Comments for Edy tanda-tanda- the SIGN https://edy.upy.ac.id “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (QS Muhammad ayat 18) Thu, 06 Sep 2018 03:21:47 +0000 hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.2 Comment on walau kiamat/malapetaka besar/doom day/catastrophe/hujan batu dan efeknya TIBA-TIBA, … ada TANDA-TANDAnya, yang diJELASkan oleh NABI SAW …. lalu …diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi ————————————— “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (QS Muhammad ayat 18) ———————– by master master https://edy.upy.ac.id/2018/09/06/walau-kiamat-malapetaka-besar-doom-day-catastrophe-hujan-batu-dan-efeknya-tiba-tiba-ada-tanda-tandanya-yang-dijelaskan-oleh-nabi-saw-lalu-diriwayatkan-oleh-sahabat-sah/comment-page-1/#comment-63 Thu, 06 Sep 2018 03:21:31 +0000 http://edy.upy.ac.id/?p=4940#comment-63 Hadits Jaabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz.
“Artinya : Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang “BERPERANG” diatas kebenaran sampai hari “KIAMAT” ; beliau berkata lagi : “LALU” TURUN-lah Isa bin Maryam, kemudian amir mereka berkata : silahkanlah mengimami kami (dalam shalat), maka beliau menjawab : Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah amir atas sebagian yang lain sebagai pemulian Allah terhadap umat ini” [Dikeluarkan oleh Muslim (2/193 An-Nawawiy)

]]>
Comment on walau kiamat/malapetaka besar/doom day/catastrophe/hujan batu dan efeknya TIBA-TIBA, … ada TANDA-TANDAnya, yang diJELASkan oleh NABI SAW …. lalu …diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi ————————————— “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (QS Muhammad ayat 18) ———————– by master master https://edy.upy.ac.id/2018/09/06/walau-kiamat-malapetaka-besar-doom-day-catastrophe-hujan-batu-dan-efeknya-tiba-tiba-ada-tanda-tandanya-yang-dijelaskan-oleh-nabi-saw-lalu-diriwayatkan-oleh-sahabat-sah/comment-page-1/#comment-62 Thu, 06 Sep 2018 03:21:21 +0000 http://edy.upy.ac.id/?p=4940#comment-62 “Kalian perangi JAZIRAH ARAB (=semenanjung arabia dari utara Syria Mesir, Lybia, ….. sampai selatan yaman) dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian PERSIA {= wilayah utama di Iran= SYIAH… berkembang ke syria, libanon, irak dan sekitarnya), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi RUM , dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi DAJJAL, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

]]>
Comment on walau kiamat/malapetaka besar/doom day/catastrophe/hujan batu dan efeknya TIBA-TIBA, … ada TANDA-TANDAnya, yang diJELASkan oleh NABI SAW …. lalu …diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi ————————————— “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (QS Muhammad ayat 18) ———————– by master master https://edy.upy.ac.id/2018/09/06/walau-kiamat-malapetaka-besar-doom-day-catastrophe-hujan-batu-dan-efeknya-tiba-tiba-ada-tanda-tandanya-yang-dijelaskan-oleh-nabi-saw-lalu-diriwayatkan-oleh-sahabat-sah/comment-page-1/#comment-61 Thu, 06 Sep 2018 03:20:47 +0000 http://edy.upy.ac.id/?p=4940#comment-61 MANUSKRIP AYYUB bin Khairudin ini terdapat sebuah riwayat yang diterima Abu Hurairah r.a. mengatakan, “Al-Mahdi dan pasukan kaum Muslim menduduki at-Tall Dzu al-Muruj, dan al-Mahdi menguasai semua mata air dan tanahnya. Kemudian ia mengabarkan kepada dunia tentang kemenangan kaum Muslim. Lalu, ROMAWI BERGABUNG DENGAN BANGSA BANGSA TERKUTUK UNTUK MELAWAN AL-MAHDI. Akan tetapi, Allah MELEMPARI MEREKA DENGAN “LEMPARAN” YANG SANGAT BESAR.

]]>
Comment on walau kiamat/malapetaka besar/doom day/catastrophe/hujan batu dan efeknya TIBA-TIBA, … ada TANDA-TANDAnya, yang diJELASkan oleh NABI SAW …. lalu …diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi ————————————— “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (ASSAAH/ٱلسَّاعَةَ) kedatangannya kepada mereka dengan TIBA-TIBA, karena sesungguhnya telah datang TANDA-TANDAnya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (QS Muhammad ayat 18) ———————– by master master https://edy.upy.ac.id/2018/09/06/walau-kiamat-malapetaka-besar-doom-day-catastrophe-hujan-batu-dan-efeknya-tiba-tiba-ada-tanda-tandanya-yang-dijelaskan-oleh-nabi-saw-lalu-diriwayatkan-oleh-sahabat-sah/comment-page-1/#comment-60 Thu, 06 Sep 2018 03:17:18 +0000 http://edy.upy.ac.id/?p=4940#comment-60 ………PERSIAPKAN “bekal” untuk HIDUP SELANJUTnya (setelah mati) ……….

Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata : Saya datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling cerdas dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak memperSIAPkan BEKAL untuk MATI. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemulyaan dunia dan kemulyaan akhirat”.
[HR. Ibnu Abid-Dunya di dalam kitabul-Maut. Thabrani di dalam Ash-Shaghir]

Sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Siapa diantara orang-orang mukmin itu yang lebih utama ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling baik akhlaqnya diantara mereka”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapakah diantara orang-orang mukmin yang paling cerdas/cerdik ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling banyak ingat mati diantara mereka, dan orang yang paling baik per-SIAP-annya untuk KEHIDUPAN SELANJUTNYA. Mereka itulah orang-orang yang cerdas”.
[HR. Baihaqi di dalam kitabuz-Zuhud]

]]>
Comment on memahami arti SULTHON, suatu KEKUATAN untuk MENEMBUS atau MELINTASI LANGIT ------ berdasarkan ayat Allah "KAUNIYAH" dan "QAULIYAH" ----- ﴾ Ar Rahmaan:33 ﴿ Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup MENEMBUS (melintasi/تَنفُذُوا۟) penjuru LANGIT dan BUMI, maka LINTASIlah {TEMBUSlah/فَٱنفُذُوا۟} , kamu tidak dapat menembusnya {تَنفُذُونَ} kecuali dengan KEKUATAN {بِسُلْطٰنٍ}. -------------- BUKTI man fissamawati memiliki SULTHON dan MENEMBUS LANGIT /antar Bintang/ antar galaksi/ antar planet ----- Teori yang harus dibuktikan secara langsung inilah yang menjadikan lahirnya konsep perjelajahan antar bintang (Interstellar). Konsep Interstellar merupakan salah satu konsep perjalanan fiksi ilmiah yang berada di luar angkasa. ---------------------- Perjalanan antar bintang jauh lebih sulit dibandingkan dengan perjalanan dari Bumi ke Bulan maupun antar planet karena terkendala pada batasan Sumber daya, ilmu pengetahuan pada manusia serta belum adanya kendaraan yang mampu menembus kecepatan cahaya. Jarak antar bintang adalah ratusan ribu SA (Satuan Astronomi, yang berdasarkan jarak matahari dan bumi yang mencapai 150.000.000 km) dan dinyatakan dengan tahun cahaya (berdasarkan pada pengukuran jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun melewati ruang hampa udara) membuat perjalanan waktu ini menjadi sekedar fiksi ilmiah semata yang kali ini akan lebih menarik dibahas. Waktu tempuh yang dibutuhkan yang lama ini memerlukan tantangan teknologi dan terobosan fisika serta pendanaan yang cukup besar merupakan kendala utamanya. ----------------- by admin https://edy.upy.ac.id/2018/02/17/memahami-arti-sulthon-suatu-kekuatan-untuk-menembus-atau-melintasi-langit-berdasarkan-ayat-allah-kauniyah-dan-qauliyah-%ef%b4%be-ar-rahmaan33-%ef%b4%bf-hai-jamaah-jin-dan-ma/comment-page-1/#comment-59 Sat, 17 Feb 2018 04:14:40 +0000 http://edy.upy.ac.id/?p=4769#comment-59 Benarkah Miraj Nabi Muhammad adalah simbol keilmuan tentang penerbangan antar planet?

Jawabnya: YA. Seperti "penerbangan" yang pernah dialami juga oleh Ibrahim, kemudian kembali ke Bumi, serta "penerbangan" yang pernah di alami oleh Adam dan Isa yang sama2 tidak kembali ke planet asalnya.

Lalu, bisakah kita membuatnya/melaksanakannya sekarang juga?

Jawabnya : TIDAK. Allah telah menyatakan di dalam Alquran bahwa kita tidak akan bisa menjalani peradaban ini dengan waktu yang sekaligus. Atau bisa dikatakan harus melalui proses setingkat demi setingkat. Sehingga dalam hal ini semua yang ada berproses semakin maju dan semakin canggih seiring sunatullah yang berlaku.

Surat 84/19 :
"Sesungguhnya kamu akan menjalani setingkat demi setingkat."

Surat 57/22 :
"Apa-apa yang terjadi di Bumi atau pada dirimu sendiri semuanya sudah tertulis dalam kitab sebelum Kami melaksanakannya."

Surat 36/42 :
"dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu (pesawat angkasa)."

Jika saat ini "kecanggihan" peradaban kita baru berupa komunikasi handphone, komputer, motor, mobil, pesawat udara, kapal selam, dan yang paling muktahir adalah penerbangan ke Bulan. Itu pun juga masih banyak kekurangan di sana sini di mana pesawat Apollo kita sempat meledak hanya beberapa menit sesudah lepas landas.

Atau baru mampu menyelidiki planet-planet melalui pengamatan satelit saja, belum sanggup menginjak langsung ke permukaannya, maka lainnya halnya dengan manusia (mahluk berakal) di luar Bumi, mereka sudah mampu ke antar planet, termasuk mengunjungi Bumi kita dengan UFO nya. Dan hal inilah yang memang menjadi misteri besar untuk kita buktikan bersama.

Dan di masa depan kelak, barulah memang semua pencapaian ilmu kita dalam berbagai bidang itu telah berada di puncaknya. Sehingga akhirnya terlaksanalah penerbangan antar planet tersebut. Dan kita pun akhirnya mampu mendarat di setiap planet. Dan terjadilah peradaban yang benar-benar modern.

Surat 55/33:
"Wahai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu pengetahuan)."

Surat 16/8:
"Dan dia menciptakan bighal dan keledai sebagai kendaraanmu (kendaraan hewan). Dan Tuhanmu menciptakan yang tadinya tidak kamu ketahui (yaitu kendaraan mesin)."

Surat 43/12:
"Dan Dia lah yang menciptakan semua dengan berpasang-pasangan. Dan dijadikanNya kapal (kendaraan mesin) serta binatang ternak (kendaraan hewan)"

Surat 15/14-15:
"Seandainya Kami bukakan pintu langit. Lantas mereka menaikinya. Niscaya mereka berkata, "mata kami telah disulap dan selama ini telah di sihir (oleh ajaran-ajaran palsu)."

