahwa kebersamaan ini berlaku di dunia, alam barzakh hingga Hari Pembalasan.================

Kata Ibnu Qoyyim, ayat tersebut turun saat para sahabat Rasulullah SAW khawatir jika Nabi meninggal dunia dan berpisah dengan mereka. Jarir meriwayatkan dari Manshur, dari Abudh-Dhuha dan Masruq. "Para sahabat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepada beliau.'Tidak seharusnya kita berpisah  dengan engkau di dunia ini. Jika engkau meninggal, maka engkau akan ditinggikan di atas kami, sehingga kami tidak bisa melihat engkau." ===============

==========================

>>> QS Alfajr:27-30. "Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku." =========

Sang syaikh  juga mengungkapkan, roh terdiri dari dua macam. Roh yang mendapat siksa dan roh yang mendapat kenikmatan. Roh yang mendapat siksaan maka dia disibukkan dengan siksaan yang menimpanya. Mereka pun tidak bisa saling berkunjung dan bertemu. Sementara, roh-roh yang mendapat kenikmatan mendapat kebebasan dan tidak terbelenggu.

Mereka bisa saling berkunjung, bertemu serta saling mengingatkan. Mereka berbincang tentang apa yang pernah terjadi di dunia dan apa yang akan dialami para penghuni dunia lainnya. Setiap roh bersama pendampingnya yang menyerupai alam-Nya. Sementara, roh Nabi Shallalahu alaihi wasallam berada di sisi Pendamping Yang Maha Tinggi.

============================

ISTIRAHAT-nya orang MUKMIN = MATInya ..... MENINGGALnya

...............................................
Dunia adalah ibarat penjara bagi seorang Mukmin. Ini artinya, jika seorang Mukmin meninggal dunia berarti dia terbebas dari penjara tersebut.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ n : الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Dari Abu Hurairah, dia berkataRasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dunia itu penjara seorang mukmin dan sorga orang kafir”. [HR. Muslim, no. 2956]

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan perkataan, “Maknanya bahwa semua orang Mukmin di dunia ini dipenjara atau dilarang dari syahwat-syahwat (perkara-perkara yang disukai) yang diharamkan dan dimakruhkan, dibebani dengan melaksanakan ketaatan-ketaatan yang berat. Maka jika dia telah meninggal dunia, dia istirahat dari ini, dan dia kembali menuju perkara yang telah dijanjikan oleh Allâh Azza wa Jalla untuknya, berupa kenikmatan abadi dan istirahat yang bebas dari kekurangan. Sedangkan orang kafir, maka dia mendapatkan kenikmatan di dunia, dengan sedikitnya kenikmatan itu dan disusahkan dengan perkara-perkara yang menyusahkan. Jika dia mati, dia menuju siksaan abadi dan kecelakaan yang kekal”. [Syarh Nawawi pada Shahih Muslim, no. 2956]

Kematian seorang Mumin merupakan istirahat baginya, sebagaimana dinyatakan oleh imam Nawawi di atas, dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam 

di dalam haditsnya sebagai berikut :

وعَنِ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ: الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al-Anshâri, dia menceritakan bahwa ada jenazah yang (dipikul) melewati Rasûlullâh n , maka beliau bersabda, “Orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya”. Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullahapakah (maksud) orang yang beristirahat, dan orang yang diistirahatkan darinya?” Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Mukmin beristirahat dari kepayahan dan gangguan dunia menuju rahmat Allâh. Sedangkan hamba yang fajir (jahat), maka banyak manusiabumi, pepohonan, dan binatang, beristirahat darinya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Ujian adalah suatu yang pasti menimpa orang Mukmin. Ujian bisa berbentuk perkara yang menyenangkan atau bisa juga berwujud sesuatu yang menyusahkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [al-Anbiyâ’/21: 35]

Rasulullah saw punya jawabannya. Kita simak hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِىٍّ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ « مُسْتَرِيحٌ ، وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ ، وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Dari Abu Qatadah bin Rib’i al Anshari, beliau meriwayatkan bahwa suatu ketika ada jenazah lewat dihadapan Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, “ Ada orang yang istirahat, ada yang teristirahatkan darinya.” Para Shahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa maksud “orang yang istirahat” dan “yang teristirahatkan darinya”? Rasulullah menjawab, “ Hamba yang beriman –jika meninggal- maka dia istirahat dari kelelahan dan siksaan hidup di dunia menuju rahmat Allah. Sedang hamba yang pendosa (fajir), hamba-hamba yang lain, negeri yang dia tempati, berikut pepohonan dan hewan ternak akan berisirahat dari –keburukan-nya.” (HR. Bukhari Muslim).

Perjuangan melawan dua partner klop di atas bukanlah perjuangan mudah. Nafsu tak pernah tidur, sedang setan tak pernah lelah dan bosan untuk menggelitik lalu menungganginya. Di lain sisi, iman sang hamba yang menjadi senjata pusakanya sifatnya yazid wa yanqush, kadang bertambah kadang melemah. Perjuangan melelahkan pun tak pelak harus dilakoni, sepanjang hayat. Belum lagi jika dia harus berhadapan pula dengan setan manusia yang godaaanya lebih terasa, atau ancaman dan gangguannya juga lebih memerihkan jiwa dan raga. Perjuangan pun kian berat bebannya.