Mungkin kenyataan tentang adanya mahluk hidup berakal diluar Bumi ini terasa sangat berat diterima oleh sebagian besar orang, atau bahkan oleh kalangan Muslim sendiri. Tapi disini lah iman, ilmu dan amal kita di uji. Dan semua kembali pada misterinya perjalanan waktu yang dari masa ke masa memang selalu memberikan fakta-fakta akan kebenaran ayat-ayat Allah.

*****BATAS TUJUAN*****

Jika benar penerbangan antar planet dapat terwujud, apakah itu berarti kita dapat juga menjelajah planet-planet di luar tata surya kita ini? Galaksi lainnya?

Jawabnya : TIDAK.

Kehidupan kita telah di kurung oleh Allah dalam tata surya kita ini saja. Lebih jelas mengenai tata surya, baca Tata Surya.

Kita tidak akan mampu melebihi atau melewati planet terujung dari tata surya ini, yakni Muntaha. Planet ke 7 diatas kita. Atau planet terakhir ke 10 dari matahari. Tempat berhenti. Petunjuk ini sudah di beritakan oleh nabi kita sejak jauh-jauh hari, yakni dalam peristiwa Mirajnya tersebut.

Surat 53/13-17:
"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain"
"(yaitu) di Sidratul Muntaha."
"Di dekatnya ada surga tempat tinggal."
"(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya."
"tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya."

Susunan ayat diatas memberikan penjelasan. Selain diketahui Muhammad Miraj ke sana, ayat diatas juga memberikan petunjuk bahwa disana adalah merupakan Surga pertamanya Adam. Yakni di Muntaha tersebut. Hingga akhirnya ia bersama istrinya di turunkan ke Bumi. Dan kita sebagai anak cucunya Adam kelak akan berkunjung ke planet nenek moyang kita tersebut.

Jadi sekali lagi, ternyata kepandaian kita disini telah di batasi oleh Allah. Tidak akan mampu lagi untuk melampaui tata surya kita ini. Dan ini juga di perkuat bahwa memang tatasurya di luar kita atau galaksi-galaksi lainnya hanya lah sebatas hiasan langit saja yang ditujukan untuk menambah ketakwaan kita akan kebesaranNya, 15/16. 85/1. Serta sebatas petunjuk bagi orang yang melakukan perjalanan saja, 6/97, 16/16.

Kesimpulannya, melampaui Muntaha berarti maut. Karena terdapat banyak sekali bahaya dari benda-benda langit yang ada. Dan alasan utamanya karena memang ilmu kita terhenti pada level ini. Disinilah batas kemampuan akal kita sebagai sarana yang bisa "menciptakan" kecanggihan benda.

*****AKHIR ZAMAN*****

Jika benar di planet lain terdapat manusia, apakah mereka juga memiliki ajaran Allah?

Jawabnya: YA. Hal ini di sinyalir dari petunjuk surat 14/4 yang berbunyi:

"Kami tidak mengutus seorang rasul kecuali dengan bahasa lidah mereka sendiri, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka...."

Keterangan : Jangankan pada manusia, di dunia Jin pun juga ada rasulNya. Allah telah mengutus rasulNya dari jenis mereka masing-masing, 6/130.

Maka jelas sekali bahwa keadaan di planet luar Bumi memang sama dengan keadaan di Bumi kita ini juga, yakni sama terdapat banyak manusia yang beriman dan yang kafir. Kesimpulan ini juga dapat kita lihat lagi pada maksud surat 3/83, 22/18, dan 12/105.

Surat 13/15:
"Hanya kepada Allah tunduk semua yang ada di planet dan di Bumi, baik dengan ikhlas maupun terpaksa. Dan tunduk pula bayang-bayang mereka di waktu pagi dan petang."

Surat 55/29:
"Orang-orang yang di planet dan di Bumi selalu meminta suatu (membutuhkan pertolongan) kepadaNya. Setiap waktu Dia mengurus mahlukNya".

****************

Lalu bagaimana berlakunya Muhammad sebagai Nabi Terakhir untuk semesta alam?

Surat 16/89 menyatakan bahwa Alquran mengandung jawaban bagi setiap permasalahan karena itu sejalan lah bahwa Alquran memang berfungsi di segala zaman, dan di segala tempat.

Surat 21/107:
"Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."

Dan karena Muhammad adalah Nabi yang membawa kitab Alquran tersebut, maka pantaslah beliau dinyatakan sebagai Nabi terakhir untuk seluruh manusia yang ada di tata surya kita ini.

Surat 7/158:
"Katakanlah: "Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan planet dan Bumi tidak ada Tuhan selain Dia... ".

Sesudah maksimalnya kemajuan teknologi di masa depan kelak, maka Alquran saat itu akan di bawa orang terbang ke setiap planet. Dan Alquran sendiripun akan disambut dengan tangan terbuka karena sesuai dengan wasiat dari Nabi-nabi di planet2 itu yang hidup sebelum masa kenabian Muhammad.

Surat 19/93:
"Semua orang-orang yang ada di planet dan di Bumi datang menghadap kepada Allah Yang Maha Pemurah tidak lain adalah sebagai hambaNya."

Surat 33/40:
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

******************

Kemudian bagaimana dengan pertemuan manusia antar planet itu? adakah perubahan pada jalannya kehidupan?

Jawabnya: BANYAK SEKALI.