Maka, jika akhirnya seorang hamba beriman harus dicabut ruhnya oleh malakul maut, sebenarnya saat itulah waktu istirahat baginya tiba. Tentu, jika iman di dada tak terampas oleh musuh saat berperang di medan laga. Alam kubur menjadi tempat melepas segala lelah, menanti hari kiamat tiba hingga akhirnya peristirahatan terakhir di jannah akan mengakhiri rasa letih, atas rahmat dari Allah.

Lelah di atas lelah

Adapaun bagi hamba yang zhalim, yang akan beristirahat saat kematiannya tiba bukanlah dirinya. Tapi justru orang-orang disekelilingnya, negerinya, pepohonan dan bahkan hewan ternak di sekitarnya. Imam Ibnu Hajar al Asqalani menjelaskan di dalam kitab Fathul Bari, maksudnya, jika ada orang fajir yang mati, maka orang-orang disekitarnyalah yang akan beristirahat dari segala kejahatan dan keburukan perilakunya.

Orang-orang disekitarnya akan beristirahat dari tindak pencurian jika dia pencuri, pembunuhan jika dia pembunuh, premanisme jika dia preman, korupsi dan krisis ekonomi jika dia pejabat korup, dan istirahat dari semawrutnya kondisi negeri jika dia adalah pemimpin yang tak pernah menghiraukan tuntutanan Allah dalam mengatur negerinya.

Adapun isitrahatnya negeri adalah istirahat dari segala musibah dan adzab yang Allah turunkan karena para pendurhaka itulah yang mengundang murka-Nya. Negeri pun ditimpa musibah dan kemalangan. Sedang istirahatnya pohon dan binatang ternak, bukan lain karena mereka terhalang mendapatkan air hujan karena kemungkaran yang dia lakukan. Selain juga musibah dan bencana alam yang juga turut mereka rasakan.

Jika orang disekitarnya, negerinya, berikut pepohonan dan binatang ternak berisitrahat setelah kematiannya, ruh hamba yang zhalim malah menghadapi situasi sebaliknya. Bukannya istirahat, dia justru baru memulai sebuah perjalanan yang melelahkan, sangat melelahkan bahkan. Apalagi zhalim lagi kafir alias tidak berimansiksa neraka akan menyuguhkan segala jenis rasa sakit yang melelahkan jiwa dan raga, tanpa jeda. Inilah gambaraanya,

وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ . قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

“Dan orang-orang yang berada dalam naar berkata kepada penjaga-penjaga naar Jahannam:”Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari. Penjaga Jahannam berkata:”Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?” Mereka menjawab:”Benarsudah datang”. Penjaga-penjaga Jahannam bekata: “Berdo’alah kamu”. Sedang do’a orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. ” (QS. Ghafir; 49-50)

Pengajuan cuti dari siksa tertolak. Para penduduk neraka yang sudah sangat lelah dengan siksa itu memohon agar semua itu diakhiri dengan kematian. Tapi sayang, di sana kematian sudah tidak ada. Disebutkan di dalam al Quran,

وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ . لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

“Mereka berseru:”Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja”.Dia menjawab:”Kamu akan tetap tinggal (di naar ini)”. Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci kepada kebenaran itu. (QS. Az Zukhruf:77-78)

============================

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ صَحِيحٌ يَقُولُ: ” إِنَّهُ لَمْ يُقْبَضْ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ، ثُمَّ يُحَيَّا أَوْ يُخَيَّرَ

Ketika masih sehat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ”Bahwa tidaklah seorang nabi diwafatkan, hingga dia melihat tempatnya di surga. Kemudian dia diberi salam perpisahan dan diberi pilihan.”

A’isyah radhiyallahu ‘anha melanjutkan,

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit dan mendekati ajal, sementara kepala beliau di pangkuan A’isyah, beliau pingsan. Ketika sadar, beliau menengadahkan matanya ke atap rumah, kemudian beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى

”Ya Allah, bersama ar-Rafiq al-A’la”

A’isyah lalu bertanya, “Berarti anda nanti tidak bersama kami?”

Namun ternyata tidak ada jawaban beliau. A’isyah sadar bahwa beliau dalam keadaan seperti yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat. (HR. Bukhari 4437 dan Muslim 2444).

Mayoritas ulama menegaskan bahwa yang dimaksud ar-Rafiq al-A’la adalah arwah para nabi dan rasul yang berada di tempat yang sangat tinggi. (Syarh Shahih Muslim an-Nawawi, 15/208).

Hadis ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa arwah yang baik, akan saling ketemu setelah dia berpisah dari jasadnya. Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafat, beliau diberi pilihan antara tetap tinggal di dunia ataukah bersama ruh para nabi. Kemudian beliau memilih “ar-Rafiq al-A’la”, bersama ruh para nabi yang berada di illiyin, tempat yang sangat tinggi.

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi menjelaskan,

أن الأرواح قسمان: أرواح معذبة، وأرواح منعمة، فالمعذبة في شغل بما هي فيه من العذاب عن التزاور والتلاقي والأرواح المنعمة المرسلة غير المحبوسة تتلاقى، وتتزاور، وتتذاكر ما كان منها في الدنيا، وما يكون من أهل الدنيا، فتكون كل روح مع رفيقها الذي هو على مثل عملها، فروح نبينا محمد صلى الله عليه وسلم في الرفيق الأعلى

Arwah itu ada dua, arwah yang sedang disiksa dan arwah yang mendapat nikmat. Arwah yang sedang disiksa, dia berada dalam kesibukannya menerima siksa, sehingga tidak bisa saling mengunjungi dan saling bertemu. Sementara ruh yang mendapatkan kenikmatan, dia dilepas, dan tidak ditahan, sehingga bisa saling berjumpa, saling berkunjung, saling menyebutkan keadaannya ketika di dunia, dan keadaan penduduk dunia. Sehingga setiap ruh, bersama rekannya yang memiliki amal semisal dengannya. Ruh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama ar-Rafiq al-A’la.

Kemudian Syaikh ar-Rajihi menyebutkan dalilnya,

والدليل على تزاورها، وتلاقيها قول الله تعالى: {وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا{ وهذه المعية ثابتة في الدنيا، وفي دار البرزخ، وفي دار الجزاء، والمرء مع من أحب في هذه الدور الثلاث

Dalil bahwa mereka saling berkunjung dan saling bertemu adalah firman Allah, yang artinya, “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69).

Kebersamaan ini bersifat hakiki, di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat negeri pembalasan. Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di tiga tempat ini.

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi juga mengatakan,

وقد أخبر الله عن الشهداء بأنهم أحياء عند ربهم يرزقون، وأنهم يستبشرون بالذين لم يلحقوا بهم من خلفهم، وأنهم يستبشرون بنعمة من الله وفضل، وهذا يدل على تلاقيهم

Allah juga telah menyampaikan tentang keadaan para syuhada, bahwa mereka hidup, mendapat rizki di sisi Tuhan mereka. Mereka saling menyampaikan kabar gembira dengan keadaan orang-orang yang masih hidup, yang belum menyusul mereka. Mereka juga saling menyampaikan kabar gembira dengan kenikmatan dan karunia dari Allah. Ini semua menunjukkan bahwa mereka saling bertemu. (Syarh Aqidah Thahawiyah, hlm. 299).

Dalil yang ditunjuk Syaikh ar-Rajihi adalah firman Allah di surat Ali Imran,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka bergembira disebabkan karunia yang Allah berikan kepada mereka, dan mereka saling memberi kabar gembira terhadap orang-orang yang masih tinggal (masih hidup) di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.  Mereka saling memberi kabar gembira dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 169 – 171).

DUNIA = PENJARA bagi mukmin.... hawa nafsu-nya DIPENJARA << .... semua nafsu keinginan SYAITAN ...dipenjara
--------------------------------
sebagaimana orang mukmin memandang dunia
---------------------
Orang mukmin adalah sebaik-baik makhluk dalam memanfaatkan dunia. Baginya, dunia bukanlah tempat untuk mencari kepuasan lahiriah semata, karena ada hal yang lebih penting dari sekadar kesenangan duniawi. Menurutnya, kebahagiaan tidak terletak pada materi, namun lebih pada ketentraman hati. Yaitu hati yang disirami oleh cahaya keimanan, hati yang tersentuh oleh panggilan ilahi. Itulah sumber kebahagiaan. Oleh karena itu, ia tidak memandang dunia sebagai tujuan utama hidupnya.
--------------------------
Ketika manusia satu persatu dihinakan di hadapan seluruh makhluk sebagai akibat atas apa yang telah diperbuat, ia dengan tenangnya menghadapi semua itu tanpa rintangan. Ya, itulah hari perhitungan atau dalam istilah syar’i “Yaumul Hisab“. Hari ditimbangnya amalan manusia. Dan hal itu semua tidak akan terjadikecuali karena ia menjadikan dunia bukan sebagai tujuan utamanya. Berikut ini pandangan orang mukmin terhadap dunia:
------------------------------------

Penjara dunia
----------------------
Di matanya, dunia tak lebih dari sebuah penjara karena ia tidak bisa bebas sepuas-puasnya. Ia tidak bisa mengumbar nafsu semaunya. Ada aturan yang membatasinya. Jika ia melewati batas itu, ia akan terjungkal sedalam-dalamnya ke lembah kenistaan yang berujung penyesalan. Namun, sebaliknya, bagi orang kafir dunia ini adalah kesenangannya. Dunia ini adalah ‘surga’nya. Ia bebas melakukan apa saja semaunya; tak ada yang melarang. Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengabarkan, dalam sabdanya; ...................................

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim).
-------------------------------------
Selain itu pun, orang mukmin masih dituntut menjalankan ketaatan-ketaatan yang memberatkan, yang tidak boleh disia-siakan. Sebagaimana ia juga terlarang melakukan perkara-perkara yang diharamkan. Berikut Rasulullah menegaskan.