Salah satunya yang akan kita urai sedikit disini adalah perubahan di bidang kebendaan dan di bidang kejiwaan. Di bidang kebendaan, orang tidak lagi membutuhkan jalan raya, rel kereta yang keduanya sangat menghabiskan tenaga, tempat dan waktu. Karena orang akan beralih ke teknologi yang lebih modern yaitu kendaraan piring terbang. Orang akan menggunakan daerah itu untuk tempat kediaman atau sekedar kebutuhan standar lainnya. Orang akan bekerja sama di berbagai bidang pada sesama manusia antar planet. Kehidupan saat itu akan benar-benar berada di taraf tertinggi.

Di bidang kejiwaan, orang akan menyadari bahwa manusia berawal dari 1 diri yang bermula di Muntaha, yaitu surga pertamanya Adam, lihatlah surat 20/117-119 dan 53/14.

Kemudian dari itu pula maka akhirnya banyak orang yang menyadari kebenaran Alquran seperti yang tercantum di surat 15/14-15 dan di perkuat surat 42/12-14. Setelah banyak perubahan yang terjadi, maka seiring naluri manusia yang memang tidak pernah puas akan memenuhi nafsunya, maka terjadilah saling perebutan kekuasaan dan wilayah sehingga dari hal tersebut berlakunya perang besar-besaran antar planet yang di nyatakan surat 18/99. Dan saat itulah akhir cerita dari semuanya, yaitu Allah menutup kehidupan ini dengan meluluhlantahkan total alam semesta ini, termasuk tatasurya kita di dalamnya.

Sejalan lah dengan firman Allah bahwasanya...

kisah ini pasti berakhir

ketentuan surat

Al Qashash (kisah) ayat terakhir

yang berbunyi :

"Dan jangan lah kamu sekali-kali menyembah Tuhan selain Allah. Tidaklah ada Tuhan selain Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti akan binasa, kecuali Allah. Dia lah yang menentukan tiap-tiap sesuatu dan kepadaNyalah kamu akan dikembalikan."

]]>
Comment on memahami arti SULTHON, suatu KEKUATAN untuk MENEMBUS atau MELINTASI LANGIT ------ berdasarkan ayat Allah "KAUNIYAH" dan "QAULIYAH" ----- ﴾ Ar Rahmaan:33 ﴿ Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup MENEMBUS (melintasi/تَنفُذُوا۟) penjuru LANGIT dan BUMI, maka LINTASIlah {TEMBUSlah/فَٱنفُذُوا۟} , kamu tidak dapat menembusnya {تَنفُذُونَ} kecuali dengan KEKUATAN {بِسُلْطٰنٍ}. -------------- BUKTI man fissamawati memiliki SULTHON dan MENEMBUS LANGIT /antar Bintang/ antar galaksi/ antar planet ----- Teori yang harus dibuktikan secara langsung inilah yang menjadikan lahirnya konsep perjelajahan antar bintang (Interstellar). Konsep Interstellar merupakan salah satu konsep perjalanan fiksi ilmiah yang berada di luar angkasa. ---------------------- Perjalanan antar bintang jauh lebih sulit dibandingkan dengan perjalanan dari Bumi ke Bulan maupun antar planet karena terkendala pada batasan Sumber daya, ilmu pengetahuan pada manusia serta belum adanya kendaraan yang mampu menembus kecepatan cahaya. Jarak antar bintang adalah ratusan ribu SA (Satuan Astronomi, yang berdasarkan jarak matahari dan bumi yang mencapai 150.000.000 km) dan dinyatakan dengan tahun cahaya (berdasarkan pada pengukuran jarak yang ditempuh cahaya dalam satu tahun melewati ruang hampa udara) membuat perjalanan waktu ini menjadi sekedar fiksi ilmiah semata yang kali ini akan lebih menarik dibahas. Waktu tempuh yang dibutuhkan yang lama ini memerlukan tantangan teknologi dan terobosan fisika serta pendanaan yang cukup besar merupakan kendala utamanya. ----------------- by admin https://edy.upy.ac.id/2018/02/17/memahami-arti-sulthon-suatu-kekuatan-untuk-menembus-atau-melintasi-langit-berdasarkan-ayat-allah-kauniyah-dan-qauliyah-%ef%b4%be-ar-rahmaan33-%ef%b4%bf-hai-jamaah-jin-dan-ma/comment-page-1/#comment-58 Sat, 17 Feb 2018 04:14:15 +0000 http://edy.upy.ac.id/?p=4769#comment-58 Etape pertama Rasulullah saw adalah perjalanan horisontal dari Mekkah ke Palestina. Dari apa yang saya uraikan di bagian depan, perjalanan itu hanya ditempuh Nabi dalam waktu tidak sampai 1 detik. Kenapa bisa secepat itu? Karena Nabi Muhammad, Jibril dan Buraq melesat dengan kecepatan cahaya, 300.000 km/detik. Maka, jarak Mekkah Palestina yang hanya sekitar 1.500 km itu pun tidak terlalu berarti bagi mereka.

Sesampai di masjidil Aqsha, Rasulullah saw sempat melakukan shalat bersama malaikat Jibril, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke langit ke tujuh. Perjalanan berikutnya adalah sebuah perjalanan yang memiliki mekanisme berbeda dengan etape pertama.

Pada etape pertama, Rasulullah saw melakukan perjalanan dengan badan wadag yang telah diubah menjadi badan cahaya. Akan tetapi sesampai di masjidil Aqsha badan Nabi telah berubah kembali menjadi badan material sebagaimana sebelumnya. Ini adalah etape teleportasi, sebagaimana digambarkan dalam berbagai film science fiction. Akan tetapi pada etape kedua, beliau tidak lagi menggunakan mekanisme tersebut melainkan melakukan perjalanan dimensional.