إنّ اللَّهَ حدَّ حُدُوداً فلا تَعْتَدُوْهَا وفَرَضَ فَرَائِضَ فلا تُضَيِّعُوْهَا وحَرَّمَ أشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا وتَرَكَ أشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلكِنْ رَحْمَةً مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبِلُوْهَا وَلتَبْحَثُوْافِيْهَا

Sesungguhnya Allah telah menentukan batasan-batasan, janganlah kalian melampauinya. Juga menetapkan perkara-perkara wajib, janganlah kalian menyia-nyiakannya. Selain itu, juga mengharamkan beberapa haljangan pula kalian melanggarnya. Dan mendiamkan beberapa macam perkara, bukan karena lupa, tapi sebagai bentuk kasih sayang kepada kalian, maka terimalah dan janganlah kalian mencari-carinya” (HR. Hakim).
-------------------------------
Dunia ibarat lautan dalam

Siapa pun tahu seperti apa laut. Hamparan air yang membentang nan luas, dari ujung pantai ke pantai lainnya, tempat di mana sungai-sungai ‘memuntahkan’ airnya. Pada galibnya, garis-garis pantai adalah titik dangkal di mana manusia bisa menikmati air laut, dengan cara menceburkan diri. Atau tempat di mana perahu-perahu nelayan berlabuh. Sesuatu yang sudah maklum, jika dasar laut itu semakin ke tengah semakin dalam. Sehingga para perenang itu, jika semakin ke tengah berenang, semakin tinggi pula risiko tenggelamnya. Dan jika sudah tenggelam, semakin susah pula selamatnya.

Begitu juga dunia. Ketika masih di pinggiran, ia belum kelihatan menarik di mata. Semakin ke dalam manusia mencari, semakin tampak pula keindahannya. Hingga apabila sudah sampai titik puncaknya, manusia pun dibuat terlena olehnya. Kini, ia bukan hanya menarik di mata, tetapi juga memikat jiwa. Oleh karena itu, orang mukmin akan ekstra hati-hati ketika menceburkan diri ke dunia, jangan sampai terseret ombak yang akan menjerumuskannya. Sebab jika sudah terjerumus, sangat susah untuk melepaskan diri darinya.

Petiklah nasihat Hasan al-Bashri (wafat 728) berikut, seperti yang diungkap Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Dzamm ad-Dunyâ di halaman 21, “Berhati-hatilah kalian dari menyibukkan diri dengan perkara dunia, karena ia dipenuhi kesibukan. Sesiapa yang berani membuka salah satu pintu kesibukan itu, niscaya akan terbuka untuknya sepuluh pintu kesibukan lainnya, tidak seberapa lama kemudian.”

Oleh sebab itu, kendaraan orang mukmin ketika mengarungi samudera dunia adalah perahu takwa, berdayung iman dan berlayar tawakal. Itulah kunci keselamatan. Sungguh, betapa sedikit yang selamat!
----------------------------------

Catatan nabi Ibrahim untuk dunia

Disebutkan dalam lembaran Suhuf nabi Ibrahim kata-kata berikut, “Wahai dunia betapa hinanya dirimu di mata orang baik, meskipun engkau hiasi dirimu sedemikian rupa. Percuma saja, karena Aku telah menyusupkan di hatinya rasa benci dan sikap penolakan terhadapmu. Aku tidak menciptakan sesuatu yang lebih hina di mata-Ku melebihi dirimu. Apa yang ada padamu hanyalah sesuatu yang tidak bernilai, bahkan dirimu pun akan mengalami kefanaan. Sebab telah Aku putuskan, ketika menciptakanmu, engkau tidak abadi dan tidak ada satu pun yang bisa membuatmu abadi, meskipun para pecintamu pelit terhadapmu. Sungguh, beruntunglah orang yang baik itu. Ia senantiasa mengingat-Ku dengan penuh kerelaan, kejujuran, dan istiqamah. Sungguh, beruntunglah ia. Tak ada balasan di sisi-Ku melainkan cahaya yang akan menuntunnya ketika dibangkitkan dari kuburan. Sementara para malaikat akan mengelilinginya hingga Aku penuhi apa yang ia harapkan dari rahmat-Ku.” Begitulah sang Pencipta mensifati bumi, seperti yang ditulis oleh Ibnu Abi Dunya dalam Dzamm ad-Dunyânya.
------------------------------------
Bagai makan buah simalakama

Begitulah ungkapan yang tepat menurut orang mukmin. Makan ini salahmakan itu juga salah. Pilih yang ini, yang satunya tidak bisa diraih. Satu dikejar, satunya lagi lepas dari genggaman. Mau, tidak mau, harus ada yang dikorbankan. Begitulah orang mukmin membandingkan dunia dan akhirat. Jika dunia yang dipilih maka akhirat akan terlantarkan. Adapun jika akhirat yang dikejar, dunia tidak maksimal didapatkan. Ingin dapat dua-duanya, sepertinya hampir mustahil. Harus satu yang didahulukan. Ya, dan pilihannya ada pada akhirat. Dengan pertimbangan, jika dunia yang didahulukan, kemungkinan mendapatkan akhirat nol persen. Namun, jika akhirat yang didahulukan, dunia masih bisa didapatkan, meskipun cuma satu persen. Itu lebih baik. Baca dan cermati firman Allah ‘‘Azza wa Jalla berikut (yang artinya), “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. al-Qashash [28]: 77).

Apa pesan yang terkandung dari ayat tersebut? Menurut para ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Jami’ al-Bayannya misalnya, hendaknya harta yang Allah berikan itu digunakan untuk kebaikan akhirat, dengan cara mendistribusikannya pada ketaatan dengan tetap memerhatikan bagian kita di dunia, alias tidak melupakannnya. Ambil dan gunakanlah untuk sesuatu yang akan menyelamatkan kita besok dari azab Allah.