Ini adalah bagian yang sangat abstrak dan agak rumit dijelaskan. Akan tetapi, dengan berbagai perumpamaan dan analogi, mudah-mudahan pembaca bisa mengikuti apa yang akan saya sampaikan di bagian-bagian berikut ini.

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab berkaitan dengan perjalanan menuju langit ke tujuh ini. Untuk menghindari kesalah pahaman, maka kita harus menyamakan dulu persepsi tentang beberapa hat. Di antaranya adalah hal-hal berikut ini.
1. Apakah yang disebut langit?
2. Di langit manakah Bumi kita berada?
3. Apa dan bagaimanakah langit berlapis tujuh?
4. Bagaimana Rasulullah saw bisa melakukan perjalanan menembus, langit satu sampai ke tujuh?
5. Apakah yang terjadi ketika berada di Sidratul Muntaha?

MEMAHAMI LANGIT

Banyak di antara kita yang memiliki persepsi berbeda tentang langit. Ada yang berpendapat bahwa langit adalah sebuah 'atap' alias bidang pembatas ruang angkasa. Artinya, mereka mengira bahwa ruang di atas kita ada pembatasnya, semacam atap. Kelompok pertama ini, biasanya adalah mereka yang awam tentang ilmu Astronomi.

Kelompok kedua adalah mereka yang mengikuti berbagai macam informasi tentang angkasa luar dari berbagai film-film fiksi ilmiah, ataupun berbagai macam media massa. Pada umumnya mereka mengerti bahwa yang dimaksud langit adalah sebuah ruang raksasa yang berisi triliunan benda-benda langit, seperti matahari, planet-planet (termasuk Bumi), bulan, bintang, galaksi, dan lain sebagainya. Mereka memperoleh pemahaman yang lebih baik bahwa langit bukanlah sebuah bidang batas, melainkan seluruh ruang angkasa di atas kita.

Kelompok yang ketiga adalah mereka yang mempelajari informasi Astronomi lebih banyak dan lebih detil. Lebih jauh, mereka mencoba memahami berbagai hal yang berkait dengan struktur langit lewat berbagai teori-teori Astronomi. Mereka terus-menerus mengikuti berbagai informasi dan mencoba melakukan rekonstruksi terhadap struktur langit, yang secara umum dipahami sebagai alam semesta atau Universe.

Nah, dari ketiga kelompok pemahaman itu saya ingin mengambil kesimpulan yang bersifat global saja, sebagai pijakan awal pemahaman kiia tentang langit. Bahwa yang disebut langit sebenarnya bukanlah sebuah bidang batas di angkasa sana, melainkan sebuah ruang tak berhingga besar yang memuat triliunan benda-benda angkasa. Mulai dari batuan angkasa yang berukuran kecil, satelit semacam bulan, planet-planet, matahari dan bintang, galaksi hingga superkluster.

Karena itu, jika kita bergerak ke langit naik pesawat angkasa luar, misalnya, maka kita akan bergerak menuju ruang angkasa yang tidak pernah ada batasnya. Sehari, seminggu, sebulan, setahun dan seterusnya kita bergerak ke angkasa, maka yang kita temui hanya ruang angkasa gelap yang berisi berbagai benda langit saja. Sampai mati pun, kita tidak akan pernah menemukan pembatasnya. Ya, langit adalah ruang angkasa yang luar biasa besarnya. Bahkan, tidak diketahui dimana tepinya.

Nah, pemahaman tentang langit ini penting untuk menyamakan persepsi kita tentang perjalanan Mi'raj Rasulullah saw. Sebab, dalam pemahaman tradisional selama ini, kita memperoleh kesan betapa langit itu digambarkan sebagai atap alias 'langit-langit'. Bahkan digambarkan pula sebagai atap yang ada pintu-pintunya, yang kemudian mesti dibuka sebagaimana pintu rumah, ketika Rasulullah saw mau memasuki langit yang lebih tinggi.

Istilah langit dalam bahasa Inggris, barangkali memberikan gambaran yang lebih jelas: Sky. Dalam bahasa Indonesia lebih pas disebut sebagai 'Angkasa'. Istilah lainnya adalah space. Sehingga, angkasa di luar Bumi disebut sebagai Outer Space. Jadi langit adalah Ruang Angkasa.

Pemahaman tentang langit adalah pemahaman yang cukup rumit. Apalagi jika dikaitkan dengan struktur langit yang tujuh. Untuk langit pertama saja, tidaklah mudah. Bahkan sampai sekarang ilmu Astronomi masih menemui berbagai kendala yang agak rumit dalam mempersepsi struktur alam tersebut. Akan tetapi, Insya Allah semuanya berangsur-angsur bisa dijelaskan.

Di dalam Al-Qur'an, Allah secara jelas dan berulangkali menginformasikan bahwa langit yang Dia ciptakan itu memang bukan hanya satu, melainkan 7 lapis, sebagaimana diinformasikan dalam ayat berikut ini.

QS. At Thalaq (65): 12
" Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula Bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."

QS. Al Mulk (67): 3
" Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?"

Dan masih ada beberapa ayat lagi yang bercerita tentang langit yang tujuh. Cuma, kita mesti mencermati penggunaan kata langit (assamaa' dan assamaawaat - tunggal dan jamak). Kata-kata ini ternyata digunakan oleh Allah untuk menggambarkan ruang di atas Bumi, baik yang berarti atmosfer, maupun yang berarti angkasa luar.

Penggunaan kata langit yang bermaksud untuk angkasa luar, misalnya adalah yang terdapat dalam ayat-ayat di atas. Dan juga ayat berikut ini.

QS Fushilat (41): 12
" Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui."

Di ayat tersebut tergambar jelas sekali bahwa Allah menggunakan kata as samaawaat untuk menggambarkan angkasa luar. Kenapa ada kesimpulan begitu? Karena Dia menggambarkan bahwa langit yang dekat dihiasi dengan bintang-bintang. Dan kita tahu semua bahwa bintang-bintang itu bukan terdapat di atmosfer, melainkan di ruang angkasa.

Maka, ketika Allah bercerita tentang langit yang tujuh di ayat tersebut, langit yang dimaksudkan adalah langit alam semesta yang jumlahnya 7 tingkat.

Akan tetapi, di ayat-ayat yang lain Allah menggunakan kata-kata assamaa' dan assamawaat untuk menggambarkan atmosfer Bumi. Hal itu, misalnya, terdapat pada ayat-ayat berikut ini.

QS. Al Baqarah (2): 29
" Dia lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di Bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Di situ digambarkan betapa Allah menciptakan segala, sesuatu di Bumi untuk manusia. Kemudian Dia memproses langit yang tujuh. Di ayat ini Allah menggunakan kata 'langit', untuk atmosfer. Kenapa demikian, karena langit tersebut ternyata diproses setelah Bumi terbentuk.

Jika yang dimaksudkan adalah langit alam semesta, hal itu menjadi tidak cocok. Karena sesungguhnya proses terbentuknya langit semesta lebih dulu dibandingkan dengan Bumi. Planet Bumi adalah bagian dari langit semesta, disamping miliaran matahari dan triliunan planet yang ada.

Ayat lain yang menunjukkan 'langit' sebagai atmosfer terdapat pada ayat-ayat berikut ini.

QS. Ruum (30): 48
" Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba Nya yang dikehendaki Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira."

Karena 'langit' di sini dikaitkan dengan hujan, kita lantas bisa mendapatkan gambaran bahwa yang dimaksudkan adalah atmosfer. Maka, ketika Allah menyebutkan bahwa langit tersebut ada tujuh, orientasi pemahaman kita menuju kepada lapisan-lapisan atmosfer yang memang ada tujuh lapis, yaitu: Troposfer, stratosfer, ozonosfer, mesosfer, ionosfer, eksosfer, dan magnetosfer.

Pemakaian kata 'langit' untuk dua hal yang berbeda ini seringkali membingungkan mereka yang kurang akrab dengan masalah astronomi. Mereka rancu menyamakan antara atmosfer dengan langit ruang angkasa.

Hal itu, misalnya, terlihat dari pemahaman mereka terhadap ayat ayat berikut ini.

QS. Al Baqarah (2): 22
Dialah Yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui."

QS. Al anbiyaa (21): 32
" Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya."

Ayat-ayat di atas menceritakan bahwa langit berfungsi sebagai atap. Hal ini memang cocok dengan fungsi atmosfer sebagai pelindung Bumi. Keberadaan atmosfer telah melindungi Bumi dari 'serangan' batu-batu langit yang setiap hari berjatuhan ke arah Bumi. Batu-batu yang masuk ke atmosfer Bumi telah dihadang olehnya, untuk kemudian dibakar oleh gesekan udara yang memiliki kecepatan putar lebih dari 1600 km per jam. Jadi dalam hal ini, atmosfer telah berfungsi sebagai atap yang melindungi Bumi.

Persoalannya menjadi lain ketika kita berbicara tentang langit yang bukan atmosfer. Karena langit angkasa luar tersebut berupa ruang yang sangat besar, berisi triliunan benda langit. Bukan berupa lapisan-lapisan udara seperti yang terdapat dalam atmosfer kita.

Maka, ketika Allah menyebutnya sebagai berlapis tujuh, cara pemahamannya berbeda dengan memahami atmosfer Bumi. Disinilah banyak yang terjebak pada pemahaman yang rancu antara keduanya.

Kerancuan itu, misalnya, terlihat dari pemahaman langit sebagai atap. Banyak beredar pemahaman di kalangan umat Islam, katanya, langit alam semesta ini berbentuk atap, sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat di atas. Padahal penjelasan itu terkait ke langit atmosfer. Bukan langit semesta.

Sehingga, tafsir yang muncul terhadap langit berlapis tujuh itu menjadi begitu sederhana dan naif. Bahwa, langit alam semesta dipersepsi bertumpuk-tumpuk seperti kue lapis. Lapis pertama adalah langit pertama, lapis kedua adalah langit kedua dan seterusnya sampai langit yang ke tujuh.

Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dan bisa menjadi bahan olok-olok yang tidak mengenakkan hati dari orang-orang yang tidak suka kepada Islam. Tentu, kita harus memberikan penafsiran yang lebih proporsional, sesuai kenyataan ilmiah.

LANGIT PERTAMA

Barangkali kita telah sepaham, bahwa yang disebut langit adalah 'ruang' tak berhingga besar yang terhampar di atas kita. Baik bagi kita yang berada di Indonesia, maupun yang di balik Bumi Indonesia, yaitu di Amerika. Sekali lagi langit adalah ruangan raksasa yang berisi triliunan benda langit seperti planet, bulan, meteor, matahari, nebula, galaksi, superkluster, dan lain sebagainya. Termasuk Bumi kita ini berada di dalam langit. Jadi langit adalah 'ruang angkasa'.