Atau, seperti kata as-Sa’di dalam kitab Taisirnya, harta yang diperoleh itu adalah sarana menuju akhirat, maka seyogyanya digunakan untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah. Hendaknya disedekahkan dan tidak digunakan untuk pemenuhan syahwat semata. Tidak mengapa jika ingin bersenang-senang dengan dunia, hanya saja jangan sampai membahayakan agama dan akhiratnya. Nah, begitulah seharusnya. Hidup di dunia cuma sekali, itu pun tidak abadi.

Lalu seperti apakah nasib seseorang kelak jika ia mendahulukan dunia? Mendahulukan akhirat, bukan berarti tidak boleh bersenang-senang menikmati dunia. Itu boleh-boleh saja, asalkan jangan sampai terlena dan lupa pada tujuan yang sesungguhnya. Bahkan, seandainya kenikmatan itu digunakan sebagai sarana menuju tujuan yang asasi, yaitu akhirat, itu adalah sesuatu yang sangat bagus. Bukankah demikian?

Di samping itu, hal ini juga akan mengurangi ketergantungan hati pada dunia. Sebab hati tersibukkan oleh perkara akhirat, meskipun secara lahiriah sedang menikmati dunia. Sebaliknya, jika hati disibukkan dengan perkara dunia, ketergantungannya pun pasti ada padanya, meskipun secara lahiriah sedang melakukan amalan akhirat.

“Jika dunia dan akhirat berkumpul dalam satu hati,” begitulah Sayyar Abu Hakam memaparkan yang kemudian dinukil Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Dzamm ad-Dunyâ, “Maka salah satunya akan saling mengalahkan yang lainnya. Siapa pun yang kalah ia akan ikut dan tunduk kepada pemenangnya,”
Inilah waktunya

Mungkin pernah terpikirkan atau bahkan terbayangkan di benak kita, seseorang yang melakukan perjalanan jauh dan kehabisan bekal, lalu di tengah perjalanan singgah dan istirahat sebentar untuk membeli perbekalannya. Apa yang akan diperbuatnya? Tentunya, ia akan memanfaatkan waktu singgahnya yang sebentar itu dengan sebaik-baiknya, dan hanya membeli barang pokok yang dibutuhkannya saja, tanpa menoleh sedikit pun ke barang lainnya, meskipun itu menarik. Sedikit saja ia tertarik kepada barang itu, lalu mulai melihat dan memerhatikannya satu persatu, itu akan menghambat dan memperlambat perjalanannya.

============= Kondisi Manusia di Alam Barzakh ======

Barzakh secara bahasa berarti batas, dinding, atau jarak antara dua hal yang menghalangi keduanya bertemu secara langsung.Hal ini seperti disebutkan Alquran : “Antara keduanya ada batas (barzakh) yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (Q.S. al-Rahman: 20). Secara istilah barzakh berarti batas dan pemisah antara kehidupan dunia  dan akhirat. Yakni, alam yang dimulai sesaat setelah kematian dan berakhir begitu tiba hari kiamat.Imam Ja’far Shadiq berkata, “Barzakh adalah kubur (dimulai) dari hari kematian sampai hari kiamat.Ini berarti, selain alam dunia dan alam akhirat ada alam ketiga yang disebut dengan alam barzakh, yaitu alam di mana ruh manusia bersemayam di sana sesudah kematian hingga datang hari kiamat, “Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, ia berkata, ”Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminûn: 99-100).

Alam barzakh adalah gerbang atau stasiun yang mesti dilalui oleh setiap manusia yang meninggal dunia, baik dia dikubur dalam tanah maupun tidak. Artinya, meskipun jasad seseorang hilang lenyap, hangus terbakar menjadi abu, dimakan binatang buas maupun tenggelam di dasar lautan, akan tetapi ruhnya tetap hidup dan mendapatkan kenikmatan dari Allah, ataupun siksaan sebagai sebuah azab, atau juga tak mendapatkan apa-apa. Semuanya tergantung pada amalnya selama hidup di dunia. Nabi bersabda, “Kuburan dapat merupakan taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurangnya neraka” (H.R. Turmudzi). Jadi, jika manusia mati, ia tidak akan memasuki alam akhirat langsung. Namun, ia akan singgah di alam antara dunia dan akhirat yang bernama Barzakh.

Perlu diperhatikan, meskipun manusia telah mati, bukan berati ia terputus total dengan alam dunia. Karenanya ruh yang di alam barzakh masih dapat berhubungan dengan alam dunia, seperti pertemuan para penghuni alam barzakh di antara mereka dan pertemuan mereka dengan sanak keluarganya, mendengar berbagai pembicaraan atau perbuatan manusia dan melihat peristiwa-peristiwa di dunia (Q.S. Ali Imran : 169-171). Begitu pula, orang-orang yang memiliki kemuliaan dan masih hidup dapat berhubungan dengan ruh-ruh yang di alam barzakh (lihat Q.S. Ali Imran 77-79; Al-A’raf: 93; Zukhruf: 45; Al-Shaffat: 79, 109, 120, 130, 181).

Dengan demikian, kehidupan barzakh adalah pengalaman yang disadari. Artinya, kehidupan barzakh merupakan sejenis proses pemurnian yang manamanusia yang memasuki alam barzakh ini dibersihkan dari kotoran-kotoran (dosa). Kehidupan barzakh merupakan tahap awal untuk melihat dan memetik hasil-hasil amal yang ditanam selama hidup di dunia. Hanya saja ada perbedaan kesadaran antara orang yang soleh dengan orang yang salah (lihat Q.S. al-Rum : 55-56).