Nah, Allah menginformasikan di dalam Al Qur'an bahwa langit itu ada tujuh tingkat. Langit yang pertama adalah langit yang dihuni oleh manusia dan makhluk-makhluk berdimensi 3, seperti binatang, tumbuhan dan benda-benda mati, yang terdapat di planet Bumi. Ditambah lagi, segala benda langit yang mengisinya. Itu semua adalah makhluk di langit pertama. Langit pertama itu di dalam istilah agama disebut sebagai 'Langit Dunia'.

Allah telah memberikan gambaran yang menarik di dalam Al Qur'an, tentang langit Dunia itu.

QS. Fushshilat (41): 12
Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Artinya, seluruh ruang angkasa yang berisi triliunan bintang, matahari, galaksi, nebula, meteor, dan segala benda langit termasuk Bumi itu, oleh Allah disebut sebagai langit Dunia. Kata 'Dunia' memiliki arti 'dekat'. Jadi, maknanya menjadi langit yang dekat.

Padahal sebagaimana kita tahu, bahwa langit yang disebut 'dekat' oleh Allah itu bukanlah jarak yang dekat bagi manusia. Saya sudah pernah menyampaikan bahwa jarak bintang yang terdekat saja membutuhkan waktu 428 tahun untuk datang ke sana. Itu pun kalau kita menggunakan pesawat tercepat milik manusia, misalnya Challenger, atau Columbia yang berkecepatan 20.000 km per jam.

Kalau kita menggunakan kecepatan yang lebih tinggi, katakanlah cahaya sebagai kecepatan puncak di alam semesta ini waktu tempuhnya juga masih sangat lama, yaitu butuh waktu 8 tahun, baru sampai di bintang terdekat itu. Apalagi untuk menuju bintang-bintang yang lebih jauh. Ada yang membutuhkan waktu sejuta tahun. Ada pula yang memerlukan waktu 1 miliar tahun. Bahkan yang terjauh bisa membutuhkan waktu 10 miliar tahun!

Jadi, Langit Dekat itu, bukanlah langit yang kecil dan gampang kita tempuh. Usia kita yang cuma puluhan tahun ini tidak berarti apa-apa untuk menempuh jarak antar bintang. Apalagi untuk mengembara dan mengarungi alam semesta. Sama sekali tidak mungkin!

Padahal kita sudah menggunakan sebuah cara yang juga mustahil', yaitu naik pesawat dengan 'kecepatan cahaya'. Kenapa tidak mungkin? Karena sungguh, tidak ada benda apa pun di alam semesta yang bisa dipercepat mencapai kecepatan cahaya. Benda tersebut bakal hancur, semburat menjadi partikel-partikel kecil sub atomik. Secara lebih detil, akan saya jelaskan pada bagian lain.

Ada juga yang tidak percaya dan mempertanyakan: apakah betul kecepatan tertinggi di alam semesta ini adalah cahaya? Ya, begitulah sains menbuktikan. Memang ada semacam 'angan-angan' dan harapan dari beberapa kalangan supaya di alam semesta ini ada kecepatan yang lebih tinggi dari cahaya, supaya mereka bisa menjelaskan beberapa hal yang muskil.

Akan tetapi, sampai sekarang keinginan itu tidak pernah bisa dibuktikan. Kecepatan tertinggi di alam semesta sampai sekarang, tetap adalah kecepatan cahaya, yaitu 300.000 km per detik. Maka seluruh penjelasan tentang gerak di alam semesta ini masih harus berpatokan pada kecepatan cahaya tersebut. Sehingga, perhitungan relativitas waktu pun masih diukur dengan kecepatan cahaya.

Jadi, kembali lagi kepada alam semesta, ternyata alam semesta kita ini memang demikian besarnya. Diperkirakan diameternya mencapai 30 miliar tahun cahaya. Artinya, jika cahaya mencoba menyeberangi alam semesta. dari tepi kiri menuju tepi kanan, ia butuh waktu selama 30 miliar tahun! Sungguh sebuah ukuran yang sangat besar!

Apalagi manusia. Jika manusia menyeberangi alam semesta dengan menggunakan pesawat ulang alik berkecepatan 20 km per jam, maka waktu yang diperlukannya adalah sekitar 1,62 miliar miliar tahun, alias 1,62 dengan sepuluh pangkat 18 tahun. Sebuah hal yang sangat muskil dilakukan oleh manusia!

Diperkirakan alam semesta ini memuat partikel sejumlah 10 pangkat 81, yang tersebar di seluruh penjuru langit. Di antaranya, yang terbanyak adalah yang berada di pusat alam semesta. Yang lain tersebar dalam bentuk benda-benda langit dan debu angkasa. Termasuk, partikel-partikel pembentuk matahari, bintang, nebula, dan planet Bumi.

Secara sederhana, alam semesta ini boleh diumpamakan seperti sebuah bola raksasa yang memuat triliunan benda langit. Mulai dari yang terkecil, debu-debu angkasa, batu meteor, batu komet, batu asteroid, satelit, planet, matahari, bebagai jenis bintang-bintang, galaksi, sampai yang terbesar, super cluster.

Seluruh benda langit itu membentuk sistem saling tarik-menarik dan saling 'mengikat' lewat gaya gravitasi. Coba bayangkan, ada triliunan kelereng yang sedang mengambang di awang-awang. Triliunan benda itu semuanya bergerak. Tidak ada yang diam! Dan 'sedikit' sekali terjadi tabrakan, terutama pada kelereng-kelereng yang berukuran besar. Karena masing-masing kelereng itu memiliki lintasan geraknya masing-masing. Kecuali benda-benda langit yang bergerak bebas dan tidak memiliki lintasan orbit.