Jadi, di alam barzakh, manusia akan mendapatkan pertanyaan, kesenangan atau kesulitan sesuai dengan derajat keimanannya. Alam barzakh merupakan tempat penyucian bagi orang-orang yang beriman untuk meringankan perhitungan mereka di akhirat (tasfiyah). Ada tiga jenis kondisi manusia di alam barzakh, yaitu :

  1. Mendapatkan nikmat dan kebahagiaan. Inilah kondisi orang-orang yang soleh, “Jangan kamu kira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, tapi sesungguhnya mereka hidup di sisi tuhan mereka dan mendapat rezeki.”(QS. Ali Imran: 169).
  2. Mendapatkan siksaan dan kesengsaraan. Inilah kondisi orang-orang kafir, durhaka, berdosa, zalim, para tiran, dan pendukung-pendukungnya, “Kepada mereka ditayangkan neraka pagi dan petang, dan pada saat datangnya hari kiamat (ia berkata): “Masukkan keluarga Firaun dalam siksa yang paling berat.” (QS. Al-Mukmin: 46)
  3. Dibiarkan saja tanpa kenikmatan dan tanpa siksaan. Mereka seperti tertidur saja, dan tersentak ketika hari kiamat tiba. Inilah kondisi orang-orang yang dosanya tidak sebesar kelompok kedua. “Dan pada saat datangya hari kiamat, orang-orang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak tinggal dalam kubur kecuali sebentar. Dan orang-orang yang diberi ilmu dan inian berkata (kepada para pendosa): “Kamu telah tingga! (di dalam kubur) atas ketetapan Allah hingsa hari kebangkitan. Dan ini adalah hari kebangkitan, tapi kamu tidak tahu.” (QS. Al-Rum: 55-56)
Views All Time
Views All Time
95
Views Today
Views Today
2

Hits: 161

4 Comments

  1. Tahapan Perjalanan Ruh Mukmin hingga ke Alam Barzakh

    Siapa pun yang yakin akan kematian dan peristiwa gaib lainnya tentu penasaran ingin mengetahui bagaimana nasib dan perjalanan dirinya kelak. Namun, tak seorang pun yang boleh menyandarkan berita gaib kecuali kepada nas Al-Qur’an dan hadits yang sahih. Berikut ini adalah sebuah hadits sahih yang memuat penjelasan memadai tentang perjalanan seorang mukmin sejak berhadapan dengan kematian sampai ditempatkan di liang lahat dan mendapatkan berbagai nikmat kubur. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Nasa’i, Ahmad al-Hakim, dan al-Thayalisi. Dikomentari oleh al-Hakim, “Hadits ini memenuhi kriteria al-Bukhari dan Muslim.” Pendapat ini pun diakui oleh al-Dzahabi. (Lihat: Dr. Sulaiman al-Asyqar, Al-Qishash al-Ghaib fi Shahih al-Hadits al-Nabawi, [Oman: Daru al-Nafa’is], 2007, cet. pertama, hal. 224). Berikut adalah intisari kisahnya: Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi bersama para sahabat mengantarkan jenazah seorang sahabat Anshar. Setibanya mereka di pemakaman, penggalian liang lahat belum usai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun duduk di atas tanah sambil menghadap kiblat. Sementara para sahabatnya duduk di sekitarnya dengan tenang. Saking tenangnya, seakan-akan ada burung hinggap di atas kepala mereka. Melalui hadits ini, perawi hadits menggambarkan bagaimana keadaan di sekitar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu. Beliau mengambil sebuah kayu lalu mengorek-ngorek tanah. Kemudian, beliau melihat ke langit lalu menunduk. Tak lama, beliau melihat lagi ke langit kemudian menunduk. Hingga tiga kali. Setelah itu, beliau bersabda kepada para sahabat, “Memohonlah kalian (perlindungan) kepada Allah dari siksa kubur.” Sebanyak dua atau tiga kali. Lantas, beliau pun berdiri dan berdoa: اَللَهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur.” (Sebanyak tiga kali) Itulah doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus menjadi pembuka atas haditsnya yang panjang. Beliau menggambarkan kepada para sahabatnya bagaimana keadaan seorang hamba sejak ditemui kematian sampai dimasukkan ke dalam liang kuburnya, lalu ditinggalkan oleh keluarga, kolega, dan para sahabat. Lantas apa saja yang menimpa hamba tersebut setelah itu?

  2. Dikabarkannya bahwa manusia saat dijemput kematian terbagi menjadi dua golongan: ada yang beriman dan ada yang kufur. Dan perbedaan di antara keduanya sangat jauh dan mendasar. Sesungguhnya, seorang hamba yang beriman, ketika hendak meninggalkan kehidupan dunianya dan memasuki kehidupan akhiratnya, akan didatangi para malaikat dari langit. Mereka datang dalam rupa terbaik dan akan menempati sebuah tempat tertentu, seraya mengenakan pakaian yang terbaik pula. Wajah mereka putih berseri-seri, seakan-akan mentari yang tengah bersinar. Di tangan mereka terdapat kain kafan dari surga untuk membungkus ruh sang hamba, lengkap dengan minyak wanginya yang akan mengharumkan ruh sang sang hamba tadi. Tampak terlihat mereka duduk sejauh pandangan mata. Bahkan, sebagian orang saleh bisa menceritakan kejadian yang disaksikannya itu, sementara orang-orang di sekitar mereka sama sekali tidak melihat apa-apa. Tak lama berselang, datanglah malaikat maut dan duduk dekat kepala sang hamba. Dia berkata kepada ruh si hamba: يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلى رَبِّكِ راضِيَةً مَرْضِيَّةً “Wahai jiwa yang tenang…. Keluarlah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridhai,” (QS al-Fajr [89]: 27-28). Ruh pun tak bisa menunda perintah itu. Ia perlahan mengalir keluar dari jasad seperti keluarnya air yang bersih dan jernih dari mulut geriba air. Setelah ruh mukmin yang bersih dan jernih itu keluar, semua malaikat langit dan malaikat bumi menshalatkannya. Pintu-pintu langit dibuka. Setiap penduduk pintu berdoa kepada Allah dan memohon agar ruh hamba itu diangkat ke tempat mereka. Begitu ruh sang hamba berhasil dikeluarkan oleh tangan malaikat maut, maka para malaikat yang hadir menyaksikan kematian tidak membiarkan ruh itu sekejap mata pun. Mereka langsung mengambilnya dan meletakkannya di atas kain kafan dan minyak wangi yang mereka bawa dari surga. Demikian kematian yang digambarkan Allah dalam Al-Qur’an, Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya, (QS al-An‘am [6]: 61).

  3. Setelah ruh terpisah dari jasad, terciumlah aroma semerbak wangi, sampai-sampai memenuhi dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah menggambarkan bagaimana aroma wangi ruh hamba tersebut, melalui sabdanya, “Aroma itu keluar dari ruh bagaikan minyak kesturi yang paling wangi yang pernah engkau temukan di muka bumi.” Rupanya itu ruh yang selalu diharumkan dengan keimanan dan amal-amal saleh sewaktu di dunia. Dan jejak aroma dari ruh itu jelas diketahui saat ruh tersebut keluar dari jasadnya dan tercium para malaikat. Bahkan, aroma wangi dari orang meninggal seperti itu tercium pula oleh sebagian orang saleh. Dapat dipastikan, aroma wangi itu salah satunya keluar dari ruh para syuhada. Sebab, banyak sekali kabar mutawatir, baik yang klasik maupun yang modern, tentang para syuhada yang jasadnya mengeluarkan aroma wangi yang tercium orang-orang yang masih hidup. Namun, terkadang ada pula aroma wangi yang lahir dari selain para syuhada. Setelah berhasil mengenggam ruh sang hamba, para malaikat langsung bertolak ke langit tertinggi. Di perjalanan, setiap berjumpa dengan kerumunan malaikat, mereka ditanya tentang bawaan ruh yang wangi sewangi minyak misik itu. Salah satu dari mereka menjawab, “Ini adalah ruh fulan bin fulan.” Tak lupa mereka menyebut nama ruh hamba itu dengan nama terbaik yang pernah mereka dengar di dunia. Setibanya di langit dunia, para malaikat pembawa ruh meminta izin kepada para penjaga langit. Setelah diizinkan masuk, mereka pun diikuti dan diantar para malaikat di langit dunia sampai ke langit berikutnya. Begitu seterusnya, hingga di langit ketujuh. Setiba di langit ketujuh, Rabbul ‘Izzati berfirman, “Tulislah oleh kalian nama hamba-Ku ini di ‘illiyyin,” sebagimana firman-Nya dalam Al-Qur’an: وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ، كِتَابٌ مَرْقُومٌ، يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ "Tahukah kamu apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)," (QS al-Muthaffifîn [83]: 19-21). Maka ditulislah nama hamba tersebut pada ‘illiyyin. Lalu dikatakan kepada mereka: “Kembalikanlah dia ke bumi. Sebab, Aku berjanji kepada mereka: darinya Aku menciptakan mereka. Ke sana Aku mengembalikan mereka. Dan darinya Aku mengeluarkan mereka lagi.” Hal itu sebagaimana dilansir dalam Al-Qur’an: مِنْها خَلَقْناكُمْ وَفِيها نُعِيدُكُمْ وَمِنْها نُخْرِجُكُمْ تارَةً أُخْرى Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kalian pada kali yang lain, (QS Thaha [20]: 55).

  4. Setelah melewati perjalanan langit dan namanya dicatat dalam illiyyin, ruh itu dikembalikan ke bumi dan dimasukkan lagi ke jasadnya. Sehingga, dia bisa mendengar kembali suara sandal kawan-kawannya yang berpaling meninggalkan kuburnya dan bertolak ke rumah masing-masing. Setelah ruh itu dikembalikan ke dalam jasad yang ada di dalam kubur, maka hanya Allah yang maha mengetahui cara mengembalikannya. Sebab, keadaan alam kubur atau alam barzakh tidak seperti keadaan di dunia. Selanjutnya, dia akan didatangi oleh dua malaikat yang berteriak keras dan kasar. Didudukkanlah hamba tersebut oleh mereka, lalu ditanya tentang empat hal. Pertanyaan pertama adalah tentang Tuhan yang disembahnya semasa di dunia. Keduanya bertanya, “Siapakah Tuhanmu?” Maka hamba itu menjawab, “Tuhanku adalah Allah.” Pertanyaan kedua adalah tentang agama yang dipeluk dan mengajarkan dirinya beribadah kepada Tuhannya. Maka hamba itu menjawab, “Agamaku adalah Islam.” Pertanyaan yang ketiga adalah tentang rasul yang diutus di tengah umat Islam dan menjadi panutannya. Maka dia akan menjawab, “Rasulku adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Dan pertanyaan yang keempat adalah tentang amal-amalnya semasa di dunia. Maka dia akan menjawab, “Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, bersedekah, dan yang lainnya.” Pertanyaan-pertanyaan di atas mencerminkan fitnah (ujian) kubur, sekaligus fitnah terakhir yang dihadapkan kepada seorang mukmin. Saat itu, tidak berguna sedikit pun kecerdasan, tipu daya, dan cara lain untuk menyelamatkan dirinya. Andai ada orang kafir yang menghafal jawaban-jawaban itu dengan benar di dunia, maka jawaban-jawaban tersebut tidak akan keluar sesuai dengan yang diinginkan. Sebab, orang yang diberi pertolongan untuk memberikan jawaban yang benar hanyalah orang mukmin yang ditetapkan Allah keimanan dan amal salehnya. Sehingga dia bisa menjawab dengan benar. Hal itu sejalan dengan firman-Nya: يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشاءُ Artinya: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki," (QS Ibrahim [14]: 27). Di sanalah seorang hamba diuji dan diselamatkan dari ujiannya. Namun, itu semua berkat hidayah Allah dan keimanannya, sehingga bisa memberi jawaban yang benar sesuai dengan keadaannya semasa di dunia. Setelah itu, terdengar suara panggilan dari langit yang membenarkan apa yang disampaikannya, memerintah para malaikat untuk mengubah kuburannya menjadi salah satu taman surga. Lalu terdengarlah suara dari langit, “Hamba-Ku itu benar. Maka hamparkanlah sebuah taman dari surga untuknya. Berilah pakaian dari surga untuknya. Bukalah sebuah pintu ke surga untuknya.” Maka datanglah aroma wangi dari surga kepadanya. Dan dilapangkanlah kuburannya sejauh mata memandang. Hilang seruan itu, datanglah kepada hamba tersebut seorang laki-laki atau seorang yang menyerupai sosok laki-laki. Laki-laki itu berwajah tampan, berpakaian bagus, dan beraroma wangi. Kemudian, laki-laki itu menyampaikan kabar gembira yang menenangkan hatinya. Dalam hadits ditegaskan, “Datanglah kepadanya seorang laki-laki berwajah tampan, berpakaian bagus, dan bertubuh wangi. Dia berkata, ‘Gembirakanlah dirimu dengan kabar yang menenangkanmu. Gembirakanlah dirimu dengan kabar tentang keridaan Allah dan surga-surga yang berisi aneka kenikmatan abadi di dalamnya. Inilah harimu yang dijanjikan kepadamu.’” Sang hamba pun mencoba mencari tahu siapa sesungguhnya laki-laki yang memberikan kabar gembira kepada dirinya. Dia lalu bertanya, “Semoga Allah memberikan kabar baik kepadamu, siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.” Namun belakangan sang hamba tahu bahwa laki-laki pembawa kabar gembira adalah amal saleh yang pernah dikerjakannya selama di dunia. Sementara harta kekayaan, keluarga, dan anaknya tak lagi di sampingnya. Yang tertinggal adalah amal baik yang membawa kabar gembira baginya, menemani dirinya dalam kuburnya. Maka sosok yang diserupakan dengan sosok laki-laki itu menjawab, “Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, aku tidak mengetahuimu kecuali dulu engkau bergegas menaati Allah. Namun, lamban dalam melakukan kemaksiatan. Semoga Allah membalas kebaikanmu.” Di samping itu, Allah juga menjelaskan bagaimana keadaan yang akan dihadapi seorang hamba pada hari Kiamat, baik hamba yang mukmin maupun hamba yang kufur. Bagaimana nasib mereka kelak pada hari itu berkat keimanan dan kesalehan masing-masing. Seperti yang diungkap dalam hadits, pada hari itu, sebuah pintu dari surga akan dibukakan untuk hamba yang mukmin. Sesungguhnya, seorang hamba mukmin akan mengetahui sejauh mana nikmat Allah kepada dirinya. Bagaimana pula keadaannya jika tidak ditunjukkan kepada jalan Islam setelah melihat tempatnya di dalam surga kenikmatan. Karenanya tidaklah heran, setelah melihat kenikmatan yang menanti dirinya di negeri keabadian, seorang hamba sampai meminta disegerakan Kiamat kepada Tuhannya. Tujuannya agar dirinya bisa segera menempati negeri tersebut, menikmati apa yang dijanjikan Allah di dalamnya. Maka disampaikanlah kepadanya, “Tenanglah. Segala sesuatu telah ditetapkan waktunya. Ketika waktu itu datang maka apa yang ditetapkan Allah akan terjadi pasti terjadi.” Demikian yang terjadi pada seorang hamba mukmin mulai turun sakaratul maut (sekarat) untuknya hingga datang tuntutan untuknya agar senantiasa tenang dalam kubur sampai tiba waktu yang telah ditetapkan Allah (Kiamat), berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sahih. Wallahu a’lam.

Leave a Reply