Kita melihat sebuah 'demonstrasi' kekuatan yang Maha Dahsyat, yang mengatur keseimbangan gerakan itu. Jika tidak, maka sungguh seluruh benda langit itu akan saling bertabrakan, dan menjadi kacaulah langit kita.

Akan tetapi, yang terjadi bukan begitu. Meskipun sudah berlangsung selama 12 miliar tahun, benda-benda langit itu bergerak secara harmonis. Benda-benda langit yang berukuran besar, memiliki dua jenis gerakan. Gerakan pertama adalah gerakan berputar pada dirinya sendiri, yang dikenal sebagai gerakan rotasi. Sedangkan gerakan kedua adalah gerakan melingkari benda yang lebih besar dari dirinya, yang dikenal sebagai gerakan revolusi.

Jadi bisa kita bayangkan, betapa benda yang paling kecil adalah benda yang paling 'pusing'. Ambillah contoh, Bulan. Bulan adalah satelit Bumi. la berputar pada dirinya sendiri. Selain itu, ia juga mengitari Bumi pada lintasan orbitnya yang berjarak sekitar 1 menit cahaya alias sekitar 18 juta km dari Bumi.

Lintasan itu memiliki pola yang tetap. Sehingga pergerakan Bulan bisa dihitung secara akurat oleh manusia. Katakanlah, waktu terjadinya gerhana Bulan. Manusia telah bisa memperkirakan kapan bakal terjadi gerhana Bulan di tahun tahun mendatang. Karena itu, pergerakan bulan ini bisa dijadikan patokan penanggalan alias kalendar. Termasuk kalendar Hijriyah yang digunakan oleh umat Islam. Satu kali perputaran Bulan mengelilingi Bumi membutuhkan waktu 29,5 hari.

Bukan hanya bulan yang bergerak, tetapi juga Bumi. Planet yang memuat sekitar 5 miliar manusia ini berputar pada dirinya sendiri. Satu kali rotasi menghabiskan waktu 24 jam alias sehari. Selain itu juga berputar mengelilingi matahari dalam kurun waktu 365,25 hari, satu kali putaran, yang disebut sebagai setahun.

Maka kita melihat di sini, bahwa bulan mengelilingi Bumi pada periode tertentu, dengan cara tertentu. Dan kemudian, Bumi bersama Bulan, mengelilingi matahari pada periode tertentu dengan cara tertentu pula.

Nah, apakah Matahari juga bergerak seperti itu? Ternyata ya. Matahari yang menjadi pusat pergerakan sembilan planet termasuk Bumi ini, ternyata juga bergerak berotasi dan berevolusi. Selama sekitar 5 miliar tahun Matahari bergerak berirama bersama kesembilan planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto; mengelilingi sebuah Bintang yang berukuran sangat besar yang berada di pusat Galaksi Bima sakti.

Galaksi Bima Sakti beranggotakan sekitar 100 miliar matahari. Kesemuanya berputar mengelilingi pusat galaksi yang berbentuk cakram. Bumi dan tatasurya kita terletak di salah satu wilayah agak ke pinggir dari cakram tersebut.

Maka, Dalam satu galaksi ini saja kita bisa 'melihat' betapa ada bermiliar-miliar benda langit yang sedang bergerak dalam sebuah irama yang sangat harmonis. Ratusan miliar matahari, dan triliunan planet, asteroid, satelit, serta berbagai batu angkasa sedang 'menari-nari' dalam komposisi irama galaksi Bima Sakti yang sangat mengagumkan.

Namun, dari data Astronomi juga diketahui bahwa jumlah galaksi di alam semesta ini ternyata sangatlah banyak., Bisa mencapai ratusan miliar galaksi. Bahkan boleh jadi triliunan. Setiap saat, para ahli astronomi bisa menemukan sejumlah gugusan bintang alias galaksi lewat teleskop Hubble atau Spitzer atau Compton.

Ternyata, bukan hanya matahari atau bintang-bintang yang bergerak secara berirama dalam satu gugusan. Melainkan, galaksi-galaksi itupun bergerak berotasi dan revolusi mengelilingi sebuah galaksi yang sangat besar. Tidak kurang dari 100 miliar galaksi diperkirakan bergerak berirama membentuk gugusan galaksi yang disebut Supercluster. Lagi-lagi kita melihat sebuah orchestra alam semesta yang luar biasa dahsyatnya, dalam sebuah parade triliunan matahari yang 'menari-nari' dengan cantik sekali.

Sampai disinikah besarnya alam semesta? Ternyata tidak. Gerakan-gerakan berputar dan berirama itu terus membesar, membesar dan membesar. Dari Bulan mengelilingi Bumi, kemudian mengelilingi Matahari, lantas mengelilingi pusat galaksi, dan berevolusi mengitari pusat Supercluster, diperkirakan masih terus membentuk gugusan gugusan yang lebih besar yang belum ketahuan tepinya. Meskipun, para. ahli menyimpulkan alam semesta ini besarnya terbatas pada diameter 30 miliar tahun cahaya. Tapi, disinilah manusia mulai merasakan situasi 'kritis' atas pemahamannya terhadap alam semesta. Mereka dihadang oleh sebuah 'Kekuasaan' dan 'Kecerdasan' yang Sangat Misterius, yang sedang menggelar sebuah Orkestra Maha Dahsyat dalam skala yang tidak terbayangkan .

]]